July 20, 2026, oleh

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan menyampaikan arahan saat membuka Studentpreneur Bootcamp 2026 di Aula GKB 4 Universitas Muhammadiyah Malang. (Humas UMM/Klikmu.co)
KLIKMU.CO – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan melontarkan kritik terhadap tata kelola perguruan tinggi di Indonesia yang dinilai masih usang dan lambat beradaptasi dengan perkembangan zaman. Menurutnya, kondisi tersebut turut memicu lahirnya sekitar 1,1 juta sarjana yang belum bekerja pada 2025 akibat ketidaksesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja.
“Perguruan tinggi di Indonesia itu masih menggunakan cara-cara atau manajemen pengelolaannya menggunakan abad 20. Satu sisi, kita ini sudah masuk di abad 21,” tegasnya.
“Sehingga yang terjadi adalah banyaknya mismatch. Di tahun 2025 saja, itu ada 1,1 juta alumni atau sarjana yang belum memperoleh pekerjaan setelah diidentifikasi karena memang peran-peran generik yang dia miliki,” ujarnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Fauzan mendorong perguruan tinggi membangun ekosistem kolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha, dan dunia industri. Ia juga mengapresiasi inovasi UMM melalui program Center of Excellence (CoE) atau kelas profesional yang bekerja sama dengan berbagai perusahaan dalam menyiapkan lulusan yang siap memasuki dunia kerja.
“Dalam teori sustainability kampus, sustainability kampus itu hanya bisa dilakukan jika kampus itu bekerja sama atau berkolaborasi dengan pemerintah, dengan dunia usaha, dan dunia industri. Kalau tiga hal ini berkolaborasi, selesai bangsa ini,” paparnya.
Selain mendorong transformasi kelembagaan, Fauzan juga memotivasi mahasiswa melalui kisah perjuangannya menempuh pendidikan di tengah keterbatasan ekonomi. Ia mengaku pernah bekerja serabutan demi membiayai sekolah, pengalaman yang membentuk daya juang dan kemandiriannya.
“Saya meyakini Saudara masuk di sini ini tidak banyak menggunakan otak kiri, tetapi lebih banyak menggunakan otak kanan. Artinya adalah, sama sekali dia tidak ingin dikasihani, tetapi dia ingin membangun survivability kehidupannya supaya dia bisa mandiri,” tuturnya.
Ia pun mengajak mahasiswa meninggalkan pola pikir yang serba minimalis dan membangun mentalitas maksimalis agar mampu bersaing di tengah perubahan yang cepat.
“Tanamkan mental Saudara adalah mental maksimalis. Pupuk kerja keras, tidak mudah menyerah kapan dan di mana saja. Sarjana yang pola berpikirnya biasa-biasa saja itu mendominasi jumlahnya,” katanya.
Fauzan berharap Studentpreneur Bootcamp 2026 tidak sekadar menjadi agenda seremonial, tetapi mampu menjadi langkah nyata dalam membangun University Enterprise Ecosystem di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah. Dengan demikian, kampus dapat melahirkan lulusan yang adaptif, berdaya saing, dan siap menjawab tantangan dunia kerja.
(Faqih/AS)