June 13, 2026, oleh

Krisis intelektual yang melanda generasi muda hari ini bukanlah soal rendahnya kapasitas kecerdasan, melainkan pudarnya keberanian untuk berpikir kritis dan melawan ketidakadilan yang terjadi di depan mata. Realitas tersebut menjadi sorotan utama Founder Social Movement Institute, Eko Prasetyo, S.H., dalam agenda Kuliah Tamu Nasional Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (13/6). Mengusung tema besar “Kaum Cendekiawan dan Krisis Moral Perlawanan”, acara bergengsi ini memantik kesadaran para mahasiswa untuk merefleksikan kembali fungsi sejati kampus sebagai rahim lahirnya intelektual pemberani yang mengoreksi realitas sosial.
Dalam pemaparannya di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1 Lantai 6 UMM, Eko menguraikan bahwa krisis moral perlawanan tidak muncul dari ruang hampa, melainkan akibat perubahan struktural di dunia pendidikan. Orientasi pendidikan yang kian pragmatis, menjamurnya budaya individualisme, serta dominasi teknologi secara perlahan menggeser marwah kampus. Lembaga pendidikan tinggi dinilai kini lebih menyerupai pabrik pencetak tenaga kerja dibandingkan ruang pembentukan karakter yang berpihak pada kebenaran, sehingga mahasiswa semakin terasing dari tradisi menyuarakan kepentingan publik.
“Kampus ini dunia yang dinamis, jangan hanya hidup monoton. Mahasiswa perlu memanfaatkan lingkungan akademik sebagai ruang berdiskusi, berorganisasi, dan menguji gagasan, bukan hanya mengejar nilai atau menyelesaikan perkuliahan. Keberanian mempertanyakan persoalan sosial merupakan fondasi utama bagi lahirnya kaum intelektual yang mampu membawa perubahan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Eko mengkritisi tajam fenomena komersialisasi pendidikan dan disrupsi informasi yang menggerus daya nalar kritis mahasiswa. Menurutnya, ketika akses pendidikan semakin mahal dan eksklusif, ruang perjumpaan lintas kelas sosial otomatis menyempit, sehingga empati bermasyarakat terkikis habis. Di sisi lain, banjir informasi akibat gawai justru sering kali melahirkan pemahaman yang dangkal karena mahasiswa mengetahui banyak isu tetapi gagal memetakan akar masalah akibat abai terhadap budaya literasi, dialog komprehensif, dan ketajaman berpikir analitis.
“Egoisme dan hasrat kekuasaan kini mengakar kuat karena terus dipelihara oleh berbagai lembaga dalam masyarakat. Kondisi ini berkontribusi terhadap melemahnya keberanian masyarakat untuk mengkritik ketidakadilan, di mana budaya kepatuhan dibuat lebih dominan daripada budaya berpikir independen. Dalam kondisi seperti itu, kampus memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga tradisi intelektual agar tetap hidup,” urai Eko dengan gamblang.
Menutup jalannya kuliah tamu nasional tersebut, terdapat pesan penting yang harus direfleksikan bersama oleh seluruh civitas academica. Krisis moral perlawanan ini hanya bisa diakhiri jika mahasiswa berani menanggalkan sikap apatis dan mulai turun langsung membedah ragam persoalan rakyat. Esensi seorang intelektual sejati sejatinya tidak pernah diukur dari tumpukan gelar akademik mentereng, melainkan dari seberapa besar nyali dan keberaniannya dalam mempertahankan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan secara nyata. Kampus harus kembali ditegakkan sebagai ruang subur bagi tumbuhnya gagasan kritis, independen, dan mutlak berpihak pada kepentingan masyarakat luas.(*vin/faq)
Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman