April 14, 2026, oleh Humas Universitas

ASATUNEWS – Kenaikan harga plastik kemasan telah membebani pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sejak akhir Maret 2026. Kenaikan harga mencapai 30 hingga 40 persen di Jakarta, dengan lonjakan tertinggi terjadi di Jakarta Barat, menurut laporan yang dilansir dari Kompas.com pada Sabtu, 11 April 2026.

Kenaikan harga ini dirasakan pada berbagai jenis plastik, termasuk kantong kresek dan kemasan makanan dan minuman. Harga kantong kresek meningkat sekitar 40 persen menjadi Rp 17.000 per pak dari sebelumnya Rp 11.000. Sementara itu, plastik kemasan makanan atau minuman berbahan PET juga mengalami kenaikan sekitar 35 persen menjadi Rp 22.000 per pak dari sebelumnya Rp 15.771, dilansir dari Kompas.com.

Slamet, seorang pedagang angkringan di Sleman, Yogyakarta, mengatakan kenaikan harga plastik menjadi tambahan pengeluaran tak terduga. Ia menjelaskan bahwa harga plastik bening yang biasa digunakan telah naik dari Rp 36.000 menjadi Rp 42.000 per pak sebelum Lebaran. Pedagang lain, Tari, pengusaha laundry di Sleman, juga merasakan dampak serupa ketika membeli plastik dalam jumlah besar.

Kepala Dinas PPKUKM DKI Jakarta, Elisabeth Ratu Rante Allo, mengatakan bahwa kenaikan ini disebabkan oleh terganggunya pasokan bahan baku global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Wilayah tersebut merupakan salah satu pusat produksi petrokimia dunia. Akibatnya, rantai pasokan bahan baku plastik global terganggu.

Atik Purmiyati, Pakar Ekonomi Koperasi dan UMKM dari Universitas Airlangga (UNAIR), mengungkapkan bahwa kenaikan harga plastik di Indonesia berkisar antara 30 hingga 80 persen hingga April 2026. Menurutnya, hal ini disebabkan oleh ketergantungan pada impor bahan baku plastik sebesar 60 persen. M Sri Wahyudi Suliswanto, pakar ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), juga menyoroti dampak kenaikan harga minyak mentah dan bahan baku akibat konflik global.

Pelaku UMKM dihadapkan pada pilihan sulit: menaikkan harga jual produk atau mengurangi keuntungan. Kondisi ini menciptakan dilema bagi pelaku usaha. Mereka harus memilih antara mempertahankan pelanggan atau menjaga keberlanjutan bisnisnya.

Teguh, seorang penjual pempek gerobakan di Jakarta Selatan, mengakui bahwa kenaikan harga plastik memaksanya berganti merek dengan kualitas di bawah standar untuk menekan biaya. Ia juga tidak lagi membeli stok plastik dalam jumlah besar.

“Saya pakai yang lain, harganya masih Rp 6.000, tapi isinya memang lebih sedikit,” ujar Teguh.