June 10, 2026, oleh

Selain memengaruhi saluran napas, perubahan suhu yang drastis juga melemahkan sistem kekebalan tubuh. Salah satu penyebabnya ialah berkurangnya produksi Extracellular Vesicles (EVs).
Tagar.co – Fenomena cuaca bediding yang terjadi belakangan ini meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan. Suhu udara yang lebih rendah mendorong penyebaran virus dan bakteri penyebab penyakit sehingga masyarakat lebih rentan mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), influenza, maupun keluhan pernapasan lainnya.
Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Titik Agustiyaningsih, S.Kep., Ns., M.Kep., menjelaskan cuaca dingin tidak hanya membantu patogen bertahan lebih lama, tetapi juga dapat menurunkan kemampuan tubuh dalam melawan infeksi. Karena itu, masyarakat perlu menjaga daya tahan tubuh agar tetap sehat selama periode bediding berlangsung.
Titik Agustiyaningsih menjelaskan bahwa kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan influenza cenderung meningkat saat musim hujan atau ketika suhu udara menurun.
Peningkatan itu terjadi karena faktor patogen, lingkungan, kondisi tubuh, dan perilaku manusia saling mendukung penularan penyakit. Udara dingin dan kering membuat virus serta bakteri bertahan lebih lama di luar tubuh manusia.
Selain itu, kondisi tersebut memudahkan penyebaran mikroorganisme melalui partikel udara.
“Angka kejadian ISPA dan influenza cenderung meningkat saat musim hujan atau ketika suhu udara menurun karena ada kombinasi faktor patogen, lingkungan, kondisi tubuh, dan perilaku manusia yang saling mendukung terjadinya penularan,” ujarnya , kepada Redaksi Tagar.co Senin (8/6/2026).
Saluran Pernapasan Sangat Sensitif terhadap Perubahan Suhu
Saluran pernapasan memiliki mekanisme pertahanan yang sangat sensitif terhadap perubahan suhu. Saat seseorang menghirup udara dingin dan kering secara mendadak, tubuh segera memberikan respons.
Tubuh menyempitkan saluran napas, meningkatkan produksi lendir, dan memperlambat kerja silia. Silia merupakan rambut getar yang bertugas membersihkan kotoran serta mikroorganisme dari saluran pernapasan.

Akibatnya, proses pembersihan alami tubuh menjadi kurang efektif. Kondisi tersebut meningkatkan peluang virus dan bakteri memasuki saluran pernapasan. Karena itu, masyarakat lebih rentan mengalami batuk, pilek, radang tenggorokan, maupun sesak napas ketika suhu udara menurun.
Selain memengaruhi saluran napas, perubahan suhu yang drastis juga melemahkan sistem kekebalan tubuh. Salah satu penyebabnya ialah berkurangnya produksi extracellular vesicles (EVs). Komponen ini berfungsi sebagai pertahanan alami dalam rongga hidung untuk menangkap dan melawan virus.
Di sisi lain, penyempitan pembuluh darah pada area hidung mengurangi distribusi sel imun ke saluran pernapasan.
“Ketika suhu udara turun drastis, tubuh sebenarnya sedang berusaha mempertahankan suhu inti agar tetap stabil. Namun, proses itu dapat melemahkan pertahanan lokal di saluran pernapasan sehingga virus lebih mudah berkembang,” katanya.
Menurut Titik, beberapa virus pernapasan justru berkembang lebih optimal pada suhu rendah. Salah satunya ialah rhinovirus yang menjadi penyebab flu biasa.
Masyarakat Perlu Menjaga Hidrasi dan Daya Tahan Tubuh
Masyarakat perlu menjaga hidrasi dan daya tahan tubuh selama cuaca dingin berlangsung. Titik mengingatkan agar masyarakat tidak langsung menganggap semua gejala pilek sebagai ISPA. Menurutnya, alergi dingin memiliki karakteristik yang berbeda dengan infeksi saluran pernapasan.
Alergi dingin biasanya ditandai bersin berulang, hidung gatal, serta mata berair. Gejala tersebut muncul saat seseorang terpapar udara dingin dan mereda ketika suhu menghangat. Sebaliknya, demam menjadi salah satu tanda yang lebih mengarah pada infeksi saluran pernapasan.
Lebih lanjut, Titik menilai penggunaan jaket saja belum cukup untuk mencegah gangguan kesehatan saat cuaca dingin. Masyarakat juga perlu memenuhi kebutuhan cairan dengan mengonsumsi minuman hangat. Selain itu, asupan vitamin A, vitamin D, dan lemak sehat yang mengandung omega-3 penting untuk mendukung fungsi sistem imun.
Ia menambahkan bahwa beberapa kelompok perlu meningkatkan kewaspadaan. Kelompok tersebut meliputi lansia, anak-anak, perokok aktif, penderita sinusitis kronis, dan pekerja yang berada di ruangan berpendingin udara dalam waktu lama.
“Memakai jaket memang penting untuk melindungi tubuh dari udara dingin. Namun, menjaga hidrasi, nutrisi, dan daya tahan tubuh jauh lebih penting karena pertahanan utama terhadap penyakit sebenarnya berasal dari dalam tubuh,” ujarnya. (#)