April 10, 2026, oleh Humas Universitas

Pakar Ekonomi UMM, M. Sri Wahyudi Suliswanto, S.E., M.E., Ph.D., (Foto: Istimewa)

Malang (beritajatim.com) – Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M. Sri Wahyudi Suliswanto, S.E., M.E., Ph.D., memberikan tanggapan terkait lonjakan harga kemasan plastik yang mencapai 100 persen. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMM tersebut memperingatkan bahwa tanpa strategi yang tepat, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner terancam gulung tikar.

Wahyudi menegaskan bahwa kenaikan drastis ini merupakan dampak domino dari memanasnya konflik geopolitik global. Kondisi tersebut memicu lonjakan harga minyak mentah dunia yang berimbas langsung pada meroketnya harga bahan baku plastik di pasar domestik.

“Situasi ini sudah masuk tahap darurat bagi pelaku usaha kecil. UMKM harus segera menjadikan momentum ini untuk mengubah model bisnis, sementara pemerintah wajib melakukan intervensi pasar secara paralel,” ujar Wahyudi saat memberikan analisis ekonomi di kampus UMM, Rabu (9/4/2026).

Sebagai langkah konkret, Wahyudi memberikan jurus jitu bagi UMKM untuk menyiasati biaya operasional yang membengkak. Ia menyarankan pelaku usaha kuliner untuk menerapkan strategi diferensiasi harga guna memutus ketergantungan pada plastik sekali pakai.

Langkah ini dilakukan dengan cara memberikan diskon atau harga lebih murah kepada konsumen yang membawa wadah sendiri dari rumah. Menurut Wahyudi, strategi ini merupakan solusi dua arah: menyelamatkan margin keuntungan UMKM sekaligus mengedukasi masyarakat terhadap budaya ramah lingkungan.

“Ini adalah saat yang paling tepat untuk memukul mundur kebiasaan penggunaan plastik. Langkah taktis ini diyakini ampuh menjaga fondasi finansial UMKM di tengah daya beli masyarakat yang sedang lesu,” jelasnya.

Lebih lanjut, Wahyudi memaparkan analisisnya mengenai penyebab utama kerentanan ekonomi Indonesia terhadap gejolak harga plastik. Ia menilai krisis ini membongkar fakta mengenai rapuhnya kemandirian industri dalam negeri yang masih sangat bergantung pada impor bahan baku.

“Negara kita sangat bergantung pada impor bahan baku plastik. Ketika jalur distribusi internasional terganggu oleh gejolak geopolitik, harga di tingkat domestik langsung tercekik,” tegas pakar ekonomi tersebut.

Kondisi tersebut semakin diperparah oleh rantai distribusi domestik yang dinilai terlalu panjang, sehingga menciptakan biaya siluman yang semakin menggerus keuntungan para pedagang kecil di lapangan.

Wahyudi juga menekankan bahwa beban inflasi ini tidak boleh hanya dipikul oleh pelaku usaha dan konsumen. Mengingat komponen plastik digunakan secara masif di berbagai sektor mulai dari kuliner rumahan, manufaktur, hingga otomotif, ia mendesak negara untuk segera mengambil peran.

Ia menyarankan agar pemerintah aktif memfasilitasi pencarian penyuplai bahan baku dari negara-negara non-konflik guna mengamankan stabilitas harga.

“Pemerintah tidak boleh tutup mata melihat penderitaan UMKM. Harus ada intervensi tegas untuk mengamankan stabilitas harga plastik karena daya rusaknya terhadap ekonomi kerakyatan sangat luas,” kata Wahyudi menutup. [dan/aje]