May 5, 2026, oleh Humas Universitas

BERITA JEJAK FAKTA – Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M. Isnaini, menanggapi keras wacana penghapusan program studi keguruan yang dilontarkan pemerintah pada Senin (4/5/2026). Kebijakan tersebut dinilai berisiko menyederhanakan makna pendidikan dan mengancam proses pembentukan karakter bangsa.

Rencana penghapusan ini sebelumnya digulirkan oleh Sekjen Kemdiktisaintek, Prof. Badri Munir Sukoco, dengan alasan menyesuaikan lulusan dengan kebutuhan industri. Dilansir dari Bisnis.com yang berbasis di Surabaya, Isnaini menyebut wacana ini mencerminkan ketidaksiapan pemerintah dalam memetakan arah pendidikan nasional.

Menurutnya, perguruan tinggi memiliki beban strategis yang lebih besar daripada sekadar mengikuti arus pasar kerja. Ia menegaskan bahwa kampus seharusnya menjadi ruang inkubasi bagi pemikiran kritis masyarakat, bukan sekadar pemasok tenaga kerja teknis bagi industri.

“Pemerintah melalui pendidikan tinggi tidak selalu harus mengekor pada tren industri. Kampus adalah ruang inkubasi pemikiran kritis. Ketika kebijakan hanya berorientasi pada pasar kerja, fungsi intelektual tersebut akan tergerus,” ujar M. Isnaini, Ketua Prodi Pendidikan Bahasa UMM.

Isnaini menambahkan bahwa fokus pada keterampilan teknis semata akan menjauhkan filosofi pendidikan dari nilai memanusiakan manusia. Ia berpendapat jika tolok ukurnya hanya serapan kerja, keberadaan Balai Latihan Kerja (BLK) sudah cukup tanpa memerlukan perguruan tinggi.

Terkait isu kelebihan jumlah lulusan, Isnaini memandang masalah utama terletak pada distribusi dan rekrutmen tenaga pendidik yang tidak merata secara nasional. Hambatan struktural inilah yang seharusnya dibenahi pemerintah guna mengatasi ketimpangan jumlah guru antarwilayah.

Sebagai alternatif, pemerintah disarankan memperketat evaluasi kualitas dan akreditasi program studi daripada melakukan penutupan total. Langkah tersebut dinilai lebih bijak dalam menjaga ekosistem keilmuan kependidikan tanpa mengorbankan kualitas manusia Indonesia di masa depan.