January 17, 2026, oleh Humas Universitas

Foto freepik.com premium

Di tengah tekanan akademik dan krisis arah hidup generasi kampus, Isra Mikraj menghadirkan pesan penting bahwa salat bukan sekadar ritual, melainkan sistem penuntun kesadaran dan ketahanan mental mahasiswa.

Tagar.co – Peringatan Isra Mikraj tidak semestinya berhenti sebagai agenda seremonial tahunan. Di balik peristiwa agung perjalanan spiritual Nabi Muhammad Saw., tersimpan pesan mendalam tentang bagaimana manusia, khususnya mahasiswa, menata arah hidup di tengah tekanan akademik dan kompleksitas zaman.

Pesan itulah yang disampaikan I’anatut Thoifah, M.Pd.I., dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), saat diwawancarai, Selasa (14/1/2026). Ia menegaskan bahwa Isra Mikraj bukan sekadar kisah perjalanan dari bumi ke langit, melainkan peristiwa pembentukan kesadaran manusia ketika berada di titik terberat kehidupan.

“Isra Mikraj terjadi saat Rasulullah berada pada fase paling berat secara psikologis. Ini menunjukkan bahwa ketika manusia berada di titik paling lemah, Allah justru menguatkannya melalui pendekatan spiritual,” ujar I’ana.

Menurutnya, situasi tersebut sangat relevan dengan realitas mahasiswa hari ini. Tekanan akademik, kecemasan masa depan, tuntutan prestasi, dan kelelahan mental sering kali tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan akademik atau materiil. Di situlah spiritualitas menemukan perannya sebagai sumber ketenangan yang sering diabaikan.

Dijemput Langsung

Lebih lanjut, I’ana menyoroti keistimewaan Isra Mikraj yang melahirkan satu ibadah utama: salat. Berbeda dengan ibadah lain yang diperintahkan melalui wahyu, salat justru “dijemput” langsung oleh Nabi Muhammad Saw. dalam peristiwa Mikraj.

“Salat adalah satu-satunya ibadah yang diperintahkan tanpa perantara malaikat Jibril. Ini menunjukkan betapa sentralnya posisi salat dalam kehidupan seorang muslim,” jelas dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) itu.

Bagi I’ana, salat bukan sekadar ritual individual, melainkan sistem pengelolaan hidup yang sangat relevan dengan kehidupan mahasiswa modern. Lima waktu salat membentuk pola hidup teratur berbasis nilai.

“Salat adalah siklus manajemen waktu paling lengkap: plan–do–check–reflect–reset,” tuturnya.

Dalam kehidupan mahasiswa yang sering terjebak kesibukan tanpa henti, salat justru menjadi penyeimbang. Ia bukan penghambat produktivitas, melainkan penopang fokus, ketenangan, dan kejernihan berpikir.

I’ana memetakan makna tiap waktu salat sebagai panduan hidup: Subuh mengajarkan perencanaan dan niat, Zuhur menjadi jeda evaluasi, Asar menumbuhkan kesadaran akan keterbatasan waktu, Magrib membuka ruang refleksi, dan Isya menjadi momentum penyerahan diri sekaligus pemulihan batin.

Pola ini, menurutnya, membantu mahasiswa tetap terarah meskipun berada di tengah ritme kehidupan kampus yang padat.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa nilai Isra Mikraj dan salat memiliki peran strategis dalam pembentukan karakter mahasiswa. Isra Mikraj memberi orientasi bahwa kuliah bukan semata mengejar IPK, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang bermakna. Sementara salat menjadi ruang jeda di tengah tekanan akademik.

“Prestasi diraih melalui usaha dan kesungguhan, bukan jalan pintas. Nilai spiritual menjadi penguat agar mahasiswa tetap jujur dan bertanggung jawab,” tegasnya.

Menutup pesannya, I’ana mengajak mahasiswa menjadikan salat sebagai kompas kesadaran hidup. Di tengah dunia kampus yang semakin kompetitif dan penuh tekanan, salat berfungsi sebagai pengingat arah, nilai, dan tujuan hidup.

“Salat bukan sekadar kewajiban ritual yang berhenti di atas sajadah, tetapi kompas kesadaran yang menuntun sikap hidup dalam nilai yang penuh berkah,” ujarnya. (*)