January 30, 2026, oleh Humas Universitas

Ilustrasi cerpen Ketika Jalan Tuhan Berbeda dari Rencana Sendiri (AI)

Aku benar-benar merasakan kedamaian. Bukan karena aku sampai di tempat yang aku inginkan. Tapi karena aku akhirnya sampai di tempat di mana aku seharusnya berada.

Cerpen oleh Fanisa Dwi Listiani Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Modern Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

Tagar.co Aku tidak menangis saat membuka link pengumuman SNBP 2024. Tanganku gemetar mengetikkan NISN, berkali-kali salah ketik.

Di sekitarku, grup WhatsApp kelas sudah meledak dengan ucapan selamat. Screenshot pengumuman bertebaran—latar belakang hijau dengan tulisan “LULUS”.

Aku menekan tombol “Cek Hasil” dengan napas tertahan. Loading… Dan muncul tulisan yang membuat dunia terasa berhenti: “Anda dinyatakan TIDAK LULUS Seleksi SNBP 2024”

Aku menatap layar itu. Membaca ulang. Sekali. Dua kali. Berharap aku salah baca. Tapi tidak. Tulisan itu tetap sama.

Perlahan, aku menutup laptop. Dada sesak. Aku merosot ke lantai, memeluk lutut, dan baru setelah sepuluh menit terdiam, air mataku jatuh.

Tiga hari aku tidak keluar kamar. Ibu beberapa kali mengetuk pintu, membawa makanan yang akhirnya mendingin begitu saja.

“Sayang, buka pintunya. Ibu mau ngobrol,” suara Ibu lembut dari balik pintu.

“Nggak mau, Bu. Biarkan aku sendiri dulu.”

Bagaimana aku bisa menghadap Ibu? Bagaimana aku bisa bilang bahwa semua doa dan dukungannya sia-sia? Bahwa aku gagal?

Aku siswa eligible. Prestasiku cukup bagus. Aku bahkan datang ke UB untuk tes offline, membayangkan diriku berjalan di lorong-lorongnya sebagai mahasiswa. Tapi semua itu hanya mimpi.

Malam itu, Ibu masuk kamar dengan membawa secangkir teh hangat. Beliau tidak bicara banyak. Hanya duduk di tepi kasur, mengusap rambutku pelan.

“Bu, aku capek,” bisikku akhirnya.

“Ibu tahu, Nak.” Ibu memelukku. “Tapi Ibu yakin, ini bukan akhir. Masih ada jalan lain.”

“Usaha tidak pernah mengkhianati hasil, Nak. Tapi kadang, hasilnya berbeda dari yang kita bayangkan. Dan itu tidak apa-apa.”

Hari keempat, aku memaksa diri bangun. Masih ada UM. Aku mendaftar tes mandiri, setengah hati. Bagian dariku yang lain sudah tidak percaya lagi pada keberuntungan.

Dua minggu kemudian, pengumuman UM keluar. SELAMAT, anda diterima di Program Studi S1 Sosiologi – Universitas Negeri Malang. Untuk pertama kalinya dalam dua minggu ini, aku tersenyum. Aku berlari keluar kamar.

“Bu! Ibu! Aku diterima! UM, Bu!”

Ibu langsung memelukku erat. “Alhamdulillah, Nak.”

Tapi kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Malam itu, aku dan Ibu duduk bersama menghitung biaya kuliah. UKT, biaya administrasi, biaya hidup, kos, buku… Angka di layar HP semakin membengkak.

“Bu, ini… biayanya besar banget,” kataku pelan.

Ibu nenatap kertas penuh coretan hitungan kami. Wajahnya terlihat lelah. “Ibu sudah hitung juga, Nak. Memang… ini di luar kemampuan kita saat ini.” Dadaku sesak lagi. Kali ini lebih sakit dari penolakan UB.

“Aku… aku nggak jadi ambil ya, Bu?”

Ibu menggenggam tanganku. “Ibu minta maaf, Nak—”

“Udah, Bu. Nggak apa-apa.” Aku memotong. Tidak mau melihat Ibu merasa bersalah.

Malam itu, aku tidak menangis. Aku sudah terlalu lelah untuk menangis. Aku hanya berbaring, menatap langit-langit kamar, merasa hampa. Mungkin aku memang tidak ditakdirkan kuliah. Tiga hari kemudian, HP-ku berdering. Bunda Wina, saudara dari Malang menelepon.

“Aku dengar dari Ibumu kamu diterima UM tapi nggak jadi ambil karena biaya, ya?”

“Iya, Bun,” jawabku pelan.

“Coba kamu lihat UMM, Dek. Universitas Muhammadiyah Malang. Mereka buka jalur beasiswa. Masih buka pendaftaran. Ada beasiswa penuh.”

“UMM?” Aku mengulang. Kampus itu tidak pernah masuk radarku.

“Coba aja daftar. Siapa tahu rezeki kamu di sana. Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia-nya bagus.”

Pendidikan Bahasa Indonesia? Itu bahkan bukan jurusan yang pernah aku pertimbangkan.

“Tapi Bun, aku kan nggak pernah minat ke jurusan itu…”

“Dek, kadang rezeki datang dari tempat yang nggak pernah kita duga. Rugi nggak coba.” Malam itu, saat makan malam, aku ceritakan ke Ibu.

“Bu, tadi Bunda telepon. Nyaranin aku coba beasiswa di UMM. Jurusannya Pendidikan Bahasa Indonesia.”

“Kenapa nggak dicoba?” Mata Ibu berbinar. “Beasiswa kan? Itu kesempatan bagus, Nak.”

“Tapi Bu, itu bukan jurusan yang aku mau.”

Ibu menatapku. “Nak, kadang kita nggak tahu apa yang terbaik buat kita. Coba dulu. Kalau memang jalan kamu di sana, pasti ada jalannya.”

Aku mendaftar beasiswa UMM dengan perasaan campur aduk. Proses pengisian data terasa panjang. Lalu aku harus melengkapi berkas-berkas. Pagi-pagi berangkat ke balai desa, mengantre di kecamatan, mengurus surat keterangan tidak mampu.

Setelah semua terkumpul, aku pergi ke kantor pos. “Kirim ke mana, Dek?” tanya petugas. “Malang. Ke UMM. Ini penting sekali, Pak. Untuk pendaftaran beasiswa.”

Saat paket itu diserahkan ke petugas, aku membisikkan doa kecil. Ya Allah, lancarkan. Ini usaha terakhirku.

Seminggu kemudian, email masuk. Berkasku sudah diterima. Aku dipanggil untuk tes online. Hari H tes, aku bangun pukul lima pagi, padahal tes baru dimulai pukul sembilan. Aku cek koneksi internet berkali-kali. Charge laptop sampai full battery. Tidak mau ada kesalahan kecil yang bisa menggagalkanku lagi.

Pukul 08.45, aku sudah duduk di depan laptop. Aku buka link, login, masuk ke ruang tunggu virtual. Layar menampilkan hitungan mundur.

Jantungku berdebar semakin kencang. Tarik napas dalam-dalam. Tenang. Aku sudah belajar. Sekarang tinggal percaya pada diri sendiri dan pasrahkan sisanya pada Tuhan.

Dua jam kemudian, tes selesai. Bismillah. Ya Allah, kalau memang jalan-Ku di sini, bukakanlah pintu ini untukku. Seminggu menunggu terasa seperti sebulan. Sampai suatu pagi, email notification masuk. Tanganku gemetar.

“Bu! Ibu!” teriakku. “Email dari UMM. Aku nggak berani buka.”

Ibu duduk di sampingku. Menggenggam tanganku. “Bismillah, Nak. Apapun hasilnya, kita terima.” Aku menarik napas panjang. Membuka email.

“Selamat! Anda dinyatakan LULUS seleksi beasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia… Beasiswa penuh.”

Aku membaca ulang. Sekali. Dua kali. “Bu… aku… aku diterima. Dengan beasiswa, Bu. Beasiswa penuh.”

Ibu merebut HP-ku, membaca sendiri. Kemudian memelukku erat. Sangat erat. Kami menangis bersama. Tangis bahagia. “Alhamdulillah, Nak. Lihat, Tuhan punya rencana yang lebih baik. Lebih indah.”

Aku tidak bisa berhenti menangis. Semua kelelahan, semua kekecewaan, semua air mata yang pernah jatuh, rasanya terbayar di momen ini.

Bulan pertama kuliah di UMM, aku masih merasa asing. Tapi lambat laun, aku mulai menyesuaikan diri. Dosen-dosennya ramah. Teman-temannya asik. Yang paling mengejutkan, aku mulai menyukai jurusan yang awalnya tidak pernah aku pilih ini.

Di semester ketiga sekarang, jurusanku berganti nama menjadi Prodi Bahasa & Sastra Modern. Lebih luas. Lebih kekinian. Dan aku semakin jatuh cinta.

“Suatu hari, saat berjalan di area kampus, aku berhenti sejenak. Menatap gedung-gedung di sekelilingku, kokoh dan terang diterpa sinar matahari sore. Pohon-pohon rindang bergerak pelan tertiup angin, membuat suasana terasa tenang dan teduh.

Di sekitarku, teman-teman berlalu-lalang sambil tertawa kecil, membawa buku, atau sekadar ngobrol santai. Ada rasa hangat yang tiba-tiba muncul—seperti akhirnya aku benar-benar berada di tempat yang tepat.”

Aku tersenyum.

Aku teringat diriku beberapa bulan lalu. Yang hancur. Yang hampir menyerah. Sekarang, aku di sini. Kuliah dengan beasiswa di kampus yang tidak pernah masuk dalam daftar pilihanku. Di jurusan yang tidak pernah aku bayangkan. Tapi aku… bahagia.

Aku membuka HP, scrolling galeri foto. Ada screenshot penolakan UB yang tidak pernah aku hapus. Aku menatapnya lama.

Dulu, foto itu terasa seperti akhir dari segalanya. Sekarang, aku tahu itu adalah awal. Awal dari perjalanan yang tidak pernah aku rencanakan, tapi ternyata lebih indah dari yang pernah aku bayangkan.

Malam itu, aku video call Ibu. “Bu, terima kasih ya… terima kasih sudah tidak pernah menyerah sama aku.”

Ibu tersenyum. “Tuhan nggak pernah menyerah sama kamu, Nak. Ibu cuma ikut jalan-Nya. Dan lihat sekarang, jalan-Nya lebih indah kan?”

Aku mengangguk. “Iya, Bu. Lebih indah dari yang pernah aku bayangkan.”

Setelah menutup video call, aku duduk di meja belajar. Membuka buku catatan. Di halaman pertama, aku menulis: UB adalah rencanaku. UM adalah usahaku. Tapi UMM adalah rencana Tuhan. Dan ternyata, rencana-Nya jauh lebih indah dari segalanya.

Aku menutup buku itu. Menatap keluar jendela. Langit malam Malang begitu jernih. Bintang-bintang berkelap-kelip.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku benar-benar merasakan kedamaian. Bukan karena aku sampai di tempat yang aku inginkan. Tapi karena aku akhirnya sampai di tempat di mana aku seharusnya berada.

Di tempat yang Tuhan pilihkan untukku. Dan itu, lebih dari cukup. (#)