July 10, 2026, oleh

RUANG.ID – Bagi sebagian besar mahasiswa, skripsi kerap dianggap sebagai satu-satunya gerbang perbatasan menuju gelar sarjana. Namun, Nisrina Nabila Nasywa membuktikan bahwa pengabdian nyata di tengah masyarakat jauh lebih bertenaga ketimbang tumpukan kertas laporan di rak perpustakaan. Mahasiswi Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2022 ini sukses meraih kelulusan melalui jalur ekuivalensi—sebuah skema akademik yang mengonversi prestasi nasional dan dampak sosial menjadi pengganti tugas akhir.
Langkah inovatif mahasiswi asal Makassar yang akrab disapa Riri ini bermula dari keprihatinannya terhadap isu kesehatan nasional. Melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), ia meramu beras artifisial berbahan ekstrak daun bayam merah. Bukan sekadar eksperimen laboratorium, produk pangan kaya zat besi ini langsung diuji coba untuk mengintervensi ruang hidup masyarakat yang membutuhkan gizi seimbang.
Di bawah bendera program Stunting Free Zone with Gen Z, Riri dan timnya bergerak melakukan pengentasan tengkes di Kelurahan Tlogomas. Hasilnya pun terbilang instan namun terukur.
“Alhamdulillah, program kami tidak hanya sebatas riset di atas kertas, tapi membawa dampak yang sangat luas. Dalam waktu empat bulan penerapan saja, angka stunting di wilayah tersebut berhasil menurun secara signifikan,” ungkap Riri retoris.
Dari Balita hingga Lansia: Keberlanjutan Proyek di Kota Batu
Naluri sosial Riri tak berhenti pada urusan gizi anak. Dilansir dari rilis resmi Universitas Muhammadiyah Malang, sosiomedis dan ketahanan psikologis masyarakat kembali ia sasar pada tahun berikutnya lewat proyek bertajuk “Elder-Greens: Partisipasi Gen Z dalam Degradasi Stres Lansia dengan Pendekatan Hydroponic Serenity“.
Program tersebut merancang ruang hijau berbasis hidroponik sebagai media katarsis dan terapi rekreatif bagi kaum lansia. Keberhasilan program itu melesat hingga ke tingkat nasional dan memikat Pemerintah Kota Batu untuk mengimplementasikannya secara semi-permanen di lingkungan pondok lansia setempat.
Dampak multiplikasi itulah yang menjadi alasan kuat bagi pihak universitas membebaskannya dari skripsi. Keberlanjutan proyek Elder-Greens dinilai memenuhi standar ilmiah dan aplikasi praktis sosiologi-psikologi yang melampaui bobot sebuah tugas akhir konvensional.
“Melalui keberhasilan dan keberlanjutan proyek Elder-Greens inilah, saya akhirnya mendapatkan ekuivalensi untuk lulus tanpa harus menulis skripsi. Rasanya sangat bangga bisa berkontribusi membantu menurunkan tingkat stres para lansia melalui kegiatan hidroponik,” tambahnya dengan nada haru.
Menyeimbangkan Ragam Episentrum Aktivitas
Melihat rekam jejaknya, performa akademik Riri berjalan selaras dengan kematangannya di organisasi. Di internal kampus, ia sudah menjadi reporter Humas UMM sejak semester dua, aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMFA), serta berproses di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Di sela kesibukan itu, ia bahkan sempat menyabet gelar Juara 1 pada ajang National University Debating Championship (NUDC) 2023.
Eksplorasi Riri melebar ke dunia profesional saat ia menguji ilmu psikologinya lewat program magang di salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Jakarta pada tahun 2025. Selama empat bulan, ia diterjunkan langsung di divisi pengembangan sumber daya manusia (SDM).
“Walaupun 4 bulan, tapi aku merasa banyak pengalaman yang berkesan. Di sini aku berkesempatan untuk memberi pelatihan kepada karyawan BUMN dengan psikotes training yang aku berikan,” ceritanya mengenai pengalaman tersebut.
Riri juga menjadi relawan pendidikan, mengajar anak-anak pemulung dan kaum duafa lewat metode interaktif seperti mendongeng. Melalui seluruh jalinan pengalaman itu, ia titipkan pesan penting bagi generasi muda yang masih ragu melangkah, bahwa “Kalau ada kesempatan, langsung dijalankan saja asalkan konsisten dan percaya diri. Jangan ragu-ragu, kalau ada lomba atau kegiatan yang bisa menambah pengalaman ikutin aja, karena dari situ kita akan menemukan peluang.”