May 9, 2026, oleh Humas Universitas

Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si. Dalam Kuliah Tamu bertajuk “Sosialisasi Kebijakan Arahan Riset Nasional BRIN” di Ruang Sidang Senat UMM, Sabtu (09/05/2026). (Foto: Faqih Humas)

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendapat apresiasi tinggi dari Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si. Dalam Kuliah Tamu bertajuk “Sosialisasi Kebijakan Arahan Riset Nasional BRIN” di Ruang Sidang Senat UMM, Sabtu (09/05/2026), ia menyebut Kampus Putih sebagai perguruan tinggi swasta yang paling agresif dan progresif dalam membangun kolaborasi konkret dengan dunia industri.

“UMM itu saya lihat perguruan tinggi swasta yang paling agresif dan progresif soal berhubungan dengan industri. Sesuai dengan mottonya, ‘Inovasi Mandiri dan Berdampak’, ini menunjukkan tanda-tanda kuat bahwa UMM sedang bertransformasi menjadi Innovation University,” tegas Arif di hadapan pimpinan dan puluhan peneliti UMM.

Menurutnya, transisi menuju Innovation University menuntut institusi pendidikan untuk tidak sekadar berkutat pada penciptaan pengetahuan dasar (basic research) atau membangun advanced lab. Kampus dituntut untuk memperkuat applied research dan industrial engagement. Langkah agresif UMM dinilai sangat tepat guna menjembatani fenomena Valley of Death (lembah kematian riset), sebuah kondisi di mana banyak hasil inovasi kampus layu sebelum berkembang karena gagal diserap oleh kebutuhan riil pasar.

Lebih jauh, Arif memaparkan urgensi riset di tengah ancaman krisis iklim, perubahan geopolitik, dan disrupsi teknologi masif seperti Agentic AI dan transisi energi. Merespons hal tersebut, ia secara terbuka mengundang UMM untuk memaksimalkan fasilitas BRIN dan memanfaatkan skema pendanaan bersama . Ia bahkan secara spesifik menantang peneliti UMM untuk menggarap pengolahan critical mineral, seperti rare earth yang terkandung di dalam lumpur Lapindo, mengingat lokasi operasional UMM yang strategis di Jawa Timur.

Merespons tantangan dan apresiasi tersebut, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyatakan bahwa Kampus Putih memang tengah mengonsolidasikan seluruh potensinya menjadi sebuah ekosistem Solution Center of Excellence (CoE). Melalui terobosan micro-credential serta keberadaan unit strategis seperti Direktorat Saintek dan PT Hilirisasi Teknologi (PT Hintek), UMM berupaya keras mengawal inovasi mahasiswa dan dosen langsung ke sektor hilir.

“Kita ingin mendalami produk yang sudah ada di pasar, memodifikasinya agar kualitasnya lebih baik dan matching dengan kebutuhan industri. Saat ini, fondasi pertumbuhan ekonomi nasional masih rapuh karena sangat didominasi sektor konsumsi,” urai Nazaruddin.

Ia juga menekankan, jika perguruan tinggi berani menginisiasi inovasi yang menguatkan sektor riil seperti industri pertanian, UMKM lokal, dan teknologi terapan, kampus dapat menjadi lokomotif penggerak tren ekonomi. “Katakanlah kita dorong dan naikkan 1-2% saja menuju struktur ekonomi investment based yang berbasis riset dan inovasi, bangsa ini pasti akan berubah pesat. Ke sanalah UMM melangkah,” pungkasnya.

Kolaborasi strategis antara UMM dan BRIN ini diharapkan menjadi akselerator agar riset tidak lagi sekadar menumpuk di perpustakaan sebagai literatur, melainkan terhilirisasi menjadi solusi ekonomi dan teknologi bagi kemajuan Indonesia.(*faq)

 

Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman