April 8, 2026, oleh Humas Universitas

BERITA JEJAK FAKTA – enomena iklim El Nino Godzilla menyebabkan suhu panas ekstrem, mengubah area terbuka menjadi zona berbahaya. Kondisi ini secara serius mengancam nyawa para pekerja di luar ruangan karena paparan panas yang berlebihan dapat memicu serangan fatal yang dikenal sebagai heat stroke.

Nur Melizza, seorang dosen Keperawatan dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menyoroti bahwa kelompok pekerja tertentu berada pada garis depan risiko ini. Mereka termasuk pengemudi ojek daring, kurir ekspedisi, pekerja konstruksi, petani, dan petugas keamanan.

“Heat stroke terjadi ketika tubuh kehilangan kemampuan otomatis untuk mengatur suhu,” terang Nur Melizza pada Selasa (7/4/2026), seperti dilansir dari Surabaya. Ia menambahkan bahwa kondisi medis ini jauh lebih parah daripada dehidrasi biasa.

Suhu panas dari lingkungan akan terus menumpuk di dalam tubuh, menghentikan produksi keringat secara total, dan akibatnya panas terperangkap. El Nino Godzilla menjadi pemicu utama cuaca panas ekstrem ini.

Risiko heat stroke akan semakin meningkat jika seseorang kurang minum, kurang istirahat, atau menggunakan pakaian yang tidak mampu menyerap keringat dengan baik. Kondisi paling parah dari heat stroke dapat menyebabkan kerusakan otak dan gangguan fungsi organ tubuh.

Nur Melizza mengingatkan, “Tubuh kekurangan oksigen dan bisa memicu pingsan hingga mengancam nyawa.” Ini menegaskan betapa berbahayanya El Nino Godzilla bagi kesehatan manusia.

Kelompok pekerja lapangan sangat rentan menjadi korban karena beberapa faktor. Selain paparan sinar matahari langsung selama berjam-jam, mereka juga sering diwajibkan memakai perlengkapan kerja yang tebal. Misalnya, jaket untuk pengemudi ojek online dan kurir, atau helm tertutup bagi pekerja konstruksi. Perlengkapan ini justru membuat suhu panas lebih mudah terperangkap dan ‘memanggang’ tubuh dari dalam.

Kiat Pencegahan dan Peran Perusahaan

Untuk menghindari bahaya mematikan ini, Nur Melizza memberikan sejumlah kiat pencegahan. Hal paling utama adalah pekerja wajib membawa persediaan air minum berukuran sedang setiap kali bekerja. Ia menyarankan untuk rutin minum air putih dan tidak menunggu sampai tenggorokan terasa haus. Pekerja juga disarankan untuk menyempatkan istirahat sekitar 20 hingga 30 menit di tempat yang teduh.

Pembatasan aktivitas fisik berat juga penting pada jam rawan panas, yaitu antara pukul 10.00 pagi hingga 13.00. “Jika harus memakai jaket sesuai aturan perusahaan, biarkan resleting sedikit terbuka,” jelasnya. Tujuannya adalah agar panas tubuh dapat bertukar lebih mudah dengan udara luar.

Peka terhadap sinyal tubuh adalah kunci utama keselamatan pekerja lapangan. Segera hentikan aktivitas jika tubuh mulai merasa pusing, mual, lemas, atau bahkan mengalami kebingungan. Selain menjaga asupan cairan, nutrisi makanan juga perlu diperhatikan agar tubuh memiliki cadangan energi yang cukup.

Pada akhir penjelasannya, Nur Melizza juga memberikan saran tegas kepada pihak korporasi. Kebijakan tempat kerja harus adaptif demi menyelamatkan nyawa karyawannya. “Perusahaan mohon mengatur jam kerja yang lebih fleksibel. Sediakan juga air minum yang cukup dan berikan tempat istirahat yang layak, jangan dibiarkan istirahat di tempat panas,” pungkas Nur.

Edukasi preventif ini diharapkan mampu menekan angka fatalitas di tengah ancaman krisis iklim global. Upaya sederhana namun konsisten diyakini dapat menjadi pelindung utama bagi pekerja lapangan, memungkinkan mereka menjalankan aktivitas sehari-hari secara aman tanpa mengorbankan kesehatan di tengah paparan panas ekstrem