May 16, 2026, oleh

MAKLUMAT — Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah/2026 Masehi, masyarakat mulai mencari hewan kurban. Namun, masyarakat diimbau untuk lebih teliti dan tidak sekadar tergiur dan terpaku hanya oleh ukuran tubuh hewan yang besar atau harga yang mahal.
Dosen Program Studi (Prodi) Peternakan Fakultas Peternakan-Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang (FPP UMM), Prof Dr drh Lili Zalizar MS, menyebut bahwa kondisi kesehatan hewan menjadi faktor paling krusial agar ibadah kurban sah secara syariat, serta dagingnya aman dikonsumsi
Ia membagikan panduan dan tips bagi masyarakat untuk mendeteksi kesehatan hewan kurban melalui pengamatan fisik sederhana. Langkah pertama, kata dia, pembeli bisa mengamati postur dan cara berdiri hewan secara menyeluruh.

“Pertama kita lihat dulu (hewan) ternaknya dari depan, samping, dan belakang. Pastikan hewan bisa berdiri tegak dan tidak pincang,” ujarnya, dikutip laman resmi UMM pada Jumat (15/5/2026).
Hewan dengan cacat fisik, kata Lili, termasuk pincang, tidak diperbolehkan menjadi hewan kurban menurut syariat.
Selain postur, kejernihan mata dan kebersihan kulit juga menjadi indikator penting. Ia menegaskan bahwa hewan kurban tidak boleh buta atau mengalami gangguan penglihatan yang sering kali ditandai dengan selaput putih atau mata yang keruh.
Kulit hewan juga harus dipastikan bersih dari penyakit seperti kudis atau scabies. “Kalau untuk kurban, pilih yang kulitnya mulus dan tidak kudisan karena kita ingin mengurbankan hewan yang terbaik,” tandasnya.
Lili juga meminta masyarakat mewaspadai tanda-tanda penyakit menular berbahaya, seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta Antraks.
Ia menjelaskan, hewan ternak yang terindikasi PMK umumnya menunjukkan gejala berupa keluarnya lendir berlebihan dari mulut, adanya luka pada gusi dan lidah, hingga radang kemerahan dan luka di sela kuku kaki.
Sementara itu, hewan yang terkena Antraks biasanya mengalami kejang-kejang yang kerap disertai pendarahan dari hidung atau anus (rektum). Daging dari hewan ini sangat berbahaya jika dikonsumsi.
“Kalau ada tanda-tanda seperti itu, sebaiknya jangan dipilih untuk kurban,” tegas Lili.
Indikator kesehatan lainnya dapat dilihat dari nafsu makan hewan. Hewan yang sehat akan aktif makan dan terlihat bugar. Agar daging yang dihasilkan lebih banyak dan manfaatnya maksimal, Lili menyarankan supaya masyarakat memilih hewan yang berbadan gemuk.
Tak lupa, usia hewan juga harus dipastikan sudah memenuhi ketentuan syariat, yakni minimal berusia dua tahun untuk sapi dan satu tahun untuk kambing atau domba.
Lebih jauh, Lili mengingatkan sebuah prosedur yang sering terlewatkan, yakni masa istirahat hewan sebelum disembelih. Hewan ternak yang baru menempuh perjalanan jauh wajib diistirahatkan terlebih dahulu untuk menghindari stres.
Kelelahan pada hewan dapat memicu sindrom DFD (Dark, Firm, Dry), sebuah kondisi yang membuat kualitas daging menurun drastis karena teksturnya berubah menjadi gelap, keras, dan kering.
Dengan pemahaman tersebut, Lili berharap masyarakat dapat menjadi pembeli yang cerdas. Sebab, ibadah kurban bukan sekadar ritual atau kegiatan pemotongan hewan rutin tahunan, melainkan wujud keikhlasan yang juga mengajarkan kepedulian terhadap kualitas pangan yang dikonsumsi bersama.