April 10, 2026, oleh

kompas.com – KETEGANGAN antara Amerika Serikat dan Iran memasuki babak baru. Presiden AS Donald Trump akhirnya bersedia untuk merundingkan 10 poin yang diajukan Iran.
Padahal, sebelumnya, Trump sesumbar ingin menghabisi Iran. AS mengultimatum akan menghancurkan Iran jika tidak segera membuka Selat Hormuz dalam tenggat waktu 48 jam.
Sekitar 90 menit sebelum deadline ultimatum berakhir, Trump membatalkan rencana serangan dan bersedia untuk gencatan senjata selama dua pekan ke depan.
Sikap Trump semacam ini bukanlah sesuatu yang baru. Sejak konflik pecah pada akhir Februari, Trump memang selalu maju-mundur. Awalnya mengancam keras dengan retorika militer, menetapkan ultimatum dramatis, lalu melunak sebelum eskalasi.
Banyak pengamat melihatnya sebagai inkonsistensi Trump. Bahkan muncul istilah satir, yakni TACO: “Trump Always Chickens Out” (Trump selalu pengecut).
TACO sebagai Strategi
Istilah TACO sudah muncul sejak Mei 2025, dalam perbincangan di media sosial masyarakat AS. Istilah ini dibakukan oleh kolumnis Financial Times, Robert Amstrong, untuk menggambarkan pola tingkah Trump yang suka melempar ancaman, tapi di hari berikutnya menciut.
Dan, TACO itu berulang kali ditunjukkan Trump selama ketegangan dengan Iran meningkat sejak 28 Februari lalu.
Bagi pengamat Hubungan Internasional, pola TACO tampak membingungkan. Sebab, diplomasi klasik harusnya menuntut konsistensi sinyal.
Ancaman harus kredibel. Jika terlalu sering ditarik kembali, maka reputasi negara bisa melemah.
Namun, Trump tampaknya tidak bermain dalam kerangka diplomasi klasik semacam itu. Trump justru tampak menikmati itu sebagai strategi, yakni ancam-mundur sebagai metode negosiasi atau kita bisa menyebutnya sebagai “TACO diplomacy”.
Dalam studi hubungan internasional, pendekatan ini sejatinya memiliki akar intelektual. Konsep coercive diplomacy menjelaskan bahwa ancaman tidak selalu dimaksudkan untuk diwujudkan.
Ancaman justru berfungsi sebagai alat menciptakan tekanan psikologis agar lawan memilih kompromi tanpa perang.
Dan, perang adalah kegagalan terakhir, sebab keberhasilan sejati adalah ketika lawan mengalah sebelum tembakan pertama dilepaskan.
Trump sepertinya mentransformasikan logika ini ke dalam konteks berbeda. Trump tidak hanya menaikkan tekanan diplomatik, tetapi juga menjadikannya pertunjukan publik global.
Ancaman disampaikan bukan dalam ruang negosiasi tertutup, melainkan melalui panggung media, konferensi pers, dan media sosial. Dunia tidak hanya menjadi saksi, tapi juga dunia dijadikan audiensnya.
Trump menciptakan krisis, memperbesar ketidakpastian, lalu menawarkan jalan keluar yang tampak sebagai kemenangan tanpa perang.
Ketika gencatan senjata diumumkan, Trump dapat mengklaim dua hal sekaligus: tetap terlihat kuat karena berani mengancam, sekaligus terlihat rasional karena menghindari konflik besar.
Jika kita melihat lebih dalam, strategi Trump ini menunjukkan bahwa sasaran (audiens) sebenarnya bukan hanya Iran. Paling tidak ada dua audiens yang terus Trump kelola secara bersamaan.
Pertama, lawan eksternal yang dipaksa merespons tekanan. Kedua, publik domestik AS yang diharapkan oleh Trump menilai kepemimpinan dirinya melalui persepsi kekuatan.
Dalam politik domestik AS, presiden tidak hanya harus menang secara strategis, tetapi juga secara performatif.
Ancaman militer memberikan citra kepemimpinan tegas. Gencatan senjata memberikan citra negarawan yang menghindari perang mahal.
Bagi Trump, kombinasi keduanya menciptakan narasi kemenangan politik tanpa biaya konflik nyata.
Ketidakpastian Global
Namun, bagi tatanan global, strategi Trump bisa memiliki implikasi lebih luas. Jika diplomasi berubah menjadi siklus ancaman dan de-eskalasi yang berulang, dunia memasuki era ketidakpastian.
Negara-negara lain menjadi sulit membedakan mana ancaman nyata dan mana sekadar taktik negosiasi.
Paradoksnya, justru ketidakpastian itulah yang mungkin oleh Trump dijadikan sebagai sumber kekuatan.
Masalahnya, dunia tidak bisa terus hidup dalam ketidakpastian. Ketika ancaman menjadi rutinitas, respons terhadap ancaman justru bisa berubah ekstrem.
Sikap TACO berpotensi merusak stabilitas jangka panjang. Sebab, diplomasi tradisional dibangun atas kepercayaan dan prediktabilitas. Sementara diplomasi populis, seperti yang dimainkan Trump, bertumpu pada kejutan dan dramatisasi.
Kasus Iran memperlihatkan pergeseran ini. Akibat TACO, konflik tidak lagi bergerak secara linear, tapi bergerak dalam siklus spektakel: ancaman, ketegangan global, reaksi pasar, lalu de-eskalasi mendadak.
Bisa jadi, pertanyaannya bukan apakah Trump benar-benar mundur. Namun, apakah “mundur” itu sejak awal memang bagian dari strategi?
Bisa jadi, publik salah membaca. Bukan Trump gagal menjalankan ancaman, tapi mungkin ancaman itu tidak pernah benar-benar diniatkan untuk diwujudkan. Sebab, ancaman adalah instrumen, bukan tujuan.
Jadi, perlu diakui bahwa “TACO diplomacy” membawa perubahan besar dalam praktik hubungan internasional saat ini, di mana kekuasaan dan kekuatan dijalankan melalui ketidakpastian yang disengaja.
Dalam era populisme global, ancaman bukan selalu tanda perang akan datang. Kadang, ancaman justru adalah bahasa negosiasi itu sendiri.
Dan, ini salah satu pelajaran paling penting dari episode ketegangan antara AS dan Iran. Bagaimana menurut Anda?