November 7, 2025, oleh Humas Universitas

Bahlil Lahadalia menanggapi sorakan mahasiswa UMM dengan menantang debat terbuka dan menyebut kritik sebagai gizi demokrasi. (Foto / istimewa)

SEWAKTU.id – Riuh tepuk tangan dan sorakan mahasiswa memenuhi hall Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) saat Bahlil Lahadalia naik ke podium.

Sebagian bersorak, sebagian menyimak. Namun, bukan Bahlil namanya kalau mundur. Ia justru tersenyum dan menantang balik.

“Kritik itu gizi bagi saya. Kalian boleh debat dari jam 9 pagi sampai jam 9 pagi lagi, asal pakai data!” ujarnya disambut tepuk tangan keras.

Momen itu terjadi dalam kuliah umum bertajuk Energi untuk Indonesia Maju pada akhir Oktober 2025. Sorakan mahasiswa muncul saat Bahlil menjelaskan soal program energi berbasis etanol yang sempat disebut “hoaks” di media sosial.

Di tengah suasana yang sedikit panas, Bahlil mencoba mencairkan dengan gaya khasnya — santai tapi tajam.

“Om suka kalau kalian agak gimana-gimana gitu,” katanya dengan senyum lebar.

Sebagai mantan aktivis mahasiswa, ia paham bagaimana rasanya berdebat di forum publik. Ia pun menegaskan, demokrasi tak bisa dijalankan tanpa keberanian bertanya dan berpikir kritis.

“Saya dulu juga sering protes ke menteri waktu masih mahasiswa. Tapi sekarang giliran saya yang berdiri di depan kalian,” ujarnya disambut tawa.

Sorakan mahasiswa bermula dari penjelasan Bahlil tentang B50 dan S10, kebijakan bahan bakar campuran berbasis minyak sawit dan etanol.

Sebagian mahasiswa menilai program itu belum jelas secara teknis. Namun, Bahlil langsung menegaskan:

“Yang bilang ini hoaks adalah mereka yang tidak mau kuota impornya dipangkas. Ini soal kedaulatan energi bangsa.”

Menurutnya, etanol adalah bahan baku bersih yang diambil dari tebu, jagung, dan singkong, dan saat ini sudah digunakan di berbagai negara seperti Amerika Serikat, Brasil, dan India.

Ia pun menantang mahasiswa untuk membuka data dan berdiskusi, bukan sekadar meyakini apa yang viral di media sosial.