July 6, 2026, oleh Humas Universitas

Kata makian ndasmu kembali diucapkan presien. Bahasa seseorang ketika berbicara sering kali menunjukkan cara ia berpikir dan memimpin.
Presiden Prabowo Subianto saat pidato acara Pekan Nasional Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo, 24 Juni 2026.

Kata makian ndasmu kembali diucapkan presien. Bahasa seseorang ketika berbicara sering kali menunjukkan cara ia berpikir dan memimpin.

Oleh Nurudin, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Penulis buku Agama Saya adalah Uang.

Tagar.co – Kata makian ndasmu keluar lagi dari mulut Presiden Prabowo Subianto saat pidato acara Pekan Nasional Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo, 24 Juni 2026.

Kata makian itu langsung viral lagi. Di forum itu Presiden Prabowo sedang berbicara tentang kesejahteraan petani dan pentingnya kejujuran. Namun satu kata tersebut justru membuat isi pidatonya langsung terlupakan.

Potongannya makian di akhir pidato itu beredar di media sosial. Sempat menjadi meme dan bahan cibiran. Bahkan kembali memancing perdebatan soal gaya komunikasi seorang presiden.

Prabowo kemudian meminta maaf. Ia bahkan sempat berseloroh agar bagian itu dihapus karena khawatir kembali viral. Tetapi seperti yang sering terjadi di era digital, sesuatu yang sudah telanjur tersebar sulit untuk ditarik kembali.

Sebenarnya ini bukan kali pertama. Pada Februari 2025, saat HUT Partai Gerindra, Prabowo juga pernah mengucapkan makian ndasmu ketika membantah tudingan bahwa dirinya hanyalah boneka Presiden Joko Widodo.

Maksudnya mungkin ingin menunjukkan kekesalan dengan bergurau. Namun yang tersisa dalam ingatan publik justru satu kata itu. Begitulah dunia sekarang. Kadang satu kalimat lebih diingat daripada pidato selama satu jam.

Bagi masyarakat Jawa, kata ndas artinya kepala. Sementara ndasmu berarti kepalamu. Dalam percakapan sehari-hari, kata ini memang cukup lazim. Biasanya keluar ketika seseorang sedang kesal, jengkel, atau ingin memotong pembicaraan yang dianggap tidak masuk akal.

Kalau diucapkan antarteman, mungkin selesai dengan tawa. Tetapi kalau yang mengucapkan adalah seorang presiden, ceritanya menjadi berbeda.

Sebab setiap kata presiden memiliki makna. Pesannya bukan sekadar suara. Melainkan pesan yang didengar jutaan orang. Pasti disorot karena ia public figure.

Presiden Juga Manusia

Memang presiden juga manusia biasa. Bisa marah, kecewa. Mungkin juga tersinggung. Itu wajar. Namun jabatan membuat standar terhadap dirinya menjadi berbeda. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula tanggung jawab menjaga ucapannya.

Tidak heran jika ucapan ndasmu justru membuat kritik yang ingin dibantah semakin ramai diperbincangkan. Sebelum kata itu keluar, isu tentang boneka Jokowi hanya menjadi bahan debat politik. Setelah diucapkan, topik tersebut justru semakin viral. Media memberitakan. Netizen mengomentari. Algoritma media pun sosial ikut bekerja mempopulerkan.

Di era digital, perhatian publik sering kali tidak mengikuti apa yang ingin disampaikan pembicara. Yang viral justru bagian yang paling emosional.

Bahasa Pemimpin Jadi Cermin

Bahasa bukan sekadar kumpulan kata. Cara seseorang berbicara sering kali menunjukkan cara ia berpikir dan memimpin. Pemimpin yang tenang biasanya menjawab kritik dengan argumentasi berdasar data.  Bukan dengan sindiran atau umpatan.

Baca Juga:  Lawatan ke Luar Negeri, Keresahan di Dalam Negeri

Sejarah menunjukkan banyak pemimpin dikenang bukan hanya karena kebijakannya. Kata-katanya juga akan diingat. Misalnya, ada pidato yang mampu menyatukan bangsa. Ada kalimat yang membangkitkan harapan. Sebaliknya, ada pula ucapan yang terus diingat karena memicu kontroversi.

Indonesia saat ini menghadapi banyak pekerjaan rumah. Harga kebutuhan pokok masih menjadi perhatian. Lapangan kerja harus terus dibuka. Pertumbuhan ekonomi perlu dijaga.

Program-program pemerintah juga membutuhkan dukungan masyarakat agar berhasil. Di tengah situasi seperti itu, rakyat lebih membutuhkan penjelasan daripada ledakan emosi.

Pembisik yang Jujur

Ucapan seorang presiden tidak muncul begitu saja. Di baliknya ada informasi yang diterima setiap hari. Oleh karena itu, kualitas orang-orang di sekeliling presiden sangat menentukan.

Presiden membutuhkan menteri yang berani menyampaikan fakta, bukan sekadar kabar yang menyenangkan. Membutuhkan penasihat yang mampu mengatakan, “Pak, data di lapangan tidak seperti itu.”

Masalah terbesar dalam sebuah pemerintahan sering kali bukan kurangnya informasi. Justru terlalu banyak informasi yang sudah disaring agar terdengar indah.

Biar semua tampak baik-baik saja. Semua laporan dibuat positif. Misalnya, semua target disebut tercapai. Padahal rakyat merasakan cerita yang berbeda.

Contohnya begini. Harga naik, rakyat yang membeli. Pekerjaan sulit, rakyat yang mencari. Pelayanan birokrasi lambat, rakyat yang mengantre.

Oleh karena itu, kritik sebenarnya bukan musuh pemerintah. Kritik adalah alarm. Ia memberi tahu bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki sebelum menjadi masalah yang lebih besar.

Jadi, tidak semua kritik harus dibalas. Tak semua komentar harus dilawan. Kadang jawaban terbaik adalah hasil kerja. Kadang cukup dengan data atau bahkan sekadar senyuman.

Dalam politik modern, komunikasi sama pentingnya dengan kebijakan. Program yang bagus bisa kehilangan dukungan jika dijelaskan dengan cara yang salah.

Sebaliknya, kebijakan yang berat sering kali tetap diterima jika masyarakat merasa diajak memahami alasannya.

Pada akhirnya, rakyat tidak hanya menilai apa yang dilakukan seorang presiden. Mereka juga mengingat bagaimana seorang presiden berbicara. Satu kata mungkin hanya terdengar beberapa detik. Namun,  dampaknya bisa bertahan bertahun-tahun.

Nah, ucapan ndasmu mungkin lahir dari emosi sesaat. Namun ketika keluar dari mulut seorang presiden, ia tidak lagi menjadi urusan pribadi. Ia berubah menjadi pesan politik yang ditafsirkan jutaan orang.

Maka dari itu, kepemimpinan tidak hanya soal berani mengambil keputusan. Kepemimpinan juga tentang mampu mengendalikan emosi, menerima kritik, dan memilih kata yang membangun kepercayaan.

Pada akhirnya, rakyat memang melihat tindakan seorang pemimpin. Tetapi ingat, ucapan bisa akan diingat dalam waktu lama (#).

Penyunting Sugeng Purwanto