May 21, 2026, oleh

Di tengah tingginya isu kesenjangan antara kompetensi lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan riil dunia industri, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) justru tampil memberikan solusi konkret. Melalui program unggulan Center of Excellence (CoE) Ruminansia yang diinisiasi oleh Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP), mahasiswa Kampus Putih berhasil menembus ketatnya standar raksasa industri susu, PT Greenfields Indonesia. Kemitraan strategis ini bukan sekadar program magang biasa, melainkan bukti sahih bahwa UMM sukses menyelaraskan kurikulum akademiknya dengan dinamika Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI), sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai Kampus Inovasi yang mencetak SDM unggul berdaya saing global.
Keberhasilan nyata dari program CoE ini langsung dirasakan di lapangan. PT Greenfields Indonesia, sebagai perusahaan peternakan berskala masif, menjadi laboratorium hidup bagi para mahasiswa. Di sana, mereka dibimbing langsung oleh Wijayanto, Supervisor Heifer Raising yang memegang peran krusial dalam divisi replacement atau manajemen pengembangan indukan. Wijayanto, yang intens mendampingi peserta magang, menilai bahwa mahasiswa FPP UMM tidak hanya datang dengan bekal teori yang matang, tetapi juga memiliki kesiapan mental dan kecepatan adaptasi yang luar biasa dalam menghadapi Standar Operasional Prosedur (SOP) ketat di industri modern.
”Sejak awal datang dan mendapat penjelasan mengenai aturan serta SOP di Greenfields, mahasiswa UMM cepat memahami dan menerapkannya di lapangan,” puji pria yang akrab disapa Wije tersebut 20 Mei lalu.
Lebih lanjut, ritme kerja yang dibangun selama program magang memaksa mahasiswa untuk proaktif di setiap lini operasional. Mereka dirotasi secara berkala untuk memahami siklus penuh peternakan modern, mulai dari penanganan awal anak sapi yang baru lahir hingga tahap manajemen pemeliharaan sapi dewasa. Kecekatan dalam merespons dinamika lapangan inilah yang menumbuhkan tingkat kepercayaan absolut dari pihak industri, yang pada akhirnya menjadikan Kampus Putih sebagai perguruan tinggi tunggal yang dipercaya memegang tanggung jawab operasional di perusahaan tersebut.
”Sampai saat ini yang dari perguruan tinggi, yang magang di Greenfields itu hanya dari UMM saja,” tegas Wijie.
Sinergi yang diwadahi oleh CoE Ruminansia ini memang didesain secara holistik untuk membentuk manajer masa depan, bukan sekadar pekerja teknis. Wije menjelaskan bahwa pada fase awal, mahasiswa diwajibkan mengikuti ritme operator di lapangan untuk memahami akar masalah operasional, sebelum akhirnya mereka diberikan beban tanggung jawab berbasis individu untuk merumuskan solusi strategis dan mempresentasikannya di hadapan manajemen tingkat atas.
“Kolaborasi ini sangat penting karena sebelum benar-benar menjadi supervisor, mereka sudah dibekali pengalaman dan pembelajaran dari dasar terlebih dahulu,” pungkasnya.
Pada akhirnya, kepercayaan penuh dari raksasa industri sekelas PT Greenfields menjadi legitimasi tak terbantahkan atas ketangguhan lulusan Kampus Putih. Keberhasilan program CoE Ruminansia FPP UMM ini tidak sekadar meruntuhkan menara gading perguruan tinggi, tetapi secara revolusioner sukses mendobrak sekat antara teori akademik dan kerasnya realitas lapangan. Pencapaian ini sekaligus mengirimkan pesan kuat bagi ekosistem pendidikan nasional, mencetak generasi emas masa depan tidak akan pernah cukup jika hanya dilakukan dari balik meja kelas. Mahasiswa harus berani diterjunkan langsung ke jantung industri, memecahkan masalah nyata, demi lahirnya para inovator dan pemimpin strategis yang siap mengambil alih kemudi kemajuan bangsa.(*ali/faq)
Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman