January 29, 2026, oleh Humas Universitas

Mahasiswa KKN Tematik UMM Bersama mbah Karjo Gelar Selametan Wirogo. (Foto: RRI/Dwi Santoso)

RRI.CO.ID, Malang – Upaya pelestarian tradisi Jawa terus dilakukan oleh generasi muda. Pada Selasa, 28 Januari 2025, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik UMM Bersampak Kelompok 14 melaksanakan kegiatan pembuatan jenang abang dan jenang petak bersama masyarakat Kampung Budaya Polowijen (KBP). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Selametan Wirogo, sebuah tradisi selametan weton yang sarat dengan nilai spiritual, refleksi diri, dan penghormatan terhadap leluhur.

Prosesi pembuatan jenang dilakukan secara gotong royong di pawon tradisional KBP. Mulai dari persiapan bahan hingga proses memasak, mahasiswa KKN didampingi langsung oleh warga setempat agar tetap mengikuti pakem budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Jenang abang dan jenang petak tidak sekadar sajian kuliner, tetapi menjadi simbol keseimbangan hidup, kesucian niat, serta harapan akan keselamatan dan keberkahan.

Budayawan Malang, Syamsul Subakri, yang turut ngujubkan doa dalam selametan tersebut, menjelaskan bahwa selametan weton merupakan bentuk selametan wirogo, yakni doa yang ditujukan untuk keselamatan raga dan batin manusia.

“Selametan weton itu disebut selametan wirogo. Di dalamnya ada bubur merah putih sebanyak tujuh macam, terdiri dari lima bubur sengkolo dan dua bubur palang. Ini bukan sekadar makanan, tapi simbol penolak bala dan permohonan keselamatan hidup,” ujar Syamsul Subakri, Kamis (29/1/2026).

Ia menambahkan, bubur merah melambangkan unsur darah, keberanian, dan dinamika kehidupan manusia, sementara bubur putih melambangkan kesucian, niat yang bersih, serta asal mula kehidupan.

Lima bubur sengkolo dimaknai sebagai upaya manusia untuk menyingkirkan energi negatif, kesialan, dan hambatan hidup, sedangkan dua bubur palang melambangkan penyeimbang sekaligus penjaga agar manusia tetap berada di jalan yang lurus dan selaras dengan alam serta Sang Pencipta.

“Tujuh bubur itu mencerminkan tujuh lapisan kesadaran manusia. Harapannya, yang diselameti diberi kekuatan lahir batin, dijauhkan dari sengkolo, dan diberi umur yang manfaat,” imbuhnya.

Selain prosesi selametan, kegiatan ini juga diisi dengan sesi sharing budaya bersama Mbah Jo, yang juga dalang wayang suket, Mahasiswa aktif berdialog untuk menggali pemahaman mengenai dinamika budaya tradisional di tengah arus modernisasi.

Salah satu mahasiswa, Shela Putri, mempertanyakan fenomena penggunaan musik remix dalam tradisi berot dan kaitannya dengan modernisasi budaya. Diskusi ini membuka ruang refleksi tentang batas adaptasi tanpa menghilangkan ruh tradisi.

Mahasiswa lainnya, Siti Afrima, juga mengajukan pertanyaan mengenai peran wayang dalam kehidupan masyarakat masa kini. Hal ini menegaskan bahwa wayang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan moral, sejarah, dan filosofi kehidupan.

Melalui kegiatan Selametan Wirogo dan diakusi dalam acara sinau budaya ini, mahasiswa KKN  tematikUMM kelompok 14 tidak hanya belajar tentang tradisi kuliner lokal, tetapi juga memperoleh pemahaman mendalam mengenai nilai spiritual, seni, dan kearifan lokal Kampung Budaya Polowijen.

Diharapkan kegiatan ini mampu menumbuhkan kesadaran generasi muda untuk menjaga, merawat, dan menghidupkan kembali tradisi budaya agar tetap relevan di tengah perubahan zaman. (Mey)