February 25, 2026, oleh

Mahasiswa KKN UMM menggelar edukasi anti-bullying bagi siswa MI dan SD di Desa Wiyurejo guna menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan penuh sikap saling menghargai.
Tagar.co — Pagi itu, sekelompok pemuda berjaket hitam tampak sibuk menyiapkan perlengkapan di aula sekolah. Mereka adalah mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 10 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2026-2027. Di bawah bimbingan dosen Amalia Nur Adibah, S.T., M.P.W.K., para mahasiswa ini membawa misi penting: memutus rantai perundungan sejak dini.
Edukasi ini menyasar siswa kelas IV sampai VI Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Ishlah serta Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 Wiyurejo di desa tersebut, Jumat (6/2/2026). Bukan tanpa alasan. Menurut Amalia Nur Adibah, usia sekolah dasar merupakan fase krusial bagi anak-anak untuk memahami batasan interaksi sosial.
“Program ini bertujuan meningkatkan kesadaran siswa terhadap bahaya perilaku perundungan serta dampak negatifnya, baik bagi korban maupun pelaku,” terangnya.
Para mahasiswa yang bertugas menjadi pemateri bergantian menyampaikan pelajaran penting secara dinamis. Ialah Anik Trilestari, Shella Septia Putri, Muhammad Alfin Salam, Devy Fara Anggraini, Annisa Khasanah.
Mereka mengupas tuntas pengertian bullying, jenis-jenisnya, hingga tanda-tanda yang perlu siswa waspadai. Pendekatan edukatif yang komunikatif ini membuat suasana kelas jauh dari kata membosankan.
Anik Trilestari, salah satu mahasiswa KKN UMM, menyatakan tujuan timnya menyampaikan anti perundungan. “Kami ingin memastikan, setiap anak paham tindakan menyakiti teman—baik lewat kata-kata maupun fisik—adalah hal yang tidak dapat mereka benarkan,” ujarnya.
Belajar di Luar Ruang yang Bermakna
Pihak sekolah menyambut hangat inisiatif ini. Pak Diki, selaku Kepala Sekolah MI di Desa Wiyurejo, memberikan apresiasi tinggi terhadap metode yang mahasiswa gunakan. Menurutnya, menghadirkan suasana baru dalam belajar sangat efektif untuk menyerap nilai-nilai moral.
“Edukasi bullying yang diberikan kepada anak-anak MI juga termasuk pembelajaran yang pelaksanaannya di luar ruangan,” ujar Didik Santok, S.Pd dengan nada mendukung.
ia menegaskan, pihak sekolah berkomitmen penuh dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman bagi para siswa. Dukungan ini menjadi angin segar bagi para mahasiswa untuk lebih gencar menanamkan nilai karakter.
Sebagai bentuk aksi nyata, di akhir sesi, mahasiswa KKN mengajak empat siswa kelas VI MI untuk berkolaborasi. Mereka memproduksi konten edukatif kreatif yang berfokus pada jenis-jenis perundungan yang tidak boleh dilakukan, seperti perundungan verbal, fisik, maupun sosial. Melalui konten ini, para siswa belajar menjadi duta anti-perundungan bagi teman-temannya yang lain.

Nyanyian Lantang Penolak Perundungan
Keseruan berlanjut saat tim bergerak menuju SD Negeri 1 Wiyurejo. Di sini, semangat para siswa meledak sejak awal kegiatan. Mahasiswa KKN, Niken Katarina Liberti, membuka sesi dengan membawakan lagu “Stop Bullying“. Suara tepuk tangan dan nyanyian kompak dari seluruh siswa kelas IV hingga VI menggema di seluruh penjuru sekolah, menciptakan atmosfer positif yang luar biasa.
Begini liriknya:
Disini teman
Disana teman
Dimana-mana semua teman
Tak ada musuh
Tak ada lawan
Semua saling sayang dengan teman
Tidak ejek-ejekan
Tidak pukul-pukulan
Saling tolong dan sayang
Dengan teman
Tidak ejek-ejekan
Tidak pukul-pukulan
Saling tolong dan sayang
Dengan teman
Meysa Susi Nurhaliza mengungkap, video lagu ini sengaja mereka siapkan untuk menghidupkan suasana. “Kami mengambil dari TikTok, jadi ketika pelaksanaan, kami tampilkan di layar proyektor,” ujarnya.
Kemudian, suasana semakin dinamis ketika memasuki sesi diskusi interaktif. Banyak siswa berani mengangkat tangan, melontarkan pertanyaan, hingga menceritakan pengalaman sehari-hari mengenai perilaku perundungan yang mereka temui. Mahasiswa dengan sigap memberikan pemahaman dan solusi praktis untuk mencegah tindakan tersebut agar tidak berlarut-larut.
Akhirnya, sebagai aksi penutup, seluruh siswa SDN 1 Wiyurejo bersama mahasiswa KKN berkumpul untuk membuat konten video bersama. Felsa Septian Abimanyu mengajak siswa untuk serentak menyerukan aksi mengakhiri perundungan. Ini menjadi simbol janji mereka dalam menjaga keharmonisan di sekolah.
Melalui kolaborasi ini, Felsa Septian Abimanyu berharap, bibit-bibit empati tumbuh subur di hati anak-anak Desa Wiyurejo, demi masa depan yang lebih inklusif dan saling menghargai. (#)
Jurnalis Meysa Susi Nurhaliza Penyunting Sayyidah Nuriyah