May 29, 2026, oleh

Batuah news-Cara mengolah dan porsi konsumsi yang tepat menjadi kunci utama untuk menghindari ancaman asam urat serta kolesterol tinggi saat menikmati daging kurban.
Dikutip dari Lifestyle, sumber penyakit sebenarnya bukan berasal dari daging sapi atau kambing itu sendiri, melainkan dari kesalahan masyarakat dalam memporsikan, memasak, dan menyimpannya.
Dosen Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Ayu Diawi Ismayawati menjelaskan bahwa daging kurban mengandung protein hewani, lemak, dan purin yang tetap memberikan manfaat kesehatan selama dikonsumsi dalam batas wajar.
Lonjakan Low-Density Lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat serta nyeri sendi akibat kristal asam urat biasanya dipicu oleh konsumsi berlebihan, terutama jika hidangan didominasi jeroan bersantan kental.
“Daging kurban sebenarnya tidak perlu ditakuti, tetapi harus diolah dan dikonsumsi dengan bijak. Yang sering jadi masalah itu bukan dagingnya, melainkan pola konsumsi masyarakat yang berlebihan dan cara memasaknya yang terlalu banyak lemak. Bagian yang paling perlu dibatasi adalah jeroan seperti hati, paru, limpa, usus, hingga otak karena kandungan purinnya jauh lebih tinggi,” katanya dikutip Kamis (28/5/2026).
Masyarakat disarankan menerapkan teknik trimming atau mengupas lapisan lemak putih pada daging segar sebelum mulai dimasak guna mengurangi risiko gangguan kesehatan.
Metode perebusan awal juga sangat direkomendasikan oleh pakar teknologi pangan ini, di mana air rebusan pertama harus dibuang untuk menurunkan kadar purin secara signifikan sehingga hidangan seperti sup bening menjadi lebih aman bagi pencernaan.
“Kalau membuat gulai atau tongseng, santannya jangan terlalu pekat. Lemak yang mengambang di permukaan juga bisa diambil dengan sendok atau menggunakan es batu setelah masakan agak dingin. Teknik tumis air juga bisa jadi alternatif sehat dibandingkan menumis dengan banyak minyak,” lanjut Ayu.
Dalam hal manajemen penyimpanan, kesalahan fatal yang sering dijumpai pada skala rumah tangga adalah kebiasaan mencairkan daging beku, memotong sebagian, lalu memasukkan sisanya kembali ke dalam freezer.
Daging segar sebaiknya langsung dipotong dan dibagi ke dalam wadah atau kantong kecil sesuai takaran sekali masak sebelum disimpan di dalam freezer bersuhu minus 18 derajat Celsius.
Proses pelelehan daging beku pun sebaiknya dilakukan dengan memindahkannya ke chiller, bukan membiarkannya cair di dalam suhu ruangan.
“Siklus pencairan dan pembekuan ulang sangat tidak disarankan karena mempercepat penurunan mutu dan meningkatkan risiko pertumbuhan mikroba. Setiap kemasan sebaiknya diberi label tanggal penyimpanan agar kualitasnya lebih mudah dipantau,” tegasnya.
Orang dewasa yang sehat dianjurkan untuk membatasi konsumsi gizi dari daging matang pada kisaran 50 sampai 100 gram saja per hari.
Keseimbangan sistem metabolisme tubuh harus tetap terjaga lewat pendampingan menu makanan berserat tinggi seperti sayur-sayuran, buah segar, serta konsumsi air putih yang cukup untuk menghambat penyerapan lemak jenuh.
“Prinsip amannya adalah makan secukupnya, pilih daging tanpa lemak, batasi jeroan, kurangi santan dan minyak berlebih, simpan daging dengan benar, serta imbangi dengan sayur, buah, dan air putih yang cukup,” ucapnya.