February 3, 2026, oleh Humas Universitas

Sebanyak 16 mahasiswa Prodi Akuakultur UMM menerapkan ecobrick sebagai solusi mengurangi sampah plastik di Kota Batu. Foo: dok.UMM

MAKLUMAT Masalah sampah plastik kian mendesak dan tak bisa lagi dipandang sebagai urusan kebersihan semata. Ancaman kerusakan lingkungan hingga terhambatnya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) kini menjadi perhatian serius.

Sejumlah mahasiswa Program Studi Akuakultur Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memilih turun tangan dengan menciptakan ecobrick. Sebah metode pemadatan sampah plastik kering ke dalam botol bekas hingga membentuk material padat menyerupai bata.

Aksi tersebut dikemas dalam Pemanfaatan Ecobrick sebagai Solusi Pengurangan Sampah Plastik, 16 mahasiswa prodi Akuakultur terjun ke tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) 3R Dadaprejo Mandiri, Kota Batu, Senin (26/1/2026). Kegiatan ini menjadi bukti peran kampus dalam menjawab persoalan lingkungan dari level paling dasar.

Jalan Tengah Pemanfaatan Sampah

Implementasi yang dilakukan mahasiswa angkatan 2025 berkolaborasi dengan petugas kebersihan setempat. Kegiatan yang dilakukan menangani timbulan sampah plastik rumah tangga yang terus meningkat, dengan metode ecobrick.

“Ecobrick merupakan solusi praktis untuk mengurangi sampah plastik sekaligus mendukung SDGs, khususnya perlindungan ekosistem daratan,” ujarnya, Ketua pelaksana kegiatan, Daffa Rayhan Zaky.

Menurut Daffa, plastik yang tidak terkelola berpotensi mencemari tanah dan air. Karena itu, ecobrick menjadi jalan tengah agar sampah tidak berakhir di lingkungan atau menumpuk di tempat pembuangan akhir.

Tak hanya menekan volume sampah, ecobrick juga memiliki nilai guna. Hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan sederhana, elemen estetika, hingga fasilitas pendukung di area TPST. Langkah ini dinilai efektif dalam memperpanjang siklus hidup plastik.

Baca Juga  Kampus Berdampak, Jejak UMM di Timor Tengah Selatan Melawan Stunting

Peran sebagai Agen Perubahan

Pembina kegiatan, Rindya Fery Indrawan, menegaskan bahwa keterlibatan mahasiswa UMM bukan sekadar praktik lapangan. “Kami ingin mahasiswa berperan sebagai agen perubahan. Edukasi pemilahan sampah sejak dari rumah adalah kunci pengelolaan lingkungan berkelanjutan,” katanya.

Ia menambahkan, kolaborasi antara kampus, masyarakat, dan pengelola TPST menjadi fondasi penting dalam membangun budaya peduli lingkungan. Bagi UMM, ecobrick bukan sekadar proyek mahasiswa, melainkan bagian dari komitmen jangka panjang mendukung pembangunan berkelanjutan.