September 9, 2016, oleh Humas Universitas

Sejumlah mahasiswa asing UMM tampil di salah satu gelaran budaya UMM, Malam Kreasi Seni dan Budaya (Maksidaya).

MENINGKATNYA jumlah mahasiswa asing dari tahun ke tahun menuntut UMM lebih concern dalam hal pembinaan. Tahun ini saja UMM menerima 188 mahasiswa asing, meningkat signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya.  Tahun lalu, UMM menerima 86 mahasiswa asing, lalu 78 orang di tahun 2014 dan 35 orang pada 2013.

Sebagai kampus yang mendorong internasionalisasi bahasa Indonesia, UMM sejak awal mewajibkan seluruh mahasiswa asing yang belajar di UMM menguasai bahasa Indonesia dan menggunakannya dalam pergaulan sehari-hari. Melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM, kampus ini terus berupaya agar mahasiswa asing melekat dengan budaya dan bahasa Indonesia.

Bahkan, BIPA menyusun program agar mahasiswa asing nantinya dapat menjadi duta nusantara setelah mereka kembali ke negaranya masing-masing. “Di samping belajar bahasa, mahasiswa asing juga akan belajar budaya dan kehidupan sosial di UMM dan Indonesia. Tak hanya di ruang kelas, nantinya akan ada program belajar di luar kelas,” kata kepala BIPA UMM, Dr Arif Budi Wurianto MSi.

Bagi Arif Budi, pembelajaran di luar kelas dipandang perlu agar mahasiswa asing lebih memahami budaya sekaligus belajar bersosialisasi. “Puncaknya, nanti akan ada jelajah nusantara. Kami ajak mereka untuk mengetahui secara langsung budaya Indonesia, bisa ke Bali, Toraja, atau tempat lain,” tambahnya.

Bahkan ada program di mana para mahasiswa asing memerankan diri sebagai duta nusantara bagi salah satu daerah di Indonesia dan kemudian mempresentasikan budaya, wisata dan kearifan lokal daerah tersebut dengan menggunakan bahasa Indonesia. “Sepuluh tahun ke depan, setelah mereka lulus UMM bisa saja mereka jadi duta besar ataupun konsulat jenderal bagi negaranya di Indonesia,” papar Arif.

Karena itu, bagi mahasiswa asing yang memiliki keahlian khusus, seperti bernyanyi atau menari akan diarahkan agar mereka bisa menyanyikan lagu daerah atau menarikan tarian daerah. Mahasiswa UMM asal Bulgaria Georgi Panayotov misalnya, adalah seorang penari profesional yang pada akhirnya mendalami Topeng Malangan.

Termasuk pada berbagai gelaran budaya UMM, semisal Malam Ekspresi Seni dan Budaya (Maksidaya), para mahasiswa asing diberi kesempatan untuk membawakan tarian khas salah satu daerah di Indonesia. Bahkan, pada momen formal seperti wisuda pun, UMM menghadirkan nuansa Bhineka Tunggal Ika di mana mahasiswa asing terlibat dengan mengenakan pakaian adat berbagai daerah di Indonesia.

Sementara itu bagi mahasiswa asing beragama Islam, khususnya peraih beasiswa Pimpinan Pusat Muhammadiyah, mereka dididik agar siap mengembangkan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) di negaranya masing-masing. “Pembinaan akan dilakukan sebulan sekali melalui pendalaman Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) serta diskusi lintas budaya,” jelas Yasin Kusumo, staf International Relations Office (IRO) UMM. (ich/han)