January 6, 2026, oleh

Berbekal kemampuan retorika yang tajam dan mentalitas yang kuat, Umi Khabibah membuktikan bahwa latar belakang sebagai mahasiswi Pendidikan Agama Islam (PAI) bukanlah penghalang untuk berprestasi di ranah industri kreatif. Mahasiswi angkatan 2023 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini sukses menorehkan prestasi nasional dengan meraih Juara Harapan 1 Stand Up Comedy pada ajang KMI Expo 2025. Capaian tersebut sekaligus menegaskan komitmen UMM dalam mendukung pengembangan potensi mahasiswa multitalenta di berbagai bidang, termasuk industri kreatif modern.
Prestasi yang diraih Umi menjadi bukti bahwa atmosfer akademik UMM mampu melahirkan mahasiswa yang adaptif dan relevan dengan kebutuhan zaman. Melalui dunia komedi tunggal, ia tidak hanya tampil menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan kritis dengan pendekatan komunikasi yang cerdas dan membumi. Bagi Umi, public speaking bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan amanah besar untuk menyampaikan nilai-nilai yang bermakna kepada masyarakat luas.
Menurutnya, latar belakang keilmuan PAI justru memberikan warna tersendiri dalam gaya komunikasinya. Umi menilai bahwa calon pendidik agama di era saat ini harus memiliki kemampuan berbicara yang mumpuni agar pesan dakwah dapat disampaikan secara tepat, santun, dan bertanggung jawab. Ia menekankan pentingnya penguasaan retorika bagi lulusan PAI agar ruang dakwah tidak diisi oleh pihak-pihak yang kurang kompeten secara keilmuan.
“Kalau lulusan PAI tidak mahir bicara, panggung dakwah bisa diisi oleh sosok yang keliru. Sekarang banyak yang pintar bicara, tetapi tidak memiliki kompetensi keilmuan. Kita yang dari PAI harus sadar betul pentingnya kemampuan komunikasi,” tegasnya.
Selama menempuh pendidikan di UMM, Umi aktif mengikuti berbagai kegiatan organisasi dan pengembangan diri. Ia tercatat pernah bergabung dalam UKM MTQ, aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), serta dipercaya menjadi Ambassador I’am Women Indonesia 2023. Berbagai pengalaman tersebut menjadi ruang belajar sekaligus laboratorium kepemimpinan dan komunikasi yang membentuk kepercayaan dirinya.
“Organisasi dan kegiatan di luar kelas itu tempat saya belajar paling banyak, mulai dari mengelola tim, menyampaikan gagasan, sampai memahami karakter orang yang berbeda-beda,” ungkap Umi. Ia juga memanfaatkan forum presentasi kelas sebagai sarana melatih analisis audiens dan memahami psikologi komunikasi secara lebih mendalam. “Setiap presentasi saya jadikan latihan membaca audiens, karena cara menyampaikan pesan ke dosen tentu berbeda dengan ke teman sebaya,” tambahnya.
Di bidang profesional, Umi juga menapaki dunia wirausaha sebagai CEO Speak Minds Academy, lembaga kursus komunikasi profesional dengan sepuluh kelas spesialisasi. Ia mengantongi berbagai sertifikasi nasional, seperti Certified Public Speaker (CPS), neuro linguistic programming (NLP), hingga sertifikasi penyiar TV level 3 KKNI. Selain itu, bisnis yang ia rintis, Tale Gifts and Co, berhasil lolos pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) dan dikonversi menjadi nilai mata kuliah melalui kebijakan akademik UMM.
Tak hanya fokus pada pengembangan diri dan bisnis, Umi juga mendirikan Komunitas Santri Putri Khawla Benazir sebagai wadah pemberdayaan santri putri. Berangkat dari keresahannya melihat banyak santri yang minder saat melanjutkan studi ke perguruan tinggi, komunitas ini rutin menggelar workshop untuk membangun kepercayaan diri serta menunjukkan bahwa santri memiliki potensi besar di bidang menulis dan public speaking.
Menutup kisahnya, Umi berpesan agar mahasiswa aktif membangun portofolio sejak dini dan memanfaatkan seluruh fasilitas kampus yang tersedia. Menurutnya, masa kuliah merupakan fase terbaik untuk bereksplorasi dan berani mencoba tanpa takut gagal.
“Manfaatkan sebaik mungkin apa yang bisa diberikan oleh kampus dan jangan ragu untuk terjun langsung. Selama masih mahasiswa, kita punya banyak akses, dukungan, dan kesempatan untuk belajar. Banyak peluang berharga yang hanya datang sekali dan sering kali hanya bisa diraih saat kita masih menyandang status mahasiswa,” pungkasnya.(*ali/faq)
Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman