April 17, 2026, oleh

Kala itu, dua karang yang dimaksud adalah blok Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet, dua kutub utama dalam pusaran Perang Dingin. Dalam konteks itu, politik luar negeri bebas aktif lahir dari kesadaran bahwa Indonesia tidak boleh terseret arus rivalitas kekuatan besar.
Namun dunia hari ini tidak lagi hanya memiliki dua karang. Yang muncul adalah gugusan banyak karang: AS, China, Rusia, Jepang, Korea Selatan, Uni Eropa, bahkan kekuatan regional menengah yang semakin berpengaruh. Dengan realitas itu, diplomasi Indonesia tampak sedang menavigasi di antara banyak karang sekaligus.
Dalam dua pekan awal April ini, diplomasi itu menunjukkan perkembangan terkini. Pada 13 April lalu, Indonesia dan AS menyepakati peningkatan kerja sama pertahanan melalui kemitraan strategis yang mencakup keamanan maritim, peningkatan kapasitas militer, hingga kolaborasi teknologi pertahanan melalui Major Defense Cooperation Partnership (MDCP). Langkah ini menegaskan posisi Indonesia sebagai mitra penting AS dalam stabilitas kawasan Indo-Pasifik tanpa harus terikat dalam aliansi militer formal.
Menariknya, pada tanggal yang sama Presiden Prabowo melakukan kunjungan ke Rusia dan bertemu Presiden Vladimir Putin untuk memperkuat kerja sama strategis di bidang energi, ekonomi, dan pertahanan. Sehari berikutnya, mempererat komunikasi dengan Eropa melalui pertemuan dengan Presiden Perancis Emmanuel Macron.
Sebelumnya, pada akhir Maret dan awal April, Prabowo lebih dahulu memperdalam kemitraan dengan Jepang dan Korea Selatan, terutama dalam investasi teknologi dan pengembangan industri. Di saat yang sama, Indonesia juga tetap menjaga kedekatan ekonomi dengan China sebagai mitra dagang utama dan investor strategis.
Rangkaian langkah ini menunjukkan pola diplomasi Indonesia yang memperluas ruang manuver dengan menjalin hubungan simultan dengan seluruh pusat kekuatan global. Indonesia tampak sedang mempraktikkan politik luar negeri bebas-aktif dalam versi yang lebih adaptif terhadap dunia multipolar saat ini.
Jika dibaca sebagai satu pola, terlihat sebuah strategi bahwa Indonesia berusaha hadir di semua meja sekaligus tanpa memilih satu kubu permanen. Sepertinya inilah wajah baru politik bebas-aktif. Lebih cair, lebih pragmatis, sekaligus lebih berisiko.
Tantangan
Strategi “mendayung di antara banyak karang” bukan tanpa tantangan. Justru semakin banyak karang, semakin tinggi risiko benturan.
Pertama, rivalitas global hari ini jauh lebih kompleks dibanding era Perang Dingin. Ketegangan AS-China meluas dari perdagangan hingga teknologi dan militer. Konflik Rusia dengan negara Eropa dan AS akibat perang di Ukraina menciptakan garis pembelahan geopolitik baru. Di Indo-Pasifik, isu Taiwan dan Laut China Selatan terus meningkatkan ketegangan strategis.
Dalam situasi seperti ini, setiap kedekatan diplomatik mudah ditafsirkan sebagai keberpihakan. Ketika Indonesia memperkuat kerja sama pertahanan dengan AS, Beijing tentu akan mengamati dengan hati-hati. Ketika Jakarta membuka ruang kerja sama baru dengan Rusia, Washington juga melakukan pembacaan strategisnya sendiri. Diplomasi multi-arah ini selalu membawa konsekuensi persepsi.
Kedua, ada risiko inkonsistensi narasi. Bebas-aktif bukan berarti bebas tanpa arah. Jika tidak diiringi visi strategis yang jelas, diplomasi multi-mitra ini bisa terlihat sekadar reaktif tanpa tujuan geopolitik jangka panjang. Indonesia berisiko terlihat sebagai swing state, bukan kekuatan menengah dengan agenda global.
Dunia memang sedang bergerak menuju era multipolar. Tidak ada lagi satu hegemon dominan, tetapi juga belum terbentuk tatanan internasional baru yang mapan. Dalam situasi transisi seperti ini, negara-negara menengah seperti Indonesia memiliki ruang manuver yang besar jika mampu memainkannya dengan tepat.
Dalam konteks itu, Indonesia adalah negara dengan modalitas penting. Ekonomi terbesar di Asia Tenggara, anggota G20, demokrasi besar di Global-South, dan penghubung antara Indo-Pasifik dan Samudra Hindia. Artinya, diplomasi Indonesia tidak lagi cukup hanya defensif. Dunia kini mengharapkan Indonesia menjadi stabilizer, penyeimbang yang menjaga ruang dialog tetap terbuka.
Jika berhasil, strategi “mendayung di antara banyak karang” dapat menghasilkan tiga keuntungan sekaligus, yakni diversifikasi ekonomi, modernisasi pertahanan, dan peningkatan posisi tawar geopolitik. Namun jika gagal, Indonesia justru dapat terjebak dalam tekanan silang kekuatan besar.
Jika menoleh ke belakang, sesungguhnya fondasi strategi ini sudah dibangun sejak beberapa tahun terakhir. Indonesia terbiasa menjaga hubungan baik dengan berbagai kekuatan sekaligus. Kepemimpinan Indonesia dalam G20, peran aktif di ASEAN, serta tradisi non-blok memberi legitimasi historis bagi diplomasi multi-arah.
Prabowo tampaknya melanjutkan warisan ini dengan pendekatan yang lebih langsung dan personal diplomacy. Intensitas kunjungan luar negeri yang tinggi menunjukkan upaya membangun kepercayaan strategis lintas blok. Prabowo menerjemahkan politik bebas-aktif dengan aktif masuk ke banyak jaringan kerja sama sekaligus.
Meski begitu, ada beberapa hal penting agar strategi “mendayung di antara banyak karang” tidak berubah menjadi navigasi tanpa kompas.
Pertama, Indonesia perlu memperjelas grand strategy luar negeri. Setiap kerja sama harus terlihat sebagai bagian dari visi besar. Apakah untuk industrialisasi, keamanan maritim, transisi energi, atau kepemimpinan Global-South. Tanpa narasi strategis, diplomasi akan tampak sporadis.
Kedua, diversifikasi perlu diimbangi kemandirian. Mendekat ke banyak kekuatan tidak boleh menciptakan ketergantungan baru. Prinsipnya bukan “semua dirangkul”, tetapi semua dimanfaatkan untuk kepentingan nasional.
Ketiga, Indonesia perlu memainkan peran sebagai bridge builder. Justru karena memiliki hubungan baik dengan banyak pihak, Indonesia memiliki modal untuk menjadi mediator informal di tengah rivalitas global. Dunia membutuhkan ruang netral dan Indonesia memiliki kredensial historis untuk mengisinya.
Keempat, konsistensi komunikasi diplomatik menjadi kunci. Pesan Indonesia harus jelas, bahwa kerja sama dengan satu negara tidak pernah dimaksudkan untuk melawan negara lain.
Di sinilah ujian diplomasi hari ini. Lanskap dunia telah berubah dan Indonesia tidak lagi berhadapan dengan dua karang raksasa, melainkan dengan lautan yang dipenuhi banyak karang dengan arah arus yang saling bertabrakan.
Keberhasilannya bukan ditentukan oleh seberapa dekat Indonesia dengan satu kekuatan besar, melainkan oleh kemampuannya menjaga otonomi strategis di tengah kompetisi global yang semakin keras. Mendayung di antara banyak karang membutuhkan keseimbangan, ketelitian membaca arus, dan keberanian menentukan arah sendiri.
*) Najamuddin Khairur Rijal, dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Muhammadiyah Malang