May 8, 2026, oleh

INDOZONE.ID – Sepuluh mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), berhasil menembus program magang di perusahaan Daihatsu Kyushu.
Salah satu sosok yang menjadi sorotan adalah Nicholas Saputra, mahasiswa Teknik Mesin angkatan 2022.
Nicholas merupakan satu dari sepuluh mahasiswa yang dinyatakan lolos seleksi untuk mengikuti program peningkatan kompetensi selama satu tahun penuh, yang dimulai pada 6 Agustus 2025.
Perjalanan Panjang Menuju Jepang
Kesempatan untuk magang di Jepang tidak datang begitu saja. Nicholas dan rekan-rekannya mendapatkan informasi peluang emas melalui jalur resmi yang disediakan oleh program studi mereka di UMM.
Namun, untuk bisa berangkat ke Jepang, mereka harus melewati rangkaian ujian yang sangat kompetitif dan cukup melelahkan.
Proses seleksi mencakup berbagai aspek, mulai dari tes fisik yang memastikan kebugaran tubuh mereka tetap prima, hingga psikotes untuk mengukur kesiapan mental.
Selain itu, kemampuan akademik mereka juga dievaluasi secara mendalam, serta diwajibkan mengikuti pelatihan bahasa Jepang dasar agar komunikasi di lokasi kerja nantinya dapat berjalan dengan lancar.
Keberhasilan mereka melewati tahapan ini membuktikan bahwa mahasiswa UMM tidak hanya unggul secara teori, tetapi juga memiliki kesiapan fisik dan mental dalam menghadapi dunia kerja yang nyata.
Pengalaman di Lini Produksi
Selama berada di Jepang, sepuluh mahasiswa ini ditempatkan pada posisi-posisi strategis dalam proses pembuatan kendaraan.
Mereka terlibat langsung dalam berbagai divisi krusial, seperti divisi welding atau pengelasan yang memerlukan tingkat presisi tinggi dalam menyambung rangka mobil.
Ada pula yang ditempatkan di divisi painting untuk mempelajari teknik pelapisan anti-karat dan pewarnaan bodi kendaraan, hingga divisi assembly yang merupakan tahap akhir perakitan ribuan komponen menjadi satu unit mobil yang utuh.
Nicholas mengakui bahwa bekerja di lingkungan industri Jepang memberikan pelajaran berharga yang tidak bisa didapatkan hanya dari ruang kelas.
“Kalau kerjanya ya disiplin, tepat waktu, terus gak boleh sembarangan, benar-benar harus profesional,” ungkap Nicholas.
Menaklukkan Tantangan Budaya Kerja
Meskipun membanggakan, Nicholas mengkau bahwa ia sempat mengalami kejutan budaya atau culture shock pada awal masa kerjanya.
Ritme kerja di Jepang yang sangat cepat, padat, dan adanya kewajiban lembur hampir setiap hari sempat membuatnya merasa kaget.
Namun, sistem kerja yang transparan memberikan motivasi tersendiri, di mana setiap jam lembur diberikan kompensasi upah yang jauh lebih tinggi dibandingkan jam kerja biasa.
Selain ritme kerja, kendala bahasa dan adaptasi budaya tetap menjadi tantangan yang harus dihadapi dalam komunikasi sehari-hari di pabrik.
Namun, Nicholas memandang segala hambatan tersebut sebagai proses untuk membentuk mental yang lebih Tangguh.
“Kerja di luar negeri itu menarik, buat nyari skill baru, pengalaman baru, biar tahu rasanya kerja sama orang Jepang,” ujarnya.
Kisah sukses Nicholas dan rekan-rekannya semakin memperkuat reputasi UMM sebagai institusi pendidikan yang berhasil menghubungkan kurikulum akademik dengan kebutuhan industri dunia.
Pencapaian ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa dari daerah memiliki peluang yang sama untuk bersinar di panggung internasional, asalkan memiliki persiapan yang matang dan dukungan kampus yang kuat.