May 8, 2026, oleh Humas Universitas

Direktur RS UMM Prof Djoni Djunaedi menunjukkan hasil kliping berita koran yang didominasi Jawa Pos dan Radar Malang. (Nabila Amelia/Radar Malang)

RADAR MALANG – Suasana ruang kerja Djoni Djunaedi di Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang tampak sederhana. Namun, ada satu sudut yang langsung mencuri perhatian: lemari kaca gelap berisi tumpukan potongan koran yang tersusun rapi.

Sebagian potongan ditempel, sebagian lain dimasukkan ke dalam map transparan. Mayoritas berasal dari Jawa Pos dan Radar Malang. Bagi Djoni, kliping itu bukan sekadar arsip, melainkan catatan penting tentang berbagai peristiwa yang layak diingat.

Dari Berita Kesehatan hingga Isu Sosial

Beragam topik tersimpan dalam koleksi klipingnya. Mulai isu kesehatan, kebijakan publik, hingga fenomena sosial yang sedang ramai dibicarakan masyarakat.

“Kalau ada yang menarik atau bisa jadi pelajaran, biasanya saya simpan,” ujar Djoni Djunaedi.

Kliping-kliping tersebut rutin diperbarui. Namun, beberapa berita tetap dipertahankan karena dianggap masih relevan hingga sekarang.

Tiga Koran Setiap Pagi Jadi Rutinitas

Kebiasaan menggunting berita bermula dari rutinitas membeli koran setiap pagi. Selama sekitar tiga dekade, Djoni hampir tidak pernah melewatkan kebiasaan tersebut.

Sebelum berangkat kerja, ia biasa mampir ke dua loper langganannya di kawasan Jalan Kawi, Kota Malang. “Biasanya saya ambil tiga koran,” katanya.

Hubungannya dengan para loper pun cukup dekat. Bahkan, salah satu penjual koran kerap memberi kabar jika hendak pulang kampung dan tidak berjualan keesokan harinya.

Mulai Membaca Koran Sejak Usia Delapan Tahun

Kedekatan Djoni dengan media cetak sudah dimulai sejak kecil saat tinggal di Mojokerto. Ayahnya, almarhum Djoyo Djunaedi, rutin berlangganan koran di rumah

Dari situlah ia mulai mengenal berbagai bacaan seperti Soerabaiasch Handelsblad, Sin Po, hingga Pewarta Soerabaia. Saat kecil, ia paling menyukai rubrik komik dan anekdot.

“Dulu saya paling suka bagian komik dan anekdot,” kenangnya.

Berita Lokal Dinilai Lebih Dekat dengan Kehidupan

Saat menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga pada era 1960-an, minat bacanya berkembang ke isu nasional dan politik.

Ia masih mengingat ramainya pemberitaan Presiden Soekarno dengan kampanye “Ganyang Malaysia” kala itu.

Seiring perkembangan media, Djoni sempat membaca Kompas dan majalah Surya sebelum akhirnya rutin mengikuti Jawa Pos dan Radar Malang.

“Berita lokal itu penting, lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari,” tutur Djoni Djunaedi.

Kliping Jadi Bahan Diskusi dan Refleksi

Selain berita utama, Djoni juga gemar membaca kolom opini. Ia kerap mengikuti tulisan para dokter dan akademisi karena dinilai mampu menjadi ruang refleksi.

Beberapa potongan opini bahkan dijadikan bahan diskusi di ruang kerjanya. Salah satunya ketika membahas isu kualitas dokter asing yang menurutnya harus dijawab dengan peningkatan kompetensi tenaga medis lokal.

“Sebenarnya kita tidak kalah, yang penting mau meningkatkan kualitas,” tegasnya.

Meski belum banyak menulis opini di media massa, Djoni tetap aktif menuangkan gagasannya melalui buku bertema kesehatan, salah satunya Wanita Indonesia Sehat.

Bagi Djoni, membaca koran bukan sekadar rutinitas lama. Kebiasaan itu menjadi cara untuk terus mengikuti perkembangan zaman sekaligus menjaga tradisi literasi yang sudah melekat sejak kecil.