July 14, 2026, oleh

Indonesiandaily.com – Menjadi dokter berdaya saing global tidak cukup hanya menguasai keterampilan klinis. Mahasiswa kedokteran juga harus membangun jejaring profesional, memiliki mentor yang tepat, dan aktif mengembangkan karier sejak dini.
Pesan tersebut disampaikan pakar Johns Hopkins University School of Medicine, Amerika Serikat, Che Matthew Harris, MD, MS, FACP, saat menjadi pembicara dalam International Guest Lecture Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM), Rabu (8/7). Kegiatan itu diikuti ratusan mahasiswa kedokteran.
Harris menjelaskan, calon dokter perlu memahami perbedaan mendasar antara pendidik, mentor, dan sponsor. Ketiga peran tersebut memiliki fungsi berbeda dalam mendukung perjalanan karier seorang tenaga medis.
“Bimbingan, pelatihan, dan sponsor akan Anda temui sepanjang karier di bidang kedokteran,” kata Harris.
Menurutnya, seorang mahasiswa akan berperan sebagai mentee yang menerima arahan dan berbagai sumber daya untuk mencapai tujuan karier. Di sisi lain, ketika telah berpengalaman, mereka juga memiliki tanggung jawab membimbing generasi dokter berikutnya.
Mentor Berbeda dengan Pendidik
Harris menuturkan, mentor memiliki hubungan jangka panjang dengan mentee. Seorang mentor akan mendampingi perkembangan profesional sekaligus memberikan masukan yang jujur agar karier terus berkembang.
“Mentor ingin melihat pertumbuhan profesional Anda dalam jangka panjang,” ujarnya.
Sementara itu, pendidik lebih berfokus pada peningkatan keterampilan klinis tertentu dalam waktu yang relatif singkat.
“Pendidik membantu mengembangkan keterampilan klinis tertentu melalui hubungan jangka pendek,” jelasnya.
Ia menambahkan, setelah memiliki mentor, tahap berikutnya adalah memperoleh sponsor. Sponsor merupakan figur berpengaruh yang dapat membuka peluang kepemimpinan, proyek penelitian, maupun jaringan profesional yang lebih luas.
Mahasiswa Harus Proaktif Membangun Karier
Harris menegaskan, keberhasilan memperoleh mentor maupun sponsor bergantung pada inisiatif mahasiswa sendiri. Karena itu, mahasiswa diminta aktif berdiskusi, menyiapkan agenda pertemuan, dan menawarkan solusi.
“Anda berada di kursi pengemudi untuk kesuksesan Anda sendiri,” tegas Harris.
Ia juga mengingatkan agar setiap pertemuan dengan mentor memiliki tujuan yang jelas sehingga hubungan profesional dapat berkembang secara optimal.
Selain itu, Harris mendorong mahasiswa membangun budaya peer mentoring atau bimbingan antarteman. Melalui cara tersebut, mahasiswa dapat saling bertukar gagasan, menjaga motivasi, dan meningkatkan akuntabilitas dalam mencapai target akademik.
Menurutnya, keberhasilan dokter di era global tidak hanya ditentukan oleh kompetensi medis, tetapi juga kemampuan berkomunikasi, membangun relasi, dan menciptakan ekosistem kolaborasi yang kuat.
Melalui kuliah tamu internasional ini, mahasiswa FK UMM diharapkan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga proaktif membangun jejaring profesional serta mengambil kendali penuh terhadap pengembangan karier mereka sejak masa perkuliahan.