June 17, 2026, oleh Humas Universitas

Bawa Medali Perak, Santri PPI AMF Ciptakan Panel Peredam Suara dari Ampas Tebu dan Sabut Kelapa (Wilda Fizriyani/PWMU.CO)
pwmu.coEnam santri Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF) Malang berhasil meraih medali perak dalam ajang Bali International Science Fair (BISF) 2026 melalui inovasi panel peredam suara berbahan limbah ramah lingkungan yang mereka beri nama Ecouiet. Prestasi tersebut diraih oleh tim yang seluruh anggotanya merupakan siswa SMP Abdul Malik Fadjar.

Inovasi Ecouiet dikembangkan sebagai solusi sederhana untuk membantu mengurangi kebisingan dengan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah ditemukan, seperti ampas tebu, sabut kelapa, kertas bekas, dan arang.

Perwakilan tim, Haidar Abimanyu Tuarita, menjelaskan bahwa inovasi yang mereka kembangkan berupa panel peredam suara yang memanfaatkan limbah organik dan bahan daur ulang.

“Juga ada campuran arang hitam juga,” kata siswa kelas VIII tersebut saat ditemui di PPI AMF Malang, Senin (15/6/2026).

Abi, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa tekstur panel yang dibuat timnya hampir menyerupai semen. Panel tersebut terdiri atas tiga lapisan yang kemudian ditempelkan pada boks kardus sebagai media uji coba. Ketebalan panel mencapai sekitar 2,5 sentimeter.

Ia menjelaskan, lapisan terluar panel terbuat dari campuran ampas tebu dan kertas. Lapisan kedua menggunakan sabut kelapa dan arang, sedangkan lapisan terakhir dibuat dari kertas yang telah dihancurkan.

Setelah panel selesai dipasang, tim melakukan pengujian sederhana dengan memutar musik di dalam boks kardus. Sementara itu, alat pengukur tingkat kebisingan ditempatkan di bagian luar boks untuk mengetahui efektivitas panel dalam meredam suara.

“Dan alat pendeteksi yang kita pakai itu decibel meter. Itu bisa diunduh di Playstore,” kata Abi.

Menurut Abi, inovasi tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif material peredam suara yang lebih ramah lingkungan sekaligus membantu menciptakan suasana belajar yang lebih nyaman. Ia mengungkapkan bahwa ide pembuatan Ecouiet muncul dari kondisi lingkungan sekitar yang masih menghadapi persoalan kebisingan.

Selain memanfaatkan bahan yang mudah diperoleh, tim juga berupaya menghadirkan produk yang aman dan mendukung upaya pengurangan limbah.

Hadapi Tantangan Selama Proses Pembuatan

Anggota tim lainnya, Muhammad Mahir dan Faizul Umam, mengakui bahwa proses pembuatan panel tidak sepenuhnya berjalan mudah. Mereka menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait keterbatasan waktu dan proses menemukan komposisi bahan yang menghasilkan tekstur sesuai kebutuhan.

Secara keseluruhan, proses pengembangan Ecouiet berlangsung selama empat pekan. Pekan pertama digunakan untuk merumuskan ide dan konsep penelitian. Pada pekan berikutnya, tim menyusun karya tulis dan melakukan persiapan penelitian. Sementara itu, pekan ketiga dan keempat dimanfaatkan untuk pembuatan produk, pengujian, serta penyusunan hasil penelitian.

Pembina Karya Ilmiah Remaja (KIR) PPI AMF, Nabila Almayda, menyampaikan rasa syukur atas capaian yang diraih para santri dalam kompetisi tersebut.

“Semoga santri-santri PPI AMF dapat terus berkembang dengan berbagai inovasi dan prestasi,” kata perempuan yang sedang menempuh studi doktoral di Universitas Brawijaya tersebut.

Sebagai informasi, BISF 2026 merupakan kompetisi ilmiah yang diselenggarakan oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA). Ajang ini diikuti pelajar tingkat SMP dan SMA dari berbagai negara, termasuk Indonesia, Amerika Serikat, sejumlah negara Asia Tenggara, Kazakhstan, dan Uzbekistan.

Tim PPI AMF yang meraih medali perak dalam kompetisi tersebut terdiri atas Ahmad Adila Al Ghifari, Abyan Agha Al Ghifari, Faizul Umam, Farrand Al Azka, Haidar Abimanyu Tuarita, dan Muhammad Mahir. Prestasi ini menambah daftar capaian santri PPI AMF dalam bidang riset dan inovasi di tingkat internasional. (*)