May 13, 2026, oleh Humas Universitas

Generasi Terserah dan Krisis Kepedulian Politik Anak Muda

MAKLUMAT — Malam itu, sebuah kafe kecil penuh anak muda. Musik pelan terdengar dari sudut ruangan. Beberapa sibuk membuat tugas kuliah dan konten media sosial. Sebagian lain tertawa sambil bermain game dan main kartu. Lalu obrolan berubah ketika seseorang menyinggung soal politik. Suasana langsung berbeda.

“Ah, jangan bahas politik. Capek.”

“Politik itu kotor.”

“Siapa pun yang naik, hidupku tetap begini.”

Kalimat-kalimat itu terdengar memang ringan. Mungkin juga sering dianggap biasa. Tapi sebenarnya, di situlah masalah besar sedang tumbuh. Banyak anak muda mulai memilih tidak peduli pada politik. Mereka merasa politik terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari. Politik dianggapnya terlalu rumit dan penuh kebohongan.

Akhirnya, mereka memilih menjauh. Padahal tanpa disadari, keputusan politik justru menentukan hampir seluruh masa depan mereka.

Fenomena apatisme politik di kalangan generasi muda bukan cerita baru. Namun hari ini, gejalanya seolah terasa semakin nyata. Media sosial dipenuhi anak muda yang lebih nyaman membahas tren hiburan dibanding kebijakan publik. Politik dianggap identik dengan korupsi, drama elite, saling serang, dan janji palsu. Tidak sedikit yang menganggap apapun suara mereka tidak akan mengubah apa pun.

Sikap seperti ini terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar. Ketika generasi muda memilih diam, keputusan tetap berjalan. Misalnya, undang-undang tetap dibuat. Kebijakan juga tetap ditentukan. Hanya saja semuanya berlangsung tanpa keterlibatan mereka. Padahal generasi muda itu sekelompok yang paling lama merasakan dampak keputusan negara di masa datang.

Politik Tidak Jauh dari Anak Muda

Bisa ajdi banyak orang muda menganggap politik hanya urusan pejabat dan partai. Padahal politik hadir dalam hampir semua hal yang mereka jalani setiap hari.

Ketika biaya kuliah naik, itu hasil keputusan politik. Ketika lapangan kerja makin sempit, itu juga berkaitan dengan kebijakan politik. Bahkan harga kebutuhan pokok, ongkos transportasi, hingga kualitas internet yang mereka gunakan setiap hari, semuanya dipengaruhi keputusan pemerintah.

Yang aneh, banyak anak muda baru merasa marah ketika dampaknya sudah langsung mengenai hidup mereka. Mereka kadang baru sadar saat lulus kuliah sulit mendapat pekerjaan. Juga, merasa gaji tidak sebanding dengan biaya hidup. Padahal biaya pendidikan yang orang tua mereka keluarkan tidak sedikit. Mau protes, kebebasan mulai terasa sempit.

Apakah mereka benar-benar apatis politik? Sebenarnya tidak juga jika dilihat dari perbincangan mereka di medis sosial dan kehidupan nyata. Sebagian besar generasi muda sebenarnya mengikuti isu politik, tetapi hanya di permukaan.

Mereka melihat potongan video debat, cuplikan kontroversi atau drama media sosial. Namun sedikit yang benar-benar memahami substansi kebijakan. Akibatnya, politik berubah menjadi tontonan, bukan ruang partisipasi.

Di media sosial, politik sering tampil seperti pertandingan antar kubu. Orang lebih sibuk membela tokoh favorit dibanding membahas solusi. Diskusi berubah menjadi saling hina. Kritik Juga dibalas fanatisme. Situasi ini membuat banyak anak muda semakin malas terlibat karena merasa politik hanya berisi keributan. Padahal demokrasi tidak bisa hidup tanpa partisipasi publik, terutama generasi muda.

Jumlah pemilih muda di Indonesia sangat besar. Pada Pemilu 2024, lebih dari 50 persen pemilih berasal dari kalangan muda dan pemilih pemula. Angka itu menunjukkan bahwa generasi muda sebenarnya memiliki kekuatan besar menentukan arah bangsa.

Masalahnya, kekuatan itu sering tidak digunakan secara maksimal. Sebagian mungkin memilih golput. Sebagian tidak peduli mencari informasi. Sebagian lagi merasa politik tidak penting selama hidup pribadi masih berjalan normal.

Padahal sejarah menunjukkan perubahan besar sering lahir dari keberanian anak muda untuk terlibat. Reformasi 1998 digerakkan mahasiswa. Gerakan sosial tentang lingkungan hidup banyak dipelopori generasi muda, bukan? Bahkan berbagai perubahan budaya digital hari ini juga lahir dari keberanian anak muda menyuarakan sesuatu.

Artinya, generasi muda sebenarnya bukan kelompok lemah. Mereka punya energi, kuantitaasnya besar dan pengaruh sosial yang kuat. Namun semua itu menjadi sia-sia ketika berubah menjadi sikap masa bodoh.

Asal Jangan Jadi Corong Kekuasaan

Di sisi lain, keterlibatan politik juga perlu dijaga agar tidak kehilangan arah. Anak muda memang perlu peduli politik, tetapi bukan berarti harus membela kekuasaan secara membabi buta. Ini jelas menghawatirkan.

Banyak anak muda awalnya kritis ketika berada di luar lingkaran kekuasaan. Mereka aktif menyuarakan keresahan publik. Berani mengkritik kebijakan dan terlihat idealis. Namun ketika sudah dekat dengan jabatan, masuk partai, atau mendapat posisi tertentu, sikap itu perlahan berubah.

Daya kritisnya mendadak hilang. Akibatnya, kesalahan penguasa selalu dibenarkan. Rakyat yang protes justru dianggap pengganggu. Anak muda akhirnya berubah menjadi “juru bicara kekuasaan”, bukan lagi penyambung suara masyarakat.

Padahal esensi keterlibatan politik bukan sekadar mendukung pemerintah atau oposisi. Yang lebih penting adalah menjaga keberpihakan pada kepentingan publik. Anak muda harus tetap punya keberanian untuk mengatakan salah jika memang salah. Bahkan ketika kritik itu ditujukan kepada kelompok yang mereka dukung sendiri.

Sikap kritis seperti ini penting karena kekuasaan tanpa pengawasan selalu berpotensi menyimpang. Sejarah di banyak negara menunjukkan bahwa demokrasi melemah ketika masyarakat terlalu fanatik kepada tokoh atau kelompok tertentu.

Media sosial membuat situasi ini semakin mudah terjadi. Banyak anak muda hari ini terjebak dalam “pemujaan berhala politik”. Politikus diperlakukan seperti selebritas. Semua tindakan dibela. Semua kritik dianggap serangan pribadi. Padahal demokrasi membutuhkan warga yang berpikir kritis, bukan penggemar politik yang hanya sibuk membela tokoh favorit.

Anak muda perlu sadar bahwa menjadi kritis bukan berarti membenci negara. Justru kritik adalah bentuk kepedulian terhadap masa depan bangsa. Negara yang sehat lahir dari masyarakat yang berani mengawasi kekuasaan, bukan masyarakat yang diam atau terlalu takut mengkritik.

Oleh karena itu, generasi muda perlu mengambil posisi yang seimbang. Jangan apatis terhadap politik. Tetapi jangan juga kehilangan akal sehat ketika berada dekat dengan kekuasaan.

Pada akhirnya, politik akan selalu memengaruhi hidup generasi muda, suka atau tidak. Menjauh dari politik bukan berarti terbebas dari dampaknya. Justru ketika anak muda memilih diam, mereka sedang membiarkan orang lain menentukan masa depan mereka.

Namun keterlibatan politik juga harus dibarengi sikap kritis agar anak muda tidak berubah menjadi sekadar pembela kekuasaan. Sebab demokrasi membutuhkan generasi muda yang peduli, berani bersuara, dan tetap mampu menjaga jarak sehat terhadap siapa pun yang sedang berkuasa.***

*) Penulis: Nurudin
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)