January 29, 2026, oleh

KOMPAS.com – Isu child grooming mulai membuka mata khalayak untuk lebih memberikan perhatian kepada anak-anak di sekitar kita dari tindakan kekerasan dan pelecehan fisik maupun seksual dari orang dewasa.
Pembahasan ini semakin nyata di warganet Indonesia pada awal Januari 2026 setelah aktris Aurelie Moeremans menceritakan pengalamannya sebagai korban dari sosok bernama fiksi Bobby yang dituangkan melalui buku digital Broken Strings.
Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ratih Eka Pertiwi, S.Psi., M.Psi., Psikolog. menegaskan bahwa child grooming merupakan persoalan serius yang kerap luput dikenali.
Sebab, tindakannya berlangsung secara perlahan, sistematis, dan melibatkan relasi kuasa yang timpang.
“Pelaku sering dipersepsikan sebagai sosok yang baik, peduli, dan penuh perhatian. Akibatnya, korban merasa nyaman bahkan membela pelaku karena terbentuk emotional attachment yang kuat, mirip dengan Stockholm syndrome,” ujar Ratih dikutip dari situs UMM, Rabu (28/1/2026).
Awas fase awal child grooming
Ratih berujar fase awal child grooming tidak menunjukkan kekerasan fisik secara langsung sehingga kerap diabaikan.
Biasanya baru dipahami sebagai child grooming ketika sudah terjadi pelecehan seksual.
Padahal jauh sebelumnya terjadi manipulasi emosional yang meninggalkan dampak psikologis serius bagi korban.
“Proses grooming itu tidak kasat mata, ketika kekerasan baru diakui setelah ada kontak fisik, berarti kita sudah terlambat melindungi anak,” tegasnya.
Usia, posisi, popularitas
Menurut Ratih, relasi kuasa menjadi faktor kuat dalam tindakan child grooming apalagi jika pelaku memiliki usia lebih tua, posisi sosial lebih tinggi, atau popularitas tertentu.
Ketidaksetaraan ini sering berujung ke praktik victim blaming, yang mana korban justru disalahkan atas kekerasan yang dialaminya.
Dengan kondisi demikian korban semakin tidak memiliki untuk berbicara dan mencari pertolongan.
“Ketika korban disalahkan atau dianggap ikut berperan, itu adalah bentuk victim blaming yang sangat merugikan dan justru memperparah trauma psikologis korban,” ujar Ratih.

Kenali perubahan emosi anak
Ratih menuturkan, tanda-tanda anak mengalami child grooming dapat dikenali orangtua melalui perubahan emosi dan perilaku anak.
Misalnya menarik diri dari lingkungan sosial, perubahan suasana hati yang ekstrem, dan kecenderungan menyimpan rahasia dari keluarga.
Risiko terjadinya child grooming semakin besar di era digital sebab pelaku dapat menjangkau anak melalui media sosial, gim daring, dan berbagai platform komunikasi lainnya.
“Jika anak diminta merahasiakan hubungan atau dibuat merasa bersalah saat menolak permintaan orang dewasa, itu sudah merupakan alarm serius yang tidak boleh diabaikan,” tegas Ratih.
Ratih menekankan bahwa pencegahan child grooming membutuhkan kesadaran kolektif dengan relasi keluarga yang hangat, komunikasi terbuka, pendidikan seksual yang sesuai usia, serta pengawasan aktif terhadap aktivitas digital anak.
Perlindungan anak juga membutuhkan keberanian masyarakat untuk mengkritisi relasi yang berpotensi membahayakan.