January 14, 2026, oleh Humas Universitas

KREATIF: Mahasiswa BSI Modern UMM tampil dalam pentas teater untuk eksplorasi penyutradaraan, keaktoran, dan pembacaan teks drama.

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia (BSI) Modern Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar pementasan teater selama dua hari, 11–12 Januari 2026 di Lorong Masjid AR Fachruddin UMM. Pertunjukan itu merupakan luaran mata kuliah Penyutradaraan yang menampilkan dua naskah dalam dua hari berturut-turut.

Hari pertama menghadirkan “Lakon Elegi Musim Panas” karya Chandra Kudapawarna. Disusul hari kedua dengan “Orang Kasar” karya Anton Chekov saduran W.S. Rendra. Keduanya menjadi ruang eksplorasi penyutradaraan, keaktoran, dan pembacaan teks drama oleh mahasiswa.

Dr. Hari Sunaryo, M.Si., selaku pembina mata kuliah penyutradaraan menilai pementasan ini menjadi ruang belajar penting bagi mahasiswa dalam memahami tanggung jawab artistik seorang sutradara. Ia menyebut bahwa kedua naskah memiliki tantangan tersendiri yang menuntut kepekaan dan kedewasaan dalam mengolah adegan.

“Saya yang mendampingi adik-adik ini berproses sejak awal membatin bahwa naskah ini memiliki banyak jebakan, terutama pada adegan-adegan yang terlibat. Jika tidak seksama sebagai sutradara dan pelaku, ada banyak hal yang bisa masuk dalam wilayah sensor. Karena itu, penting untuk tetap mengusung nilai-nilai. Sutradara dan UMM memiliki filter yang lebih presisi,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Prodi BSI Modern UMM, Dr. M. Isnaini, M.Pd., mengapresiasi proses panjang yang dijalani mahasiswa selama produksi. Menurutnya, dinamika suka dan duka selama latihan justru memperkuat kualitas permainan aktor di atas panggung. Ia juga berharap pementasan teater mahasiswa dapat menjangkau audiens yang lebih luas melalui publikasi yang lebih masif, karena pertunjukan semacam ini sayang jika dilewatkan dan memiliki nilai penting sebagai bekal mahasiswa ketika lulus, khususnya dalam dunia kerja yang berkaitan dengan akting dan keaktoran.

“Banyak proses yang mereka jalani selama produksi, ada suka dan dukanya. Namun, mereka mampu membawakan adegan demi adegan dengan baik sehingga imajinasi penonton dibuat sulit menebak alur ceritanya. Plot twist yang dihadirkan bahkan memancing reaksi jengkel penonton, dan itu artinya para aktor berhasil menyesuaikan diri dalam mendalami setiap perannya,” tuturnya.

Melalui dua lakon dengan konflik yang kontras, pertunjukan ini menegaskan bahwa panggung teater di UMM tidak hanya menjadi ruang ekspresi seni, tetapi juga ruang pembelajaran yang membentuk kepekaan dan profesionalitas mahasiswa. Perbedaan pendekatan penyutradaraan dan keaktoran pada masing-masing lakon menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam membaca konflik serta mengolah emosi di atas panggung. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam mengembangkan kompetensi artistik dan profesional setelah lulus. (imm/udi)