November 1, 2025, oleh Humas Universitas

Malang, Tugumalang.id – Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek) Republik Indonesia, Brian Yuliarto, mendorong konsep Kampus Berdampak melalui penguatan riset dan inovasi yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Hal tersebut ia sampaikan saat menjadi pembicara pada Forum Penguatan Kampus Berdampak bagi Dosen, yang digelar di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (31/10/2025). Forum ini menjadi ruang refleksi dan inspirasi bagi para dosen untuk memperkuat peran mereka sebagai penggerak riset, inovasi, dan kontribusi sosial yang berkelanjutan.

Brian menekankan bahwa penguatan peran dosen sangat penting dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang adaptif, kreatif, dan berorientasi pada perubahan masyarakat. Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan simbolis karya inovasi dari dosen dan mahasiswa UMM sebagai bukti nyata semangat inovatif sivitas akademika.

Beragam karya yang telah berhasil dihilirisasi, maupun yang masih dalam tahap pengembangan, kini terus dikembangkan melalui Direktorat Saintek UMM. Inisiatif ini menunjukkan komitmen UMM sebagai kampus yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga berdampak langsung bagi masyarakat dan dunia industri.

Atasi “Jurang Kematian Inovasi”

Dalam paparannya, Brian menyoroti tantangan utama pendidikan tinggi, yakni lemahnya hubungan antara hasil riset perguruan tinggi dan kebutuhan industri. Menurutnya, banyak hasil penelitian yang hanya berhenti di jurnal ilmiah tanpa implementasi nyata di lapangan.

Fenomena tersebut disebutnya sebagai “valley of death” atau jurang kematian inovasi — kondisi di mana ide dan penelitian berhenti di tengah jalan karena kurangnya kolaborasi antara kampus dan dunia usaha.

“Indonesia punya begitu banyak penelitian potensial, tetapi terlalu sedikit yang benar-benar dimanfaatkan. Jika universitas tidak hadir di tengah industri, hasil riset hanya akan menjadi tumpukan laporan. Kampus harus turun tangan agar inovasi bisa hidup dan digunakan masyarakat,” tegas Brian.

Ia menambahkan, permasalahan ini bukan hanya akibat minimnya jejaring dengan industri, tetapi juga karena belum terbentuknya ekosistem riset berkelanjutan. Banyak riset berhenti setelah pendanaan selesai, tanpa ada mekanisme lanjutan untuk mengembangkan produk, kebijakan, atau teknologi aplikatif.

Perlu Dukungan Kelembagaan dan Kolaborasi

Mendiktisaintek menekankan pentingnya dukungan kelembagaan yang kuat agar riset dosen dapat terhubung dengan mitra eksternal seperti pemerintah maupun sektor swasta. Universitas, kata dia, perlu memiliki unit khusus penghubung riset dengan industri, mencakup regulasi, perlindungan hak kekayaan intelektual, hingga pendanaan lanjutan.

“Penelitian seharusnya tidak berhenti di ruang akademik, tapi menjadi solusi konkret atas persoalan bangsa,” ujarnya. Ia juga menilai bahwa peran dosen menjadi kunci utama dalam menghidupkan ekosistem riset dan inovasi tersebut.

Brian memuji UMM yang dinilai memiliki potensi besar menjadi contoh universitas berdampak. “Kultur kolaboratif dan tradisi pengabdian di UMM bisa menjadi modal penting untuk membangun sistem inovasi berkelanjutan,” tambahnya.

Jika dikelola dengan baik, lanjutnya, UMM dapat menjadi model kampus yang unggul secara akademik sekaligus produktif dalam menghasilkan inovasi berdampak bagi masyarakat dan industri.

UMM Siap Wujudkan Kampus Berdampak

Sementara itu, Wakil Mendiktisaintek, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., menilai UMM telah membangun fondasi kuat sebagai universitas yang tidak hanya berorientasi akademik, tetapi juga memiliki dampak sosial dan ekonomi. Menurutnya, penguatan peran dosen menjadi kunci menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

“Dosen harus berani keluar dari zona nyaman dan menjadikan ilmu pengetahuan sebagai alat perubahan sosial,” ujarnya.

Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan bahwa forum ini menjadi momentum penting bagi sivitas akademika untuk memperkuat komitmen sebagai kampus berdampak.

“Konsep Kampus Berdampak bukan sekadar slogan, melainkan cita-cita bersama yang harus diwujudkan melalui kerja kolektif, pengabdian, dan inovasi berkelanjutan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, UMM telah mengambil langkah strategis dengan mendirikan Direktorat Saintek UMM sebagai wadah hilirisasi hasil riset dosen dan mahasiswa.

“Kita ingin UMM dikenal bukan hanya karena kualitas akademiknya, tetapi karena kebermanfaatannya bagi masyarakat. Setiap dosen adalah agen perubahan. Mari perkuat kolaborasi lintas bidang dan kembangkan riset yang memiliki nilai aplikatif,” tutupnya.