June 11, 2026, oleh Humas Universitas

Ilustras IHSG. Foto: dok.UMM

MAKLUMAT – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang merosot lebih dari 20 persen seolah menjadi alarm bagi perekonomian domestik. Sebab kekhawatiran ini bisa memicu krisis ekonomi seperti yang pernah terjadi tahun 1998 silam.

Namun bagi ekonom Universitas Muhammadiyah Malang, UMM memiliki pandangan sendiri. Menurut, Novi Puji Lestari, dosen manajemen UMM, fenomena ini murni akibat kepanikan psikologis pasar sesaat, bukan cerminan fundamental makroekonomi nasional.

Menurutnya, tekanan jual yang masif di pasar modal disebabkan krisis kepercayaan yang berujung pada reaksi berlebihan dan tergesa-gesa dari para investor.

“Turunnya IHSG murni dipicu panic selling dari para investor yang punya kekhawatiran berlebih. Pasar biasanya akan bergerak merespons ketakutan jauh lebih cepat. Ini yang perlu dipahami,” ujarnya, dikutip Rabu (10/6/2026).

Pemicu Utama IHSG Ambruk

Novi, sapaan lekatnya, menjelaskan pemicu utama terseok-seoknya IHSG diawali dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Kurs yang fluktuatif ini membuat asset domestik terlihat sangat berisiko bagi investor asing.

Selain itu, investor juga mengalami krisis kepercayaan terhadap stabilitas fiskal. Situasi ini berdampak langsung pada menurunnya daya tarik investasi Indonesia dibandingkan negara-negara berkembang lainnya.

“Investor asing sangat sensitif terhadap isu stabilitas fiskal. Mereka tidak hanya melihat angka di atas kertas. Ketika rupiah ambruk, investor panik, karena merasa asetnya semakin berisiko. Inilah yang memicu penarikan dana dan krisis kepercayaan secara besar-besaran dari bursa kita,” urainya menjelaskan.

Faktor yang tak kalah penting adalah rambatan dampak dari ketidakpastian global. Mengacu pada hasil penelitiannya terkait ekonomi global, Novi menyebut arus globalisasi telah menipiskan batas ekonomi antarnegara.

Akibat Campur Tangan Global

Gejolak geopolitik dunia, seperti memanasnya perang dagang antara AS dan China serta eskalasi konflik Timur Tengah, selalu berhasil mengirimkan sentimen negatif ke bursa domestik, sekecil apa pun eskalasinya.

“Faktor globalisasi ini membuat sekat antarnegara menjadi sangat tipis,” tegasnya menjelaskan.

Meskipun papan bursa saat ini dipenuhi sentimen negatif imbas dinamika global, pemerintah memastikan bahwa fundamental makroekonomi Indonesia masih sangat solid.

Ia meminta masyarakat awam dan investor pemula untuk tidak gegabah, ikut-ikutan menjual rugi (cut loss) tanpa dasar. Harapannya investor pemula menjadikan fluktuasi ini sebagai momen untuk berinvestasi secara rasional dan terencana.