May 28, 2026, oleh

Di tengah tantangan pemulihan ekonomi dan kesenjangan sosial yang masih membayangi masyarakat saat ini, peringatan Idul Adha harus dimaknai lebih dari sekadar ritual penyembelihan hewan tahunan. Momentum ini merupakan panggilan fundamental untuk meneguhkan tauhid sekaligus membangun kepedulian sosial yang nyata guna menggerakkan kesejahteraan ekonomi umat secara komprehensif. Penegasan nilai esensial tersebut menjadi sorotan utama yang digaungkan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si.
Menurutnya keteladanan abadi yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail lahir dari totalitas pengabdian dan pengorbanan kepada Sang Pencipta. Syukur dan ketakwaan, tuturnya, hanya bisa diwujudkan secara utuh melalui integrasi antara kesalehan spiritual dan pengorbanan sosial di tengah kehidupan bermasyarakat.
“Oleh sebab itu, Idul Adha harus membentuk pribadi yang rela memberi, bukan hanya pandai memiliki; rela berbagi, bukan hanya sibuk menumpuk,” tegasnya.
Lebih jauh, ia membedah nilai kurban melalui kacamata Tauhid Rahmatiyah, sebuah perspektif di mana pengesaan Allah tidak boleh berhenti di atas sajadah atau mimbar masjid semata, melainkan harus menjelma menjadi energi sosial. Ia menjelaskan bahwa tauhid yang sejati harus memantulkan sifat kasih sayang Allah, sehingga mampu melahirkan kesejahteraan, menumbuhkan ekonomi peradaban, dan menebar kedamaian.
“Bahwa ukuran keberhasilan tauhid bukan hanya seberapa tepat rumusan akidah seseorang, tetapi apakah tauhid itu melahirkan rahmat sosial. Apakah manusia hidup lebih sejahtera,” ungkapnya.
Penguatan etika sosial ini secara praktis tercermin dari bagaimana daging kurban dikelola dan didistribusikan. Jika dikelola secara profesional dan amanah, syariat kurban akan menjadi sarana pemerataan manfaat yang efektif sekaligus memberdayakan para peternak lokal. Ia juga mengingatkan agar panitia proaktif memastikan distribusi menjangkau dua golongan. Yakni mereka yang meminta maupun mereka yang kesulitan ekonomi namun menjaga kehormatannya dengan tidak meminta-minta.
“Dengan semangat ini, kurban menjadi pelajaran bahwa setiap nikmat harus dikelola dengan benar dan dibagikan dengan adil,” tambahnya.
Semangat kerelaan berkorban dan berbagi ini tidak boleh meredup seiring berlalunya bulan Zulhijah. Ibadah kurban sejatinya adalah titik tolak yang mendidik umat Islam untuk membiasakan kejujuran, kepedulian tanpa pamrih, penguatan ekonomi halal, dan pelayanan terhadap kaum duafa secara berkelanjutan. Pesan dan gagasan penggerak kesejahteraan di atas disampaikan langsung oleh Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., saat bertindak sebagai Khatib dalam pelaksanaan Shalat Idul Adha 1447 H di halaman Masjid Akbar Moed’har Arifin, Sedayu, Gresik, pada Rabu, 27 Mei 2026.(*faq)
Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman