March 13, 2026, oleh Humas Universitas

Perahu berlayar di perairan Selat Hormuz dari arah Khasab di Oman, Semenanjung Musandam, 25 Juni 2025.(AFP/GIUSEPPE CACACE)

kompas.com – BAGAIMANA jika, seandainya, eskalasi perang di Timur Tengah yang melibatkan Iran dengan Israel dan Amerika Serikat tidak kunjung berakhir?

Pertanyaan ini menarik untuk dijawab sebab konflik di Timur Tengah, hampir selalu memiliki resonansi global, baik karena keterlibatan kekuatan besar, jalur energi dunia, maupun simbolisme politik yang melekat pada kawasan tersebut.

Untuk menjawabnya, ada beberapa “skenario” yang kemungkinan bisa terjadi. Skenario ini penting untuk membaca arah geopolitik global sekaligus memperkirakan dampaknya terhadap sistem internasional dan negara lain, khususnya Indonesia.

Skenario pertama adalah perang terbatas tetapi berkepanjangan (prolonged limited war). Konflik tidak berkembang menjadi invasi darat skala besar, tetapi tetap berlangsung melalui serangan udara, rudal jarak jauh, operasi intelijen, dan serangan siber.

Pola seperti ini bukan hal baru dalam relasi antara Iran dan Israel karena selama lebih dari satu dekade terakhir, keduanya terlibat dalam apa yang sering disebut sebagai shadow war, mencakup serangan siber, sabotase fasilitas militer, hingga operasi rahasia terhadap ilmuwan nuklir.

Namun perang terbatas punya paradoks. Konflik yang tidak benar-benar selesai seringkali justru berlangsung lebih lama. Dalam literatur keamanan internasional, kondisi ini sering disebut sebagai war of attrition, perang pengurasan sumber daya di mana kedua pihak berusaha bertahan lebih lama daripada lawannya.

Skenario kedua adalah meluasnya konflik menjadi perang regional. Timur Tengah adalah kawasan dengan jaringan aliansi dan aktor non-negara yang sangat kompleks. Iran, misalnya, memiliki hubungan erat dengan berbagai kelompok bersenjata di kawasan, mulai dari Hizbullah di Lebanon hingga kelompok milisi di Irak dan Suriah, serta Houthi di Yaman.

Jika konflik semakin memanas, jaringan ini berpotensi membuka front baru di berbagai titik kawasan. Dalam situasi seperti ini, Israel dapat menghadapi perang multi-front sekaligus. Semakin banyak front yang terbuka, semakin besar risiko konflik berubah dari perang bilateral menjadi perang regional.

Skenario perang regional juga bisa terjadi jika serangan Iran terus menargetkan menyerang pangkalan militer AS yang ada di negara-negara Teluk, seperti Bahrain, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan lainnya. Dalam kondisi seperti itu, negara-negara Teluk mungkin akan membuka pangkalan militer untuk operasi AS lebih luas, atau ikut melakukan serangan terhadap Iran, atau membentuk koalisi pertahanan regional. Jika skenario ini terjadi, konflik dapat berubah menjadi perang Iran versus blok Arab Teluk.

Dalam jangka pendek, negara-negara Teluk juga bisa memilih strategi defensif dengan menghindari langkah yang dapat membuat mereka terlibat secara langsung. Atau, skenario lain adalah negara Teluk menekan Washington untuk menghentikan perang.

Skenario perang regional ini punya dampak tidak hanya bersifat militer tetapi juga ekonomi global. Timur Tengah merupakan pusat energi global. Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati Selat Hormuz, jalur laut sempit antara Iran dan Oman, yang menjadi salah satu titik paling strategis dalam geopolitik energi. Sehingga, gangguan terhadap jalur ini dapat dengan cepat memicu lonjakan harga minyak dunia.

Bagi negara importir energi seperti Indonesia, fluktuasi harga minyak bukan sekadar isu ekonomi global, tetapi juga persoalan domestik. Lonjakan harga minyak dapat meningkatkan tekanan terhadap subsidi energi, memicu inflasi, dan memperlebar defisit anggaran.

Lebih lanjut, dinamika terbaru menunjukkan beberapa negara Eropa, seperti Spanyol dan Inggris menegaskan sikap hati-hati dan menolak membantu AS. Di sisi lain, Rusia menyatakan kesiapan membantu Iran, meskipun sejauh ini Iran tidak menunjukkan keinginan untuk menarik dukungan militer eksternal secara terbuka.

Situasi ini membuka skenario ketiga, yakni perang dengan koalisi terbatas. Dalam konfigurasi ini, AS dan Israel menjadi aktor militer utama, sementara banyak negara lain memilih posisi lebih hati-hati dengan mendukung secara diplomatik tetapi tidak terlibat langsung dalam operasi militer.

Konfigurasi semacam ini mencerminkan perubahan lanskap geopolitik global. Sistem internasional semakin multipolar, di mana negara-negara memiliki ruang lebih besar untuk menentukan sikapnya sendiri terhadap konflik internasional. Sikap Iran yang tidak secara terbuka mengundang bantuan militer Rusia dapat dibaca sebagai strategi untuk menjaga konflik tetap terbatas. Sebab, jika konflik berubah menjadi konfrontasi langsung antara blok besar, misalnya antara AS melawan Rusia, eskalasinya akan jauh lebih sulit dikendalikan.

Maka dengan tetap mempertahankan konflik dalam kerangka regional, Iran mungkin berusaha menghindari transformasi perang menjadi krisis global.

Skenario keempat berkaitan dengan bentuk perang modern yang semakin kompleks, yakni perang multidomain. Konflik kontemporer tidak hanya berlangsung di medan tempur konvensional, tetapi juga di ruang siber, ruang informasi, dan bahkan ruang angkasa.

Serangan terhadap jaringan listrik, sistem komunikasi, atau infrastruktur finansial dapat menjadi bagian dari strategi perang tanpa harus melibatkan pasukan. Dalam beberapa konflik modern, serangan siber bahkan mampu melumpuhkan infrastruktur vital sebuah negara tanpa satu pun tembakan dilepaskan.

Jika eskalasi Iran versus Israel-AS bergerak ke arah ini, dampaknya bisa melampaui kawasan Timur Tengah dan mengganggu jaringan ekonomi global.

Skenario kelima juga bisa terjadi, yaitu de-eskalasi melalui diplomasi. Sejarah menunjukkan bahwa banyak konflik Timur Tengah akhirnya berhenti bukan karena kemenangan militer mutlak, tetapi karena tekanan politik dan diplomatik internasional.

Dalam sistem internasional yang semakin multipolar, banyak aktor yang memiliki kapasitas untuk memainkan peran sebagai mediator. Sekalipun Iran sudah menyatakan tidak akan membuka ruang negosiasi dan akan melakukan pembalasan atas kematian Ayatullah Ali Khamenei dan sejumlah pimpinan tinggi militer, skenario diplomasi tetap diharapkan.

Pada akhirnya, menakar skenario perang di Timur Tengah bukan sekadar soal memprediksi siapa yang akan menang atau kalah, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana konflik ini akan membentuk ulang lanskap keamanan global.

Jika konflik tetap terbatas, dunia mungkin akan menyaksikan fase baru perang antara Iran dan Israel yang berlangsung dalam intensitas tinggi. Jika meluas menjadi perang regional, stabilitas Timur Tengah dan ekonomi global akan menghadapi guncangan serius. Tetapi jika diplomasi berhasil menahan eskalasi, krisis ini justru dapat menjadi momentum bagi upaya membangun mekanisme keamanan kawasan yang lebih stabil.