February 4, 2026, oleh Humas Universitas

Mahasiswa KKN UMM Sinau Budaya di KBP
Mahasiswa KKN UMM Kelompok 14 sinau budaya di Kampung Budaya Polowijen, Malang (Foto: RRI/Mey)
RRI.CO.ID Malang – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Kelompok 14 kembali melaksanakan kegiatan Sinau Budaya pada Selasa, 3 Februari 2026, bertempat di Kampung Budaya Polowijen (KBP), Kota Malang. Kegiatan ini menjadi bagian dari proses pembelajaran kontekstual mahasiswa dalam mengenali, memahami, dan memaknai kekayaan seni serta budaya lokal yang hidup di tengah masyarakat.

Pada sesi Sinau Budaya siang hari, mahasiswa mendapatkan materi bertema “Mengenal Ragam Kerajinan Tradisional Malang” yang disampaikan oleh Sulaihah, S.Sos., S.Pd. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan berbagai jenis kerajinan tradisional khas Malang, mulai dari teknik pembuatan, bahan yang digunakan, nilai filosofis, hingga peluang pengembangan kerajinan sebagai produk ekonomi kreatif berbasis budaya.

“Ragam kerajinan tradisional di Malang sangat beragam, berakar dari budaya lokal yang kental dan keterampilan tangan pengrajin, meliputi batik, topeng, keramik, gerabah, payung kertas, wayang, kedang hingga anyaman. Dan tersebar di banyak wilayah,” jelasnya.

Sulaihah menekankan bahwa kerajinan tradisional tidak sekadar benda estetik, melainkan representasi cara pandang hidup masyarakat.

“Setiap kerajinan memiliki cerita, nilai kesabaran, ketekunan, dan filosofi hidup orang Jawa. Jika generasi muda memahami maknanya, maka pelestarian budaya tidak akan berhenti hanya pada bentuk, tetapi juga pada ruhnya,” ungkapnya.

Mahasiswa KKN UMM mendapatkan materi dari Sulaihah, S.Sos., S.Pd, terkait ragam budaya kota Malang (Foto: RRI/Mey)

Selain menyampaikan materi, Sulaihah juga membagikan kisah inspiratif perjalanan berkesenian yang telah membawanya mempromosikan dan memasarkan karya kerajinan ke berbagai negara. Pengalaman tersebut membuka wawasan mahasiswa bahwa budaya lokal memiliki potensi besar untuk bersaing di tingkat global tanpa kehilangan identitasnya.

Kegiatan Sinau Budaya ini turut didampingi oleh Mbah Jo, budayawan Kampung Budaya Polowijen, yang memperkaya diskusi dengan perspektif lokal. Ia menegaskan pentingnya proses sinau atau belajar langsung dari pelaku budaya.

“Budaya itu tidak cukup dipelajari dari buku. Harus disentuh, dipraktikkan, dan dirasakan bersama masyarakat agar nilai-nilainya benar-benar hidup,” tutur Mbah Jo.

Diskusi berlangsung interaktif. Salah satu mahasiswa KKN, Shela Putri, mengajukan pertanyaan terkait strategi pemasaran kerajinan tradisional, khususnya mengenai penentuan target pasar. Ia juga menyampaikan kesan positif terhadap kegiatan tersebut.

“Bu Sulaihah menyampaikan materi dengan sangat menyenangkan dan interaktif. Kami jadi paham bahwa kerajinan tradisional tidak hanya soal seni, tapi juga peluang ekonomi dan identitas budaya,” ujarnya.

Selain Sinau Budaya, mahasiswa KKN UMM Kelompok 14 juga memproduksi berbagai konten budaya bertema makanan tradisional. Mahasiswa mendokumentasikan proses pembuatan ketupat, lepet, dan lontong, yang dikaitkan dengan tradisi selametan kupatan. Konten ini dirancang agar dapat digunakan sebagai media edukasi budaya, khususnya menjelang momentum Hari Raya Idulfitri.

Tak hanya itu, mahasiswa juga mengangkat pembuatan jajanan tradisional seperti cenil, lemet, serta aneka jajanan pasar lainnya sebagai bagian dari upaya pelestarian kuliner tradisional yang mulai jarang dikenal generasi muda. Konten-konten tersebut diharapkan dapat menjadi arsip digital sekaligus sarana promosi budaya berbasis media kreatif.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktik pembuatan atap dari alang-alang, sebagai bentuk pembelajaran langsung mengenai teknik bangunan tradisional yang ramah lingkungan dan sarat nilai kearifan lokal.

Melalui rangkaian kegiatan ini, mahasiswa KKN UMM Kelompok 14 tidak hanya sinau budaya, tetapi juga memaknai budaya sebagai identitas, pengetahuan, dan potensi masa depan. Dengan pendekatan edukasi dan konten kreatif, mahasiswa berharap dapat turut berkontribusi dalam upaya pelestarian budaya Malang agar tetap relevan dan dikenal oleh generasi selanjutnya. (Mey)