May 18, 2026, oleh Humas Universitas

Pojok Papua – Masyarakat Indonesia memperingati momentum Hari Buku Nasional pada Minggu, 17 Mei 2026 sebagai pengingat penting akan sosok pencetusnya, Abdul Malik Fadjar, di tengah tantangan krisis daya kritis akibat arus kecerdasan buatan dan banjir informasi instan.

Tokoh sentral Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang pernah menjabat sebagai rektor sekaligus Menteri Pendidikan Nasional tersebut dinilai sebagai visioner literasi yang menjadikan buku sebagai alat pembebasan berpikir dan fondasi kemajuan bangsa.

Direktur RBC A. Malik Fadjar Institute, Faizin, menjelaskan bahwa Malik Fadjar memandang persoalan bangsa bukan sekadar rendahnya minat baca, melainkan melemahnya tradisi berpikir akibat buku yang hanya dianggap pelengkap pendidikan formal.

“Bagi Pak Malik, bangsa yang tidak akrab dengan buku akan mudah kehilangan arah, gampang diprovokasi, dan lemah daya nalarnya. Karena itu, Hari Buku Nasional yang beliau gagas bukan sekadar hari peringatan, tetapi alarm kebudayaan agar bangsa kembali membangun tradisi membaca sebagai fondasi kemajuan,” ungkap Faizin, Direktur RBC A. Malik Fadjar Institute.

Menurut penjelasan Faizin, keputusan Malik Fadjar mencetuskan Hari Buku Nasional pada tahun 2002 merupakan sebuah langkah rekayasa budaya untuk membangun kesadaran nasional bahwa literasi adalah pilar utama kehidupan berbangsa, bukan sekadar langkah seremonial biasa.

“Sebagai pencetus, beliau selalu melihat buku sebagai alat pembebasan berpikir. Dalam pemikiran Prof. Malik, masyarakat yang rajin membaca akan tumbuh menjadi insan yang kritis, toleran, dan rasional,” jelas Faizin, Direktur RBC A. Malik Fadjar Institute.

Tokoh Muhammadiyah tersebut juga mewujudkan perhatian besarnya terhadap pembangunan ekosistem literasi melalui pendirian Rumah Baca Cerdas (RBC) di Kota Malang sebagai ruang hidup bagi budaya membaca dan pengembangan pemikiran masyarakat.

Kecintaan Malik Fadjar terhadap dunia literasi dibuktikan secara nyata dengan menghibahkan ribuan koleksi buku pribadinya demi menjaga semangat membaca tetap hidup di tengah masyarakat.

“Agar budaya baca tidak hilang tertelan hiruk-pikuk zaman, Prof. Malik rela memindahkan koleksi pribadinya untuk memenuhi rak-rak perpustakaan RBC,” kenang Faizin, Direktur RBC A. Malik Fadjar Institute.

Saat ini, RBC A. Malik Fadjar Institute telah berkembang menjadi laboratorium pemikiran sekaligus pusat pembentukan nalar publik melalui berbagai program seperti Ruang Gagasan, riset pendidikan, pendampingan lembaga pendidikan, hingga perpustakaan keliling Mobil Bakti Untuk Bangsa.