January 21, 2026, oleh

KOMPAS – Seorang perempuan berinisial TA (25), mahasiswi salah satu perguruan tinggi negeri di Malang, Jawa Timur, ditemukan di bawah jembatan Jalan Soekarno-Hatta, Kota Malang, Senin (19/1/2026) dini hari. Dalam kondisi masih bernapas, warga Jakarta Selatan itu kemudian dibawa ke Rumah Sakit Syaiful Anwar untuk dirawat.
TA diduga berusaha mengakhiri hidup dengan melompat dari jembatan ke Sungai Brantas yang berkedalaman 12 sekitar meter di Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru, tidak jauh dari kampusnya berada.
Sebelum aksi nekat itu dilakukan, seorang pengemudi ojek daring yang tengah melintas melihat seorang perempuan mondar-mandir di sekitar jembatan pada pukul 00.30. Sejurus kemudian, dia melihat orang itu seperti melompat. Saksi kemudian melongok ke bawah jembatan dan mendapati tubuh korban ada di dasar sungai.
Kepala Polsek Lowokwaru Ajun Komisaris Anang Tri Hananta mengatakan, saat dicek kondisi korban masih hidup. Korban menderita patah tulang tangan kanan. ”Petugas dan tim medis relawan membawa korban ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut,” ujarnya, Selasa (20/1/2026).
Sejauh ini belum diketahui motif yang melatarbelakangi TA melakukan itu. Polisi telah menghubungi keluarga TA di Jakarta terkait peristiwa ini.
:quality(75):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://cdn-dam.kompas.id/photo/ori/2022/12/22/409ca3ea-fea0-4dcc-a121-0a0a8a33627b.jpg)
Bukan kali ini saja jembatan Jalan Soekarno-Hatta, atau disebut juga Jembatan Suhat, yang ada di tengah Kota Malang menjadi lokasi korban mengakhiri hidup dengan cara terjun ke sungai. Sebulan lalu, akhir November 2025, NFR (25), mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Malang, juga ditemukan tewas setelah melompat dari atas jembatan.
Sang adik yang datang ke lokasi menunjukkan pesan terakhir kakaknya yang dia terima beberapa jam sebelum peristiwa. Dalam pesannya, korban meminta maaf kepada keluarga. Dia menilai telah merepotkan keluarga karena skripsinya tidak kunjung usai.
Pada Juli 2024, seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Malang, AHM (19), mencoba bunuh diri di tempat yang sama. Peristiwa ini cukup mengejutkan karena dilakukan pagi hari, saat kondisi sekitar telah ramai. Beruntung, AHM selamat.
Lokasi lain yang juga beberapa kali menjadi lokasi tindakan nekat ialah Jembatan Tunggulmas yang berada sekitar 4 kilometer di sisi barat Jembatan Suhat. Pada April 2025, BGS (20), mahasiswa asal Jakarta Timur, ditemukan tewas di bawah jembatan yang juga membentang di atas Sungai Brantas itu. Satu bulan kemudian, seorang perempuan muda A (20) juga ditemukan tewas di kolong jembatan yang menghubungkan Kelurahan Tunggulwulung dan Tlogomas itu.
Dari beberapa peristiwa yang terjadi sebelumnya, Anang Tri Hananta mengungkapkan, ada beberapa motif yang melatarbelakangi tindakan pelaku, antara lain kuliah yang tidak kunjung rampung dan terancam drop out, gagal ujian, asmara atau putus cinta, konflik dengan orangtua, hingga jeratan pinjaman daring (pinjol).
:quality(75)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2025/11/02/9215306266b27db8b8574b6a3b37ce8d-20251027_ANU_Kesepian_KOKO3_mumed_REV.png)
Anak muda sendiri menjadi kelompok umur yang kerap menempuh jalan pintas jika menghadapi persoalan. Berdasarkan catatan Kompas, data nasional Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan bahwa prevalensi depresi paling tinggi ditemukan pada kelompok usia 15-24 tahun. Di antara anak muda yang ditemukan dengan depresi, sebanyak 61 persen memiliki pemikiran untuk mengakhiri hidup.
Fenomena bunuh diri pada usia muda tidak hanya menjadi persoalan di Indonesia. Fenomena ini menjadi masalah global. Bunuh diri telah menjadi penyebab kematian terbesar kedua penduduk usia 15-29 tahun. Sebesar 77 persen kasus bunuh diri terjadi di negara berpendapatan rendah-menengah.
Dikutip dalam laporan ”World Mental Health Today” dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang terbit pada 2025, tingkat bunuh diri antarnegara bervariasi kurang dari 1 per 100.000 penduduk sampai 30 per 100.000 penduduk. Dari setiap satu kasus bunuh diri, ada 20 upaya bunuh diri yang dilakukan (Kompas.id, 3/11/2025).
Sosiolog Universitas Muhammadiyah Malang, Luluk Dwi Kumalasari, menilai, alasan mayoritas anak muda mengambil jalan pintas karena stres atau depresi. Hal itu bisa disebabkan beberapa faktor, salah satunya beban akademis yang kian berat.
Tuntutan akademis dengan standardisasi internasional saat ini sebenarnya tidak hanya menyasar mahasiswa, tetapi juga akademisi. ”Ada perubahan kurikulum yang menuntut dosen dan mahasiswa mengikuti tuntutan kemajuan saat ini,” ucap Luluk saat dihubungi secara terpisah.
Secara umum, menurut Luluk, generasi Z yang lahir pada 1997-2012 cukup rentan akan masalah kesehatan mental. Hal itu perlu menjadi perhatian bersama.
:quality(75)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2025/10/27/bb827bf7a788f3afecc13037ddc3b78e-20251027_ANU_Kesepian_KOKO3_mumed.jpg)
Selain itu, yang juga harus dipahami bahwa kemampuan mahasiswa secara akademis tidak sama. Sementara dari sisi tuntutan terkadang tidak membedakan, semua harus berada pada tipe ideal sebagaimana yang ditentukan. Adapun di sisi lain, tuntutan dari orangtua dan keluarga akan nilai kuliah mesti bagus sebagai konsekuensi biaya besar yang mereka keluarkan.
”Tuntutan dari keluarga ini tidak dalam konteks bagaimana pertanggungjawaban ilmu yang manfaat tadi seperti apa, tetapi yang lain, sehingga menimbulkan ketakutan pada si anak jika nilainya jelek. Akhirnya mereka mulai berbohong demi menutupi nilainya,” ungkapnya.
Masalah lainnya terkait gaya hidup, tekanan sosial di lingkungan tempat tinggal, hingga lingkungan pertemanan. Tak jarang terjadi perundungan di lingkungan-lingkungan tersebut, termasuk kampus, sehingga membuat mental seseorang menjadi down. Belum lagi ditambah masalah pribadi dan trauma masa lalu.
”Jadi, banyak faktor yang memengaruhi. Dukungan emosional keluarga juga ikut andil, mungkin orangtua telah menganggap anaknya sudah besar sehingga tidak perlu dikontrol lagi. Bahkan, ada lho orangtua yang tidak tahu alamat kos anaknya lantaran jarang dikontrol, jarang komunikasi,” ujarnya.
Oleh karena itu, menurut Luluk, kampus tidak boleh hanya mengejar keberhasilan akademis, teoretis, dan praktis. Namun, nilai kemanusiaan dan kesejahteraan emosional juga penting untuk diperhatikan. Begitu pula dukungan emosional keluarga tetap diperlukan oleh anak-anak yang tinggal di luar kota (ngekos).
”Misalnya, dengan saling berbagi kabar setiap hari. Ini support system keluarga yang menenangkan. Ini jadi poin yang penting sehingga mereka punya tempat menyalurkan unek-unek karena banyak dari mereka yang merasa kesepian, tidak bisa mengungkapkan apa yang dialami dan mencari solusinya. Kepedulian sosial perlu,” tuturnya.
Disclaimer: Informasi dalam tulisan ini tidak bertujuan untuk menginspirasi siapa pun melakukan tindakan serupa. Jika Anda mengalami gejala depresi dengan kecenderungan ingin mencoba bunuh diri, segera konsultasikan masalah Anda ke penyedia layanan kesehatan mental, seperti psikolog, psikiater, dan klinik kesehatan jiwa.