December 5, 2025, oleh Humas Universitas

Dosen Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang sekaligus petani asal Banyuwangi, Ary Bakhtiar (Humas UMM/KLIKMU.CO)

KLIKMU.CO – Menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026, Indonesia kembali dihadapkan pada lonjakan harga bahan pangan yang kian memberatkan masyarakat. Sejak awal November, harga sejumlah komoditas pokok di berbagai pasar tradisional terus merangkak naik, terutama beras, cabai, bawang merah, dan daging sapi yang menjadi kebutuhan utama rumah tangga.

Dosen Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang sekaligus petani asal Banyuwangi, Ary Bakhtiar M.Si IPM Asean Eng, menegaskan bahwa produksi pangan turun signifikan pada akhir tahun ini. “Harga cabai saja yang awalnya Rp20.000 per kilogram kini melonjak menjadi Rp73.000. Ibu-ibu akhirnya hanya membeli seperempat kilogram,” jelasnya, Selasa (2/12/2025).

Dia menambahkan, berbagai agenda besar yang berdekatan—Natal, Tahun Baru, hingga Ramadan pada Februari 2026—turut mendorong peningkatan permintaan.

Ia menerangkan bahwa kenaikan harga juga dipicu kombinasi cuaca ekstrem, terganggunya distribusi pasokan, serta penurunan produksi akibat curah hujan tinggi. Perubahan iklim memperburuk situasi, sementara kebutuhan masyarakat meningkat menjelang akhir tahun.

Sebagai langkah mitigasi, Ary menawarkan sejumlah solusi. “Pemerintah perlu hadir lebih kuat dalam menjaga stabilitas pangan, terutama di tingkat produksi dan distribusi,” tegasnya. Ia menjelaskan bahwa pendampingan dan perlindungan bagi petani perlu diperkuat, mulai dari teknologi pengendalian hama berbasis cuaca hingga akses pupuk dan bibit yang lebih stabil.

Ia juga menekankan pentingnya peningkatan infrastruktur distribusi agar pasokan tidak terhambat saat cuaca ekstrem. Selain itu, pemerintah daerah maupun pusat perlu menyiapkan operasi pasar dan cadangan pangan untuk menekan lonjakan harga pada komoditas sensitif.

Lonjakan harga bahan pangan ini menjadi persoalan serius karena memengaruhi banyak lapisan masyarakat dan mengancam stabilitas ekonomi rumah tangga maupun usaha kecil. Jika tidak segera dikendalikan, kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memperburuk daya beli masyarakat dan keberlanjutan usaha di awal tahun mendatang.

Ary berharap upaya stabilisasi pangan dapat dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan oleh berbagai pihak. “Saya berharap pemerintah dapat memperkuat sistem pangan kita, bukan hanya saat krisis atau menjelang hari besar, tetapi sepanjang tahun,” ujarnya.

Dia menekankan bahwa petani, UMKM, dan konsumen harus sama-sama mendapatkan perlindungan agar rantai pasok tetap kuat. Menurutnya, perencanaan matang, dukungan teknologi, dan pendampingan konsisten adalah kunci untuk mewujudkan ketahanan pangan yang benar-benar tangguh.

(Faqih/AS)