June 30, 2026, oleh Humas Universitas

Delegasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berfoto bersama jajaran Shimonoseki City University, Jepang, usai membahas penguatan kerja sama di bidang pendidikan, riset, pertukaran mahasiswa, dan pengembangan peluang karier internasional. (Humas UMM/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus mengukuhkan posisi tawarnya di kancah global. Pada 17–23 Juni lalu, Kampus Putih melangsungkan lawatan strategis ke Jepang, tepatnya ke Shimonoseki City University, Miyazaki University, serta salah satu mitra industri kehutanan, Nosuta Kabushi. Kunjungan ini difokuskan pada realisasi kerja sama akademik, pertukaran mahasiswa, riset tingkat lanjut, hingga ekspansi bisnis institusi.

Kehadiran delegasi UMM di Shimonoseki City University merupakan undangan kehormatan dalam rangka perayaan ulang tahun ke-70 kampus tersebut. Kunjungan ini sekaligus mematangkan kerja sama resmi yang telah dirintis selama sepuluh tahun terakhir.

Wakil Rektor IV UMM Muhamad Salis Yuniardi MPsi PhD menjelaskan bahwa kemitraan ini membuahkan hasil nyata bagi mahasiswa Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP), berupa program transfer kredit dan beasiswa pendidikan.

“Kita sudah ada slot dua belas mahasiswa yang dipersiapkan. Nanti setelah lulus mereka akan kuliah S2 di Shimonoseki dengan beasiswa dari pihak mereka,” ungkapnya.

Selain mengirimkan delegasi, UMM juga akan menerima kunjungan balasan dari pihak Shimonoseki pada September mendatang untuk pengembangan riset dan bisnis. Salis, sapaan akrabnya, menuturkan bahwa kolaborasi ini turut merambah pengembangan sektor bisnis komersial, seperti perikanan salmon serta komoditas stroberi dan kopi.

“Nanti pada September, empat orang mahasiswa bersama dua profesor, serta sekitar lima belas orang lainnya akan datang ke sini untuk bekerja sama dalam pengembangan riset, kajian, dan peluang usaha kopi di Jepang,” tambahnya.

Sebagai fasilitas penunjang, UMM dan Shimonoseki telah mendirikan Japan Corner yang dilengkapi pengajar penutur asli (native speaker) dari Jepang guna membekali kemampuan bahasa bagi mahasiswa. Ia menjelaskan bahwa fasilitas tersebut diprioritaskan bagi mahasiswa yang akan melanjutkan studi ke Jepang, meski tetap terbuka bagi mahasiswa lain.

“Nanti belajar bahasa Jepangnya di situ. Namun, Japan Corner juga terbuka bagi mahasiswa lain yang ingin belajar bahasa Jepang,” jelasnya.

Sementara itu, kunjungan ke Miyazaki University berfokus pada perluasan jejaring kerja sama. Mengingat empat dosen UMM merupakan alumni kampus tersebut, penjajakan skema riset bersama dan pertukaran pelajar menjadi lebih terarah.

Dalam rangkaian lawatan yang sama, UMM juga memperkuat hubungan dengan mitra industri kehutanan Jepang, Nosuta Kabushi. Kemitraan yang telah meluluskan program magang angkatan pertama ini akan diakselerasi melalui pembangunan Forestry Japan Training Center di kawasan Pujon Hill. Salis menerangkan bahwa pihak industri Jepang bersedia berinvestasi dalam penyediaan sarana, kurikulum, hingga tenaga ahli untuk mempersiapkan kuota magang yang lebih besar.

“Mereka akan berinvestasi dalam penyediaan tenaga ahli, kurikulum, dan perlengkapan untuk Forestry Japan Training Center di Pujon Hill, sehingga membuka peluang bagi mahasiswa kehutanan untuk berkarier di tingkat internasional,” terangnya.

Langkah UMM di Negeri Sakura ini sejalan dengan visi internasionalisasi kampus. Ke depan, rangkaian kolaborasi strategis dengan berbagai mitra di Jepang diharapkan mampu meningkatkan kualitas riset UMM agar semakin mutakhir, sekaligus mencetak lulusan yang memiliki daya saing global.

Tidak hanya menjadi sarana transfer ilmu, jejaring internasional ini juga diproyeksikan memberikan manfaat strategis bagi institusi, salah satunya melalui terbukanya peluang karier internasional bagi para alumni.