February 12, 2026, oleh

Portalbontang.com, Malang – Di era digital, informasi bohong (hoaks) bisa lebih mematikan daripada virus itu sendiri. Fenomena “infodemik”—ledakan informasi tidak akurat yang menyesatkan—kembali menjadi sorotan di tengah derasnya arus media sosial.
Berangkat dari kegelisahan ini, Nasrullah, M.Si., Ph.D., dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), berhasil merumuskan solusi komunikasi yang ia sebut sebagai “Strategi Pemadam Kebakaran” (Firefighter Strategy).
Riset mendalam mengenai mitigasi infodemik ini pula yang mengantarkannya meraih gelar doktor di Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), Malaysia.
Infodemik: Bahaya Laten Era Digital
Disertasi Nasrullah menyoroti bagaimana komunikasi publik pemerintah melalui media sosial (Government Social Media/GSM) berperan vital saat krisis. Ia mengambil studi kasus pada masa pandemi Covid-19, di mana banjir hoaks memicu resistensi publik terhadap program vaksinasi nasional.
“Riset saya berfokus pada resistensi publik terhadap program vaksinasi akibat hoaks. Di era media sosial, infodemik sama bahayanya dengan pandemi itu sendiri,” ujar Nasrullah kepada Tim Humas UMM, Senin (9/2/2026).
Dalam temuannya, Nasrullah mengidentifikasi lebih dari 8.000 hoaks terkait vaksin yang beredar dengan pola beragam. Mulai dari penggunaan bahasa ilmiah semu hingga narasi konspirasi yang memancing emosi dan ketakutan publik.
Polarisasi Politik Memperkeruh Situasi
Menariknya, Nasrullah menemukan bahwa polarisasi politik mempercepat penyebaran disinformasi. Perbedaan afiliasi politik membuat pesan kesehatan sering kali ditafsirkan secara partisan.
“Kala itu stigma ‘cebong’ dan ‘kampret’ masih sangat kuat. Kelompok pro dan kontra membaca isu vaksin bukan lagi sebagai isu kesehatan, tapi isu politik,” ungkapnya.
Akibatnya, komunikasi pemerintah sempat tidak optimal karena harus bertarung melawan banjir narasi tandingan yang masif di ruang digital.
Tawarkan Solusi “Firefighter”
Sebagai rekomendasi, Nasrullah merumuskan standar mitigasi komunikasi krisis bagi pemerintah yang dibagi dalam dua pendekatan: preventif dan reaktif.
Pendekatan preventif dilakukan dengan membangun ekosistem informasi positif (cultivation of positive ecosystem). Sedangkan pendekatan reaktif dijalankan melalui respons cepat layaknya pemadam kebakaran saat titik api (hoaks) muncul.
“Saya menyebutnya strategi pemadam kebakaran (firefighter strategy). Pemerintah harus punya sistem deteksi dini dan respons cepat agar hoaks tidak terlanjur dipercaya publik,” jelasnya.
Meski pandemi telah mereda, ia menilai kesiapan komunikasi digital pemerintah tetap mendesak. Gelombang disinformasi dapat muncul sewaktu-waktu pada isu kebijakan baru atau teknologi.
“Infodemik tidak pernah benar-benar selesai, bentuknya saja yang berubah. Karena itu, kesiapan komunikasi digital pemerintah harus berkelanjutan,” tegas Nasrullah.
Ia pun mendorong kolaborasi multipihak, termasuk dengan lembaga pemeriksa fakta seperti Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), untuk memperkuat literasi digital masyarakat. Sebab, keberhasilan kebijakan publik sangat ditentukan oleh kepercayaan masyarakat (public trust). ***