January 27, 2026, oleh Humas Universitas

POJOKSATU.id – Capaian membanggakan diraih Rintan Rikawati, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKESUniversitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Riset yang ia lakukan berhasil menembus jurnal internasional bereputasi Scopus Q2, sebuah pencapaian yang terbilang langka bagi mahasiswa jenjang sarjana.

Penelitian tersebut mengangkat isu strategi coping perempuan dalam menghadapi perubahan pramenstruasi.

Topik ini kerap dianggap sepele, padahal memiliki dampak besar terhadap kesehatan fisik dan psikologis perempuan.

Berangkat dari Pengalaman Pribadi
Rintan menjelaskan, penelitiannya berfokus pada bagaimana perempuan mengelola perubahan emosi, fisik, dan psikologis menjelang menstruasi melalui berbagai mekanisme coping.

Menurutnya, respons setiap perempuan terhadap fase pramenstruasi sangat beragam dan dipengaruhi banyak faktor.

“Setiap perempuan memiliki cara yang berbeda dalam menghadapi perubahan pramenstruasi.

Ada yang lebih mudah mengelola emosinya, ada juga yang membutuhkan dukungan lebih besar dari lingkungan sekitar,” ujar Rintan, 22 Januari lalu.

Ketertarikannya pada topik ini berawal dari pengalaman pribadi yang kerap mengalami perubahan suasana hati menjelang menstruasi. Dari situ, muncul keinginan untuk memahami cara yang lebih sehat dan efektif dalam mengelola kondisi tersebut.

“Saya juga mengalami perubahan emosi menjelang menstruasi. Dari situ muncul keinginan untuk memahami apakah ada cara yang lebih sehat dan efektif untuk mengelola kondisi tersebut,” ungkapnya.

Libatkan Ratusan Responden
Penelitian berjudul “Translation and Validation of the Premenstrual Change Coping Inventory in Indonesian Version” ini melibatkan 321 responden perempuan dari berbagai latar belakang di Indonesia.

Hasil riset menunjukkan, banyak perempuan menerapkan strategi coping dengan menyibukkan diri pada aktivitas positif, seperti berkumpul dengan teman atau berbagi cerita.

Komunikasi dan dukungan sosial menjadi salah satu faktor kunci dalam menjaga kestabilan emosi menjelang menstruasi.

“Dari hasil penelitian, komunikasi dan dukungan sosial terbukti menjadi salah satu kunci utama dalam menjaga kestabilan emosi perempuan menjelang menstruasi,” jelas Rintan.

Peran Kesadaran Diri dan Lingkungan
Selain dukungan sosial, kesadaran diri terhadap kondisi tubuh juga dinilai sangat penting.

Perempuan yang memahami siklus menstruasinya cenderung lebih siap secara mental menghadapi perubahan pramenstruasi.

“Perempuan yang mengenal tubuhnya sendiri biasanya lebih cepat menyadari tanda-tanda perubahan emosi.

Mereka kemudian bisa langsung menerapkan strategi coping, seperti mengatur aktivitas atau memperbanyak istirahat,” tambahnya.

Rintan juga menemukan bahwa lingkungan memiliki peran besar dalam keberhasilan strategi coping.

Dukungan keluarga, teman, dan lingkungan kampus membuat perempuan merasa lebih aman dan nyaman. Sebaliknya, kurangnya pemahaman justru dapat memperburuk kondisi emosional.

“Lingkungan yang suportif sangat membantu perempuan untuk tidak merasa sendirian. Sebaliknya, stigma atau anggapan berlebihan justru bisa memperparah tekanan emosional,” katanya.

Dorong Edukasi Kesehatan Reproduksi
Melalui riset ini, Rintan menyoroti masih adanya kesenjangan pemahaman terkait kesehatan reproduksi perempuan di masyarakat.

Menurutnya, banyak perempuan belum menyadari bahwa perubahan emosi saat pramenstruasi merupakan kondisi alami yang perlu dikelola dengan tepat.

“Perubahan emosi menjelang menstruasi itu wajar. Yang penting adalah bagaimana perempuan memahami dan mengelolanya, bukan memendam atau mengabaikannya,” tegasnya.

Ia berharap hasil penelitiannya dapat menjadi dasar pengembangan edukasi kesehatan reproduksi yang lebih komprehensif, tidak hanya menitikberatkan aspek biologis, tetapi juga psikologis dan sosial.

Dosen Pembimbing Angkat Nilai Praktis Riset
Dosen pembimbing Rintan, Henny Dwi Susanti, MKep., Sp.Kep.Mat., PhD, menjelaskan bahwa sejak awal penelitian ini memang tidak dirancang berhenti sebagai skripsi semata.

Mahasiswa didorong untuk memahami metodologi penelitian secara mendalam dan siap menghadapi proses review internasional.

“Dengan adanya instrumen yang telah tervalidasi, perawat dapat lebih mudah mengidentifikasi pola coping perempuan terhadap perubahan pramenstruasi dan menyusun intervensi keperawatan yang lebih tepat sasaran,” jelas Henny.

Ia berharap riset ini dapat menjadi pijakan bagi pengembangan penelitian lanjutan di bidang pendidikan keperawatan dan pelayanan kesehatan reproduksi. ***