March 12, 2026, oleh Humas Universitas

Islam Berkemajuan Jadi Panduan Hadapi Tantangan Peradaban Modern

MAKLUMAT – Konsep Islam Berkemajuan kembali ditegaskan sebagai pijakan menghadapi dinamika zaman modern. Gagasan tersebut mengemuka dalam kegiatan Safari Ramadan yang digelar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Hall Dome UMM, Selasa (10/3/2026).

Kegiatan ini menghadirkan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Saad Ibrahim, yang mengajak civitas akademika memahami Islam Berkemajuan sebagai panduan dalam merespons perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan tantangan peradaban global.

Dalam pemaparannya, Saad menegaskan bahwa kemajuan dalam perspektif Islam tidak semata diukur dari pesatnya perkembangan teknologi atau sains. Menurutnya, kemajuan juga harus diiringi dengan nilai moral, spiritual, dan tanggung jawab kemanusiaan.

Ilmu dan Nilai Spiritual

“Banyak negara maju secara teknologi, tetapi tidak selalu maju secara kemanusiaan. Karena itu Islam menekankan bahwa kemajuan harus berjalan bersama nilai spiritual, etika, dan tanggung jawab sosial,” ujarnya.

Ia menilai fenomena tersebut menjadi tantangan serius di era modern. Tanpa keseimbangan nilai, kemajuan ilmu pengetahuan justru dapat melahirkan berbagai persoalan sosial baru di tengah masyarakat.

Saad menjelaskan bahwa sejak awal Al-Qur’an telah menempatkan ilmu pengetahuan sebagai bagian penting dalam kehidupan manusia. Wahyu pertama yang memerintahkan membaca menjadi landasan kuat bagi umat Islam untuk membangun tradisi literasi, riset, dan pengembangan ilmu.

Baca Juga  Pesan Sekda Sumbawa di Wisuda UMM: Jangan Berhenti Bermimpi dan Berkarya

Namun, menurutnya, literasi dalam Islam tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan semata. Ilmu juga harus diiringi kesadaran moral agar dapat digunakan untuk kemaslahatan manusia.

Momentum Tumbuhkan Kesadaran

“Ilmu yang tidak dibimbing nilai hanya akan melahirkan manusia yang pintar, tetapi tidak bijaksana. Kampus harus menjadi ruang yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membentuk karakter,” tegasnya.

Karena itu, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mewujudkan nilai Islam Berkemajuan. Kampus tidak hanya menjadi pusat produksi ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan nilai yang memastikan ilmu digunakan untuk kepentingan kemanusiaan.

Saad juga menilai Ramadan sebagai momentum penting untuk menumbuhkan kesadaran sosial. Ibadah puasa, kata dia, tidak sekadar ritual spiritual, tetapi juga latihan empati terhadap masyarakat yang hidup dalam keterbatasan.

Tanggung Jawab Persyarikatan

“Dari empati itulah lahir kepedulian sosial yang menjadi dasar gerakan kemanusiaan dalam Islam,” jelasnya.
Sementara itu, Rektor UMM, Nazaruddin Malik, mengatakan kegiatan Safari Ramadan menjadi bagian dari upaya kampus memperkuat nilai spiritual di tengah aktivitas akademik.

Menurutnya, perguruan tinggi Muhammadiyah memiliki tanggung jawab melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter dan kepedulian sosial.

Baca Juga  UMM Wakili LLDIKTI 7 di Ajang Mahasiswa Berprestasi

“UMM berkomitmen menjadikan nilai spiritualitas, intelektualitas, dan kepedulian sosial sebagai fondasi dalam pengembangan pendidikan,” ujarnya memungkasi.