December 12, 2025, oleh Humas Universitas

Suasana Kuliah Tamu Nasional Prodi Kesejahteraan Sosial UMM yang membahas transformasi pelayanan sosial di Aula BAU Kampus III UMM. (Abdus Salam/KLIKMU.CO)

KLIKMU.CO – Program Studi Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menghadirkan sesi ilmiah inspiratif dalam rangkaian Kuliah Tamu Nasional bertema Transformasi Pelayanan Sosial: Inovasi, Kolaborasi, dan Penguatan Lembaga Kesejahteraan Sosial, Rabu (10/12/2025) di Aula BAU Kampus III UMM.

Kegiatan yang dihadiri sekitar 300 peserta—dosen, mahasiswa, dan mitra Prodi Kesejahteraan Sosial—menjadi ruang strategis untuk memperkuat peran akademisi, praktisi, dan pemangku kepentingan dalam menjawab tantangan pelayanan sosial di era modern. Acara dibuka oleh Wakil Rektor I UMM, dilanjutkan sambutan Ketua Program Studi dan Dekan FISIP.

Ketua Prodi Kesejahteraan Sosial UMM Hutri Agustino PhD menegaskan pentingnya inovasi sebagai motor penggerak perubahan pelayanan sosial. Ia menekankan bahwa dinamika sosial yang cepat menuntut hadirnya pendekatan pelayanan yang adaptif, inklusif, dan berbasis bukti. Forum ini, ujarnya, diharapkan menguatkan kolaborasi lintas sektor, terutama dalam layanan multiprofesi di rumah sakit.

“Pendekatan holistik, kolaboratif, dan integratif menjadi keniscayaan. Kolaborasi multiprofesi membuka jalan bagi penguatan lembaga kesejahteraan sosial agar dapat memberikan layanan terbaik,” ungkapnya.

Melalui penyelenggaraan ini, Prodi Kesejahteraan Sosial UMM menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam pembangunan sosial serta mencetak lulusan yang kompeten, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan global.

Kolaborasi Multiprofesi di Rumah Sakit

Sesi pertama disampaikan dr Yuniar SpKJ MMRS, Direktur Utama RS dr Radjiman Wediodiningrat, yang memaparkan materi bertajuk Based Practice Pelayanan Multiprofesi di Rumah Sakit. Ia menjelaskan implementasi model pelayanan multidisiplin untuk meningkatkan efektivitas penanganan pasien, terutama pasien dengan kebutuhan kompleks.

Menurutnya, koordinasi dokter, perawat, pekerja sosial medis, psikolog, dan tenaga kesehatan lain sangat menentukan kualitas layanan. Kolaborasi yang terstruktur, papar Yuniar, mampu mempercepat proses diagnosa, meminimalkan kesalahan komunikasi, dan meningkatkan kepuasan pasien serta keluarga.

“Pelayanan kesehatan masa kini tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Kolaborasi multiprofesi menjadi kunci keberhasilan layanan berorientasi pasien,” tegasnya.

Peluang dan Tantangan Pekerja Sosial Medis

Sesi kedua menghadirkan Dr Rinikso Kartono MSi, akademisi dan pakar kesejahteraan sosial, yang membahas Peluang dan Tantangan Praktik Pekerja Sosial Medis di Indonesia. Ia menekankan meningkatnya kebutuhan pekerja sosial medis seiring bertambahnya kompleksitas persoalan kesehatan masyarakat.

Rinikso menjelaskan bahwa pekerja sosial medis memiliki peran strategis dalam menjembatani aspek medis dan sosial pasien—mulai dari manajemen kasus, pendampingan keluarga, hingga perencanaan keberlanjutan layanan. Namun, terdapat tantangan besar seperti regulasi profesi yang belum sepenuhnya mengakomodasi peran pekerja sosial, keterbatasan SDM terlatih, serta minimnya pemahaman lintas profesi di fasilitas layanan kesehatan.

Karenanya, ia mendorong penguatan kompetensi, advokasi kebijakan, dan peningkatan kolaborasi antarprofesi