April 11, 2026, oleh Humas Universitas

Adrian Mutu Hidayat, mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) (Foto: Istimewa)

Industri semikonduktor dunia menuntut presisi mutlak tanpa ruang untuk kesalahan. Di sinilah Adrian Mutu Hidayat, mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mengambil peran krusial. Melalui Formosa Talent Internship Program di National Formosa University (NFU) Taiwan, ia tidak sekadar belajar, melainkan meracik algoritma machine learning untuk memprediksi cacat produksi di salah satu sektor paling rahasia dan bernilai tinggi di dunia.

Keterlibatan Adrian di NFU, kampus yang dikenal unggul dalam kecerdasan buatan dan industri cerdas membuktikan bahwa pengalaman internasional kini bukan sekadar nilai tambah, melainkan kebutuhan esensial. Sejak Februari 2026, ia terjun langsung dalam aktivitas riset di Lean Management Laboratory, laboratorium yang berfokus pada efisiensi industri dan proses manufaktur berbasis data.

Bagi Adrian, atmosfer akademik di Taiwan memberikan kejutan tersendiri karena sangat terintegrasi dengan isu global dan kebutuhan nyata industri. “Di sini hampir semua hal berbasis riset dan data. Bahkan, isu global seperti perang atau kebijakan ekonomi internasional juga dibahas dalam konteks industri,” ungkap Adrian 10 April lalu pada Tim Humas UMM.

Yang membuat pengalaman ini semakin signifikan adalah fokus risetnya pada defect prediction (prediksi cacat produksi) guna mengoptimalkan penggunaan bahan baku semikonduktor yang bernilai tinggi. Proyek ini terhubung langsung dengan perusahaan-perusahaan besar dengan tingkat kerahasiaan tinggi, menempatkan mahasiswa sebagai kontributor dalam ekosistem riset strategis.

“Dulu saya belum sampai ke tahap ini. Sekarang saya belajar bagaimana melakukan sebuah fokus riset yang lebih spesifik,” jelasnya.

Namun, pencapaian ini tentu tidak instan. Adrian mengakui adanya tantangan besar berupa perbedaan standar akademik dan budaya riset. Ia harus beradaptasi dengan lingkungan yang menuntut ketelitian, kedisiplinan, dan pola pikir ilmiah yang jauh lebih kuat. “Integrasi internasional di sini sangat terasa. Semua topik diarahkan ke level global, dan itu yang menurut saya masih jarang saya temui sebelumnya,” ujarnya.

Di balik keberhasilannya menaklukkan tantangan tersebut, Adrian menegaskan besarnya peran kampus. Dukungan akademik dan administratif dari UMM, khususnya dari pihak program studi yang memberikan fleksibilitas konversi SKS, menjadi kunci kelancaran studinya.

“UMM sangat suportif, terutama dalam administrasi dan konversi akademik. Itu yang membuat kami bisa fokus menjalani program ini,” katanya.

Langkah berani ini kini membuka jalan yang lebih lebar bagi Adrian. Ia mendapatkan kesempatan fast track menuju jenjang magister di NFU dengan durasi studi yang lebih singkat, sekaligus mengantongi modal penting untuk bersaing di pasar kerja global.

Menutup ceritanya, Adrian memberikan pesan tegas kepada sesama mahasiswa UMM agar tidak ragu mengambil peluang internasional. “Kalau ingin merasakan dunia kerja global, program seperti ini sangat layak dicoba. Pengalamannya benar-benar berbeda dan membuka banyak peluang,” pungkasnya.

Keberhasilan Adrian menjadi refleksi nyata bahwa UMM tidak hanya mencetak lulusan yang kuat secara teori, tetapi juga siap terjun ke dalam ekosistem riset dan industri global. Di tengah ketatnya persaingan pendidikan tinggi, langkah ini mengukuhkan posisi UMM sebagai kampus yang adaptif, progresif, dan relevan dengan kebutuhan zaman.(alg/faq)

 

Penulis: Mushtafa Ahmad Al Ghifary | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman