December 13, 2025, oleh

Oleh: Zahira Rachmawati, Mahasiswi Jurusan Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang
DALAM beberapa tahun terakhir, isu tentang kesehatan mental sedang sangat naik dan menjadi topik yang sering muncul di berbagai media sosial termasuk TikTok.
Berbagai konten tentang stres, depresi, kecemasan, serta kepribadian bermunculan setiap hari.
Konten-konten ini sering muncul dalam bentuk video singkat, kutipan motivasi, infografik, hingga cerita pengalaman pribadi mulai dari pengguna biasa sampai influencer.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental semakin meningkat, terutama pada generasi muda.
Namun, fenomena ini juga dapat menimbulkan gejala baru yang cukup serius dan memprihatinkan, yaitu mengdiagnosis diri sendiri hanya berdasarkan konten yang dilihat di sosial media tanpa adanya bantuan profesional.
Self-diagnose dapat diartikan sebagai tindakan seseorang dalam menilai, menafsirkan, dan menyimpulkan suatu gangguan mental dalam dirinya tanpa adanya bantuan profesional dan tanpa melalui proses evaluasi klinis.
Proses diagnostik membutuhkan serangkaian prosedur yang panjang dan mendalam sebenarnya, prosesnya meliputi wawancara klinis, observasi perilaku, mengisi tes psikologi, serta interpretasi profesional berdasarkan standar.
Namun, media sosial sangat sering menyederhanakan serangkaian proses ini menjadi daftar gejala singkat.
Misalnya, “Tanda kamu memiliki perilaku avoidant attachment” atau “Ciri-ciri kamu memilki OCD”.
Konten-konten di media sosial yang terutama sering muncul di TikTok ini sangat mudah diakses dan dicerna serta menarik bagi para remaja dan sering kali banyak yang jadi merasa cocok dengan gejala yang disebutkan dalam konten-konten tersebut.
Hasilnya, banyak yang langsung mengambil kesimpulan bahwa mereka mengalami gangguan tersebut.
Fenomena self-diagnose sendiri sebenarnya bukanlah hal yang baru.
Jauh sebelum itu, masyarakat Indonesia sudah mengenal bentuk self-diagnose tradisional melalui aturan adat, suku, dan kepercayaan turun-temurun.
Misal saat seseorang mudah takut, sering melamun, atau merasa gelisah tanpa sebab, orang tua zaman dulu sering mengaitkan hal tersebut dengan mistis dan mengatakan bahwa mereka sedang ketempelan, pamali, kurang berdoa, atau terkena angin malam, padahal bisa saja mereka sedang mengalami gejala depresi ringan, burnout, atau cemas berlebihan karena faktor lainnya.