February 6, 2026, oleh Humas Universitas

Mahasiswa UMM memamerkan alat pengering gabah untuk mendukung produktivitas produk pertanian. Foto: dok.UMM.

MAKLUMAT – Upaya meningkatkan kualitas produk pertanian terus dilakukan kalangan akademisi. Mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan inovasi pengering gabah berbasis teknologi tepat guna untuk menjawab persoalan klasik petani saat musim hujan.

Inovasi tersebut berupa bed dryer. Ini merupakan alat pengering gabah untuk mempercepat proses pengeringan gabar tidak lagi bergantung pada sinar matahari.

Gagasan ini lahir dari Malikul Arifin, mahasiswa Teknik Industri UMM angkatan 2022. Ide muncul setelah melihat langsung kesulitan petani saat menjemur gabah di musim hujan.

Bukan Riset Kaleng-kaleng

Pengalaman lapangan itu ia dapat bersama tim, setelah melakukan penelitian di Desa Ampeldento, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Saat itu, cuaca yang tidak menentu membuat proses penjemuran tradisional berjalan tidak optimal dan berisiko menurunkan mutu hasil panen.

“Waktu penelitian di lapangan sedang musim hujan. Pengeringan gabah yang manual, jelas tidak efektif. Dari situ kami merancang bed dryer sebagai solusi,” kata Malikul.

Pengering gabah ini memanfaatkan panas hasil pembakaran minyak jelantah, hasil kombinasi dengan kain dan tisu sebagai media pembakaran. Kombinasi tersebut menghasilkan panas yang lebih stabil sehingga pengeringan berlangsung merata dan berkelanjutan.

Butuh Waktu dan Pengembangan

Tak hanya untuk gabah padi, alat ini juga berpotensi untuk mengeringkan hasil pertanian lain seperti jagung dan kopi. “Dengan begitu, manfaat inovasi ini dapat dirasakan lebih luas oleh petani,” jelasnya menambahkan.

Dalam proses pengembangan, tim mahasiswa UMM menghadapi sejumlah tantangan, terutama pada tahap pengelasan dan pemilihan material. Perbedaan karakter bahan besi dan aluminium menuntut ketelitian agar alat tetap aman dan berfungsi optimal.

Saat ini, bed dryer masih berupa prototipe berskala 1:10. Meski demikian, hasil uji coba menunjukkan kinerja menjanjikan. Alat ini mampu menurunkan kadar air gabah hingga kisaran ideal 12–14 persen.

Ke depan, pengering gabah dirancang berkapasitas hingga 500 kilogram gabah dalam waktu sekitar delapan jam dengan suhu optimal 40–50 derajat Celsius.

Pentingnya Inovasi Teknologi

Dosen pembimbing, Dr. Thomy Eko Saputro, S.T., M.Sc., mengapresiasi inovasi tersebut. Menurutnya, bed dryer merupakan contoh nyata peran mahasiswa sebagai problem solver yang mampu menghadirkan solusi aplikatif bagi sektor pertanian.

“Karya ini menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam mengidentifikasi kebutuhan di lapangan, merancang sistem, hingga menguji fungsi alat secara teknis,” ujarnya.

Ia berharap inovasi pengering gabah ini tidak berhenti sebagai proyek akademik semata, melainkan dapat dikembangkan lebih lanjut melalui kerja sama dengan UMKM dan petani, hingga siap digunakan secara luas.