April 13, 2026, oleh

ASATUNEWS – Lonjakan harga plastik yang signifikan telah menimbulkan tekanan besar bagi sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terutama di bidang makanan dan minuman yang sangat bergantung pada kemasan sekali pakai. Kenaikan ini, yang dilaporkan mencapai 30 hingga 80 persen pada April 2026, berimbas langsung pada biaya produksi dan profitabilitas UMKM.
Menteri UMKM Maman Abdurrahman, seperti dilansir dari Money, menyatakan bahwa meskipun pelaku usaha berupaya menahan harga jual untuk menjaga daya beli konsumen, margin keuntungan mereka menyusut drastis. Situasi ini diperparah oleh ketergantungan Indonesia pada impor bahan baku plastik.
Peningkatan harga plastik disebabkan oleh gangguan rantai pasok global, khususnya pada pasokan nafta, bahan baku utama plastik berbasis petrokimia. Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah telah menghambat distribusi nafta, memicu koreksi pasokan di tingkat hulu.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin Aromatik Plastik (Inaplas) Fajar Budiono menambahkan bahwa sekitar 70 persen suplai nafta sempat terhenti karena konflik yang mempengaruhi jalur distribusi vital seperti Selat Hormuz. Kelangkaan nafta ini, menurut Maman Abdurrahman, membuat bahan baku plastik sulit didapatkan, mendorong harga naik tajam di pasaran.
Di tingkat pedagang, tekanan harga sudah sangat terasa. Sekretaris Jenderal Ikatan Pedagang Pasar Indonesia Reynaldi Sarijowan mengungkapkan bahwa harga plastik telah naik bertahap, mencapai puncak kenaikan sekitar 50 persen dibandingkan periode sebelum Ramadan.
Misalnya, harga plastik yang sebelumnya Rp 10.000 per pak terus merangkak naik Rp 500 hingga Rp 700 setiap pekannya. Pemilik toko plastik Restu Anggi juga merasakan hal serupa, dengan lonjakan harga plastik bening untuk pembungkus mencapai 50% di tingkat konsumen, seperti dikutip dari Katadata.co.id.
Dampak Kenaikan Biaya pada UMKM
Pakar Ekonomi Koperasi dan UMKM Universitas Airlangga (Unair) Atik Purmiyati menegaskan bahwa kenaikan harga plastik akan menambah biaya produksi, berpotensi menggerus keuntungan usaha. Kondisi ini diperburuk oleh keterbatasan modal dan sumber daya manusia di kalangan UMKM.
M. Sri Wahyudi Suliswanto, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang, menilai situasi ini sebagai tekanan biaya struktural yang sulit dihindari, menunjukkan kurangnya kemandirian industri dalam negeri.
Banyak pelaku UMKM terpaksa memangkas margin keuntungan atau mengurangi ukuran produk (shrinkflation) untuk menjaga harga tetap kompetitif. Beberapa pedagang bahkan mulai beralih ke plastik daur ulang yang lebih murah, meskipun kualitas dan keamanannya untuk kemasan makanan masih diragukan, seperti diberitakan oleh Metro TV.
Strategi Industri dan Pemerintah Hadapi Krisis
Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah dan industri merancang beberapa strategi. Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita mendorong penggunaan plastik daur ulang berkualitas tinggi sebagai substitusi pasokan. Selain itu, industri aktif mencari sumber pasokan nafta baru di luar kawasan Timur Tengah, seperti dari Asia Tengah, Afrika, dan Amerika, meskipun waktu distribusi bisa lebih lama.
Di tingkat pabrik, efisiensi dilakukan dengan mengurangi ketebalan plastik tanpa mengurangi fungsi kemasan. Maman Abdurrahman juga mengemukakan strategi jangka panjang melalui substitusi bahan baku berbasis minyak bumi dengan alternatif nabati seperti rumput laut dan singkong. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan impor nafta dan memanfaatkan sumber daya domestik.
Sementara itu, di sisi pelaku UMKM, adaptasi dilakukan dengan penyesuaian volume produk, diversifikasi pasar, hingga mengganti jenis kemasan dengan bahan ramah lingkungan seperti kemasan biodegradable dari pati jagung atau singkong. Pembelian bahan baku dalam jumlah besar secara kolektif juga menjadi cara untuk menekan biaya.
Upaya Menjaga Pasokan dan Stabilitas
Pemerintah berupaya memastikan pasokan plastik tetap tersedia di pasar dan masyarakat tidak perlu panik. Menperin Agus Gumiwang menegaskan komitmen pemerintah untuk mengamankan pasokan dengan mengoptimalkan berbagai kanal alternatif.
Kementerian Perindustrian juga memperkuat koordinasi dengan pelaku industri manufaktur untuk menjaga daya tahan sektor. Hal ini dilakukan seiring upaya menyeimbangkan ketersediaan pasokan, stabilitas harga, dan keberlanjutan industri di tengah tekanan global terhadap bahan baku plastik.
Di sisi lain, masyarakat diimbau untuk berperan aktif mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan meningkatkan praktik daur ulang. Inisiatif ini tidak hanya mendukung lingkungan, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor, membantu menstabilkan industri di masa mendatang.