April 25, 2026, oleh Humas Universitas

Pemprov DKI Jakarta membersihkan sejumlah sungai dan saluran air dari ikan sapu-sapu secara serentak di lima wilayah kota administrasi untuk menekan populasinya yang dinilai mengganggu ekosistem perairan Jakarta./ANTARA FOTO-Sulthony Hasanuddin

beritajejakfakta – Populasi ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) yang meledak di berbagai sungai di Indonesia dilaporkan mengancam keberadaan ikan lokal melalui kompetisi nutrisi dan perusakan habitat pada Jumat (24/4/2026).

Dosen Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rindya Fery Indrawan, menjelaskan bahwa spesies invasif ini menyebabkan kerusakan ekosistem melalui tiga mekanisme utama. Fenomena ini memicu kekhawatiran akan kolapsnya rantai makanan di perairan tawar.

Dilansir dari Hijau, mekanisme pertama melibatkan perebutan sumber nutrisi utama seperti alga dan mikroorganisme dasar. Hal ini membuat ikan lokal kehilangan pakan alami yang menjadi sumber pertumbuhan mereka.

Dominasi biomassa menjadi faktor kedua, di mana ikan sapu-sapu mengambil alih ruang hidup secara masif. Kondisi ini diperparah dengan kebiasaan mereka menggali lubang di tepian sungai yang memicu erosi dan merusak tempat pemijahan alami.

Ikan sapu-sapu juga diketahui memiliki sifat omnivora oportunistik yang memangsa telur serta larva ikan endemik saat pakan menipis. Spesies lokal seperti nilem, tawes, wader, dan betok kini berada di ambang kepunahan lokal akibat aktivitas tersebut.

Kemampuan bertahan hidup ikan ini tergolong ekstrem karena memiliki kulit keras berlapis pelat serta sirip berduri tajam yang sulit dimangsa predator. Selain itu, spesies ini mampu hidup dalam kondisi perairan dengan kadar oksigen yang sangat rendah.