July 8, 2026, oleh

MALANGPOSCOMEDIA – Pustaka PTM dr Resti Putri Pratiwi ini juga mendapatkan apresiasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Malang. Untuk itu, Pustaka PTM dijadikan sebagai panduan pelayanan khusus pasien PTM di seluruh Puskesmas maupun Rumah Sakit milik Pemerintah di Kabupaten Malang.
“Pustaka PTM ini berisi panduan pelayanan khusus dan tatalaksana serta komunikasi pasien PTM. Melalui buku ini, tim medis dapat memantau perkembangan pasien PTM dan dapat mengendalikan kondisi kesehatan pasien PTM,’’ katanya.
Ditambahkan Resti, dokter yang menangani tidak hanya mengontrol obat. Tapi juga mengubah pola hidup pasien. Mulai dari perubahan pola makan, pola tidur dan pola pikir.
“Karena di buku ini, selain berisi lembaran kondisi medis pasien berikut dengan obat yang diberikan, juga ada edukasi terkait kesehatan. Seperti kondisi organ tubuh yang baik, makanan sehat yang dikonsumsi oleh pasien, edukasi terkait gejala stroke maupun faktor risiko penyakit diabetes militus,’’ kata Resti.
Dia mengatakan untuk edukasi yang tercantum pada Pustaka PTM bersumber dari website Kementrian Kesehatan RI. Yang tentu saja menurut dia sangat valid kebenarannya, dan bisa menjadi panduan oleh pasien.
Resti menceritakan, menciptakan Pustaka PTM ini dimulai pada awal tahun 2024 lalu. Saat itu dia merasa kawatir dengan pasien PTM yang datang dan berobat di Puskesmas Poncokusumo.
“Pasien PTM tidak memiliki panduan rekam medis. Sehingga obat apa yang diberikan, diminum atau tidaknya obat yang diberikan, tidak bisa terpantau,’’ kata alumni Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini.
Awalnya, wanita berjilbab ini menciptakan panduan untuk pasien PTM ini dari lembaran kertas. Lembaran itu wajib dibawa saat mereka kontrol ke Puskesmas Poncokusumo. Tapi demikian, banyak pasien yang kehilangan lembaran panduannya saat kontrol. Sehingga membuat dokter yang memeriksa pun kebingungan dengan riwayat pasien, serta obat apa yang diberikan.
“Dari situ kemudian, menggunakan uang pribadi saya membuat buku ini,’’ katanya. Dia mengatakan Pustaka PTM cetak pertama pada Maret 2026 lalu. Di dalam buku ini terdapat data lengkap pasien, kemudian skrining PTM, penunjang, diagnosis PTM, terapi farmakologis maupun terapi non farmakologi, konseling dan edukasi PTM, juga promotif dan preventif PTM,’’ tambah Resti.
Dia mengatakan kali pertama hanya mencetak untuk 20 buku. Alasan mencetak sedikit, karena tidak memiliki anggaran. “Itu anggarannya pribadi awalnya,’’ ungkap wanita kelahiran 23 Juni 1986 ini.
Pustaka PTM itupun dibagikan kepada pasien. Tidak semua pasien PTM dapat, karena minimnya jumlah. Pihaknya memilih pasien yang prioritas, dan membutuhkan perhatian ekstra yang mendapatkan.
Pasien yang menerima Pustaka PTM pun senang dengan buku itu. Karena dengan adanya buku tersebut, dia cukup menunjukkan saja kepada tim medis, saat kontrol. Selain juga mengatakan keluhan yang dirasakan.
“Kalau dulu pasien mengkonsumsi obat apa kami tidak tahu. Tapi dengan buku ini, dokter tidak perlu meraba-raba lagi obat apa yang diberikan kepada pasien,’’ tambahnya.
Pustaka PTM ini juga tidak hanya berlaku di Puskesmas Poncokusumo. Tapi juga di seluruh rumah sakit. Dokter yang menangani tidak bingung lagi memberikan pelayanan maupun memberikan obat.
“Tapi dokter atau tim medis juga bertanya terkait efek obat yang dikonsumsi pasien. Jika ada yang tidak cocok, maka obat akan diganti,’’ tambah Resti.
Dia mengatakan diterimanya Pustaka PTM oleh pasien mendapat apresiasi dari Kepala Puskesmas Poncokusumo dr Wiwit Wijayati, yang mengarahkan Resti untuk ikut lomba ASN Berprestasi tahun 2024 yang diadakan oleh BKPSDM Kabupaten Malang. Resti setuju. Dia pun mempersiapkan dengan baik keikutsertaannya dalam lomba yang digelar rutin satu tahun sekali ini. Hasilnya, Resti mendapatkan juara 3 untuk kategori ASN Care Excellent (khusus tenaga medis) tahun 2024.
Setelah menduduki juara 3, respon Kepala Puskesmas Poncokusumo semakin meningkat. Bahkan tahun 2025 lalu, Puskesmas Poncokusumo mendanai untuk cetakan Pustaka PTM. Ada puluhan yang dicetak. Sampai kemudian, informasi terkait Pustaka PTM ini terdengar oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, dan mendapatkan apresiasi. Tidak hanya mendapatkan anggaran untuk cetak buku, tapi juga menjadikan Pustaka PTM ini sebagai panduan pasien PTM di seluruh Kabupaten Malang.
“Sekarang masih proses cetak, nanti dibagikan kepada seluruh Puskesmas dan rumah sakit. Buku ini dibagikan kepada pasien PTM untuk disimpan dan dibawa saat mereka kontrol. Saya bahagia tentunya. Karena apa yang kami ciptakan memberikan manfaat kepada orang lain,’’ pungkasnya. (ira ravika/bua)