January 26, 2026, oleh

RR.CO.ID, Malang : Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan komitmennya dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tahun 2026. Sebanyak 500 mahasiswa diterjunkan ke 15 titik lokasi KKN yang tersebar di berbagai wilayah, terdiri atas 10 KKN reguler dan 5 KKN tematik, Sabtu
(24/12026). Salah satu lokasi strategis yang menjadi lokus KKN tematik adalah Kampung Budaya Polowijen, Kota Malang.
Kehadiran mahasiswa KKN Tematik UMM di Kampung Budaya Polowijen disambut langsung oleh penggagas kampung budaya tersebut, Isa Wahyudi atau yang akrab disapa Ki Demang, bersama para pelaku seni dan budaya Kota Malang. Turut hadir dalam penerimaan tersebut sejumlah tokoh budaya, di antaranya Syamsul Subakri (Mbah Karjo) dalang Wayang Suket, Sany Repriandini Ketua Umum Perempuan Bersanggul Nusantara, Mamik Dwi Purwaningsih penyiar budaya RRI, Suli Sulaihah pelaku Upcycle Art, serta Arik Susilowaty sejarawan Malang.
Dosen pendamping KKN Kelompok 14 Kampung Budaya Polowijen, Dr. Daroe Iswatiningsih, menegaskan bahwa fokus utama pengabdian masyarakat kali ini adalah revitalisasi budaya melalui proses transformasi nilai-nilai budaya lokal dengan memanfaatkan media seni dan teknologi digital. Menurutnya, Kampung Budaya Polowijen memiliki kekayaan budaya yang sangat potensial untuk dikembangkan secara lebih luas.
“Kampung Budaya Polowijen ini kaya akan karya seni seperti topeng, tari tradisional, batik, gerabah, wayang, anyaman, pawon, dan berbagai ekspresi budaya lainnya. Kekayaan ini sangat memungkinkan untuk didigitalisasikan, sehingga proses transformasi budaya tidak berhenti di tingkat lokal, tetapi mampu menembus ruang global,” ungkap Daroe, yang juga menjabat sebagai Kepala Pusat Studi Kebudayaan UMM.
Melalui KKN Tematik ini, Kampung Budaya Polowijen menjalankan program terpadu yang tidak hanya berorientasi pada pelestarian budaya, tetapi juga pada penguatan kemandirian sosial, ekonomi, lingkungan, dan kesehatan masyarakat. Tradisi-tradisi lokal seperti Megengan, Nyadran, budaya Patrol, serta festival seni kembali diuri-uri dan dihidupkan sebagai ruang spiritual, ekspresi budaya, sekaligus sarana regenerasi pelaku seni lintas generasi.
Di sisi lain, transformasi digital menjadi bagian penting dari program pengabdian. Mahasiswa KKN terlibat dalam digitalisasi aset budaya melalui katalog berbasis barcode, penguatan publikasi media sosial, pengembangan storytelling budaya, produksi podcast, hingga penyusunan e-book sebagai arsip pengetahuan dan media edukasi digital. Upaya ini diharapkan mampu memperluas jangkauan promosi Kampung Budaya Polowijen hingga ke tingkat nasional dan global.
Penguatan ekonomi kreatif dan kepedulian lingkungan juga menjadi perhatian utama. Warga didorong untuk mengolah limbah melalui konsep upcycle yang dikemas dengan identitas Kampung Budaya Polowijen, urbam farming yang berbasis tanaman obat obatan dan jamu sehingga menghasilkan produk ramah lingkungan bernilai ekonomi. Program literasi, perbaikan infrastruktur kampung, aksi sosial kemasyarakatan, serta pendampingan Posyandu balita dan lansia turut melengkapi rangkaian kegiatan pengabdian.
Ki Demang, yang juga menjabat sebagai Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kota Malang, berharap program KKN Tematik UMM ini mampu menjadi jembatan yang kuat antara perguruan tinggi dan masyarakat. Menurutnya, kolaborasi ini penting untuk merealisasikan revitalisasi budaya lokal yang berakar pada tradisi, namun tetap adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Mahasiswa hadir bukan hanya untuk menjalankan program, tetapi menjadi mitra masyarakat dalam merawat, mengembangkan, dan mempromosikan budaya lokal. Inilah bentuk nyata pengabdian yang berdampak dan berkelanjutan,” ujar Ki Demang.
Melalui pendekatan multidimensi ini, Kampung Budaya Polowijen menegaskan posisinya sebagai ruang hidup kebudayaan yang berdaya, berkelanjutan, dan mampu beradaptasi di era digital tanpa kehilangan akar tradisi yang menjadi identitas utamanya. (Mey).